Sebanyak 5 tong komposter dan 2 keranjang komposter milik SDN Manukan Kulon Kawasan terlihat kosong. Menurut penuturan Bayu Aji, salah seorang siswa yang juga kader lingkungan alat pengomposan itu sudah satu bulan belum diisi oleh sampah organik. Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan pemantauan program Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya, Jumat (20/10).

Tersendatnya program pengomposan di sekolah yang berlokasi di Jalan Manukan Rejo 2A dikarenakan tidak adanya  tim atau kelompok yang mau berkelanjutan dalam mengolah sampah organik di sekolahnya. “Sudah sebulan ini tong komposter dan keranjang pengomposan tidak diolah atau tidak diisi dengan sampah organik. Kami kesusahanmencari anak-anak yang mau berkelanjutan mengisi tongnya dengan sampah organik. Jadinya ya terbengkalai begitu,” ucap Tri Wahyuningsih, guru pembina lingkungan.

Permasalahan tersebut membuat Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau menantang mereka untuk memenuhi kelima keranjang komposter tersebut dengan sampah organik dan mengaktifkan kembali dua keranjang komposter sebagai realisasi tantangan pekan kelima dalam satu hari. “Saya kasih kalian tantangan untuk memenuhi 5 tong komposter dengan sampah dedaunan paling lambat sampai besok, bagaimana sanggup?” tanya Anggriyan.

Tantangan aktivis lingkungan yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi ini dijawab langsung oleh Bayu Aji, perwakilan kader lingkungan yang menjadi peserta pembinaan. Dirinya menyanggupi tantangan tersebut dengan berencana mengajak siswa di kelas dan kader lingkungan lainnya untuk grebek pasar mengumpulkan sampah organik dari pasar. “Kami berani kak, besok saya akan ajak anak-anak untuk mengumpulkan sampah organik sayur-sayuran di pasar tradisional dekat sekolah. Setelah itu saya ajak mereka untuk mengolahnya juga ke dalam tong komposter dan keranjang,” ucapnya.

Kader Lingkungan SDN Kandangan I melakukan perawatan tanaman TOGA dan lidah buaya yang sebelumnya ditanam di polibag memanfaatkan lahan kososng sekolah realisasi tantangan pekan 4 SES 2017

Disisi lain, permasalahan yang sama juga dihadapi oleh SDN Kandangan I, sekolah adiwiyata mandiri yang hingga pekan keempat masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan terkait program Surabaya Eco School 2017. Setali tiga uang dengan SDN Manukan Kulon Kawasan, sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Kandangan 28 – 30 ini kondisi keranjang komposter yang dibiarkan menjadi pajangan, tidak terawat atau tidak diolah.

Kondisi tersebut terlihat dari sudah lapuknya kardus yang difungsikan sebagai wadah atau temat pengomposannya. Destya Rosita Sari, siswa kelas 6 yang juga kader lingkungan menyebutkan permasalahan mandeknya pengomposan mereka adalah tidak adanya pembimbing yang mendampingi mereka saat akan mengompos. “Bapak ibu guru yang jadi pembina lingkungan sekarang ini sedang sibuk-sibuknya kak. Makanya beberapa kali tantangan mingguan Surabaya Eco School 2017 hanya tantangan pekan pertama saja yang sudah,” ucap Destya.

Menanggapi realisasi tantangan pekan keempat, Runner Up III Puteri Lingkungan Hidup 2017 ini menjelaskan bahwa warga sekolah melalui kader lingkungan sudah melakukan kegiatan penambahan jumlah tanaman lidah buaya di sebelah green house. “Saya mengajak anak-anak kelas 3, 4 dan 5 kak untuk memperbanyak tanaman lidah buaya dan TOGA seperti jahe dengan menggunakan media polybag bekas,” terang Destya. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Linkungan SDN Manukan Kulon Kawasan mendapat tantangan untuk memenuhi alat pengomposan yang ada di sekolah dalam waktu satu hari sebagai realisasi tantangan pekan 4 SES 2017.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *