Pembangunan gedung baru milik SDN Tanah Kalikedinding I bukan jadi halangan bagi puluhan kader lingkungan untuk mengembangkan program lingkungan di sekolahnya.  Aksi nyata pengolahan sampah organik dengan menggunakan keranjang komposter terus digalakkan setiap harinya. Sampah organik diperolah dari sisa makanan yang ada di kantin sekolah. Informasi tersebut didapati Tunas Hijau saat melakukan pembinaan dan pemantauan program Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya, Senin (23/10).

Setiap selesai istirahat dan pulang sekolah, kader lingkungan yang memiliki tampilan khas dengan rompi hijau ini mendatangi setiap petugas kantin sekolah untuk meminta sampah organiknya. Disampaikan oleh oleh Janny Mudjianto, guru pembina lingkungan, mulai pekan pertama hingga pekan kelima ini mereka masih fokus mengolah tiga buah keranjang komposter. “Kalau nanti tiga keranjang komposter akan siap panen dan berhasil, anak-anak akan saya ajak untuk mengaktifkan tiga keranjang sisanya,” ujarnya.

Kader lingkungan SDN Tanah Kalikedinding I mengolah sampah organik yang dihasilkan di sekolah dengan salah satu alat pengomposan yakni tong komposter dalam program Surabaya Eco School 2017

Pengolahan sampah organik dengan tong komposter juga terus dikembangkan setiap harinya. Salah satu cara pengelolaan pengomposan dengan sistem sirkulasi udara ini adalah mengajak siswa kader lingkungan yang terdiri mulai kelas 3, 4 dan 5 ini mengumpulkan sampah organik dedaunan di sekitar sekolah sebagai isiannya. “Setiap satu minggu sekali, mereka juga saya ajak untuk melakukan aksi grebek pasar. Ternyata, kegiatan itu jadi salah satu kegiatan penyemangat dan yang dinantikan mereka. Sampah organik sisa sayuran itu diolah ke dalam dua tong komposter,” imbuh Janny.

Tanaman Lie Kwan yu yang menjadi ikon tanaman menjalar sekolah yang terletak di daerah Jalan Kalilom Lor Indah No 1 – 3 ini terus dibudidayakan. Tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai tirai alami ini banyak dicari oleh sekolah-sekolah sebagai tanaman pengganti sirih-sirihan. “Anak-anak saya ajak untuk melakukan pembibitan tanaman yang mempunyai ciri khas memerlukan banyak air untuk perawatannya agar cepat tumbuh. Setelah mencapai umur satu bulan, bibit tanaman lie kwan yu siap untuk dipromosikan dijual ke sekolah-sekolah,” ungkap guru yang baru menyelesaikan pendidikan jenjang S2.

Disinggung mengenai rencana realisasi tantangan pekan kelima program lingkungan yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya ini, guru yang aktif dalam pramuka ini berencana untuk mengajak anak-anak melakukan aksi bersih-bersih dengan warga kampung sekitar. “Saya ajak anak-anak untuk melakukan aksi kerja bakti membersihkan kampung warga sekitar. Besok akan saya koordinasikan dengan pihak kampung terkait dengan waktu pelaksanannya,” terang Janny Mudjianto.

Menurut Laylin, salah seorang siswa kelas 5, salah satu kampung sekitar memang rawan banjir saat hujan datang. Dirinya berencana untuk mengajak anak-anak kader dan guru-guru sekolahnya membuat lubang resapan biopori disana. “Pak, bagaimana kalau tidak hanya sekedar bersih-bersih tetapi juga membuat biopori disana,” pinta Laylin. Rencana kegiatan terdekat, Sabtu besok, mereka akan melakukan grebek pasar untuk memenuhi dua tong komposter. (ryn)

Keterangan Foto : Kader lingkungan SDN Tanah Kalikedinding I foto bersama dengan bibit tanaman lie kwan yu hasil pembibitan sendiri sebagai salah satu program lingkungan yang dijalankan pada Surabaya Eco School 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *