Alunan musik dari barang bekas dan suara lantang tim penyanyi SMPN 20 yang sedang menggelar latihan yel-yel lingkungan menjadi pembuka pembinaan lingkungan di sekolahnya, Rabu (18/10). Sebanyak 90 orang siswa dan beberapa orang guru terlihat serius tetapi sesekali bercanda untuk mencairkan suasana latihan saat itu. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau mengajak mereka untuk melakukan realisasi tantangan pekan keempat Surabaya Eco School 2017 setelah selesai Lathan yel-yel di ruang aula.

Pada realisasi tantangan pekan keempat ini, tim lingkungan sekolah yang berlokasi di daerah Dukuh Kapasan ini mengaktifkan kembali 5 keranjang komposter yang sebelumnya hanya dijadikan tempat penyimpanan di depan ruang guru. Disampaikan oleh Kartini, guru pembina lingkungan bahwa mereka sebenarnya memiliki belasan keranjang komposter. Namun hanya beberapa saja yang akan dijalankan kembali. “Saya ingin agar anak-anak paham dan bisa cara mengolah sampah organik sisa makanan menggunakan keranjang komposter ini,” terang Kartini.

Rencananya, setelah 8 keranjang komposter ini dikelola hingga berhasil dipanen, dirinya akan mengajak kader lingkungan untuk mengaktifkan semua keranjang komposter yang ada di sekolah. “Kalau sudah berhasil hingga panen, saya akan ajak mereka untuk menjalankan semua. Setelah itu saya akan distribusikan keranjang komposter tersebut untuk dikelola oleh warga sekolah. Setiap dua kelas akan kami berikan tanggung jawab mengolah satu keranjang,” ujar guru yang mempunyai semangat tinggi.

Tim lingkungan yang akrab disapa Tim Lingkungan Semprong alias tim lingkungan SMPN 20 ini juga menjalankan pengomposan dengan media tong komposter. Anggriyan Permana menyampaikan bahwa dibandingkan pengomposan keranjang, pengomposan dengan media tong lebih mudah perawatannya. “Kalau tong komposter ini, kalian hanya perlu mengisinya dengan sampah organik dedaunan ataupun sayur mayur yang ada di pasar hingga penuh. Kemudian setiap satu minggu sekali dicek, kalau isinya menyusut tinggal diisi lagi,” ujar Anggriyan.

Soleh Solevan, salah seorang kader lingkungan mengatakan dirinya bersama tim pengomposan sudah terlebih dahulu mengadopsi tiga keranjang komposter untuk disosialisasikan kepada petugas kantin. Setiap selesai jam istirahat, mereka mengambil sampah sisa makanan yang sudah dikumpulkan oleh petugas kantin untuk diolah. “Kami sudah memulainya kak waktu ada tantangan pekan ketiga, jadi ya kami optimis, keranjang komposter kami bisa jadi contoh untuk anak-anak yang baru melakukan pengomposan,” ucap Soleh, siswa kelas 8 sambil tertawa.

Rencana kedepan, mereka akan melakukan penambahan tong komposter baru untuk ditempatkan pada area sekolah yang berpotensi menghasilkan banyak sampah daun. Salah satu lokasinya berada di dekat green house. “Ada beberapa program lingkungan yang akan dijalankan setiap minggunya yakni setiap rabu anak-anak diwajibkan membawa tempat makan dan botol minum sendiri untuk mengurangi pemakaian plastik kemasan. Program lainnya adalah pengumpulan sampah khusus kertas dan pengomposan keranjang,” ucap Afif, siswa koordinator  sampah anorganik. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Lingkungan SMPN 20 latihan gerakan dan musik untuk lomba yel-yel Zero Waste Surabaya Eco School 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *