SDN Manukan Kulon II menjadi satu dari banyaknya sekolah-sekolah satu atap yang dimerger menjadi satu sekolah.  Permasalahan lingkungan menjadi hal pertama yang disampaikan oleh Dwi Ana Tyas Susanti, guru pembina lingkungan kepada Tunas Hijau saat melakukan pembinaan dan pemantauan program Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya, Jumat (20/10). Pasca merger, dirinya mengatakan perlu memberikan pemahaman orientasi peduli lingkungan kepada siswa dan guru-guru baru.

“Saya rasa perlu adanya workshop yang dikhususkan untuk guru-guru  baru agar program lingkungan yang sebelumnya pernah dilakukan di SDN Manukan Kulon III bisa diterima dan dapat dilaksanakan secara menyeluruh mas,” ucap Santi. Guru kelas 3 ini mengatakan hingga pekan keempat ini, dirinya baru membentuk tim lingkungan dan langsung mencoba merealisasikan tantangan setiap pekannya dalam program lingkungan tahunan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya.

Salah satu tantangan mingguan yang direalisasikan adalah tantangan pekan kedua tentang ajakan melakukan gerakan massal pengurangan sampah plastik kemasan. Menurut Santi, tim lingkungan hidup langsung bergerak cepat untuk mensosialisasikan ajakan membawa tempat makan dan botol minum sendiri secara berkala. “Gerakan massal ini melibatkan seluruh warga sekolah dengan membuat kreasi huruf MK 2 yang merupakan inisal sekolah mereka. Gerakan ini saat ini masih dilakukan setiap seminggu sekali, tetapi kami usahakan kedepan dilakukan tiap hari,” terangnya.

Sementara itu, Elok Wahyu Dewiningtyas, salah seorang guru pembina lingkungan lainnya mengatakan gerakan massal membawa botol dan tempat makan ini dilakukan setiap jumat melalui sarapan bersama. Tidak hanya itu, realisasi tantangan mingguan lainnya adalah melakukan pengolahan sampah organik yang notabene merupakan tantangan pekan keempat. “Sebelum mengolah sampah organik, anak-anak saya ajak untuk memanen kompos yang ada di dalam keranjang komposter dulu,” ujar Elok.

Tujuannya agar kompos hasil panen bisa digunakan untuk kegiatan menambah tanaman di area sekolah, sedangkan hasil yang kasar bisa dijadikan starter pengomposan. Setelah memanen kompos yang ada di dalam keranjang, kader lingkungan yang didominasi kelas 5 ini langsung bergerak menuju ke kantin dan pedagang di depan sekolah untuk mengumpulkan sampah sisa makanan agar bisa diolah jadi kompos.

Rencana kedepan, mereka ingin menggelar workshop berkala untuk guru-guru dan siswa tentang pentingnya peduli lingkungan, wawasan sekolah adiwiyata dan tentunya program Surabaya Eco School 2017. “Kami berencana senin pekan depan mengundang Tunas Hijau untuk memberikan workshop kepada guru-guru tentang program Surabaya Eco School 2017 dan mengajak mereka untuk bersama-sama menjadikan sekolah berbudaya dan peduli lingkungan,” ucap Santi. (ryn)

Keterangan Foto : Warga SDN Manukan Kulon II menggelar aksi sarapan bersama setiap Jumat pagi dengan menggunakan tempat makan dan botol minum sendiri sebagai upaya pengurangan sampah plastik kemasan sekali pakai pada program SES 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *