Kebijakan sekolah yang pro lingkungan memang menjadi kunci dari berjalan atau tidaknya program lingkungan yang sudah direncanakan. Polemik mengenai kebijakan ini dirasakan langsung oleh tim lingkungan hidup SDIT Al Uswah. Munculnya minimarket yang menjual banyak makanan berbungkus plastik, seperti snack dan botol air mineral mempunyai dampak positif dan negatifnya. Positifnya adalah mereka bisa mengumpulkan botol-botol kemasan.

Disampaikan oleh Ita Nurviana, guru pembina lingkungan sekolah dengan tim yang akrab disapa DULING alias Duta Lingkungan, salah satu kegiatan yang terus berkelanjutan adalah pengumpulan sampah botol kemasan dari minimarket. “Memang sih dampak positifnya ada, tetapi kalau melihat dari rekam jejak program lingkungan sekolah yang dulunya mencanangkan bebas sampah plastik. Kami jadi tidak bisa membendung masuknya kemasan plastik,” ujar Ita.

Menariknya, program pengurangan plastik kemasan terus digalakkan oleh tim lingkungan hidup mulai kelas 1 hingga kelas 6. Setiap siswa dihimbau untuk membawa piring dan botol minum sendiri. Menurut Ita, yang juga wali kelas 1, program pengurangan plastik kemasan ini menjadi program selanjutnya yang masih istiqomah dijalankan. “Di dalam kelas, terdapat satu meja yang khusus digunakan sebagai tempat menyimpan piring dan botol minum mereka. Susahnya itu melarang anak-anak untuk jajan di minimarket dan itu pasti menghasilkan sampah,” jelas Ita Nurviana.

Sementara itu, realisasi tantangan pekan keempat tentang pengomposan, sebanyak 5 keranjang komposter milik sekolah yang berlokasi di daerah Kejawan Gebang ini perlu pembenahan fisik. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan untuk mengganti kardus yang usang dan lapuk dengan kardus baru ataupun karpet. “Kalau melihat kondisi pengomposan kalian sebenarnya itu masih belum optimal, kelihatan kalau jarang diisi, tapi untuk yang pertama ganti kardus saja dulu. Karena kardus kalian sudah lapuk, hal ini membuat banyak hewan dari luar masuk ke dalam,” ujarnya.

Abdullah Azzam, salah seorang duta lingkungan mengatakan dirinya bersama teman-teman berencana untuk mengaktifkan lagi pengomposan keranjang. “Saran kak riyan untuk mengganti kardus akan saya lakukan dulu, setelah itu baru saya ajak anak-anak untuk sosialisasi ke kelas-kelas agar mereka mengumpulkan sampah sisa makanannya setelah makan siang. Sebagai awalan, saya dan teman-teman akan keliling mengambil sisa makanan yang sudah dikumpulkan di kelas-kelas untuk kemudian diolah menjadi kompos,” pungkas Azzam, runner up II Pangeran Lingkungan Hidup 2017.

Bukan hanya memulai lagi pengomposan keranjang, duta lingkungan juga berencana untuk mengaktifkan lagi tong komposter dan menjalankan realisasi tantangan pekan empat yang lain yakni mempersiapkan toilet yang bersih dan nyaman. Salah satu rencananya adalah menambahkan tanaman yang harum untuk menyerap bau dari kamar mandi. “Anak-anak juga berencana untuk membuat himbauan menghemat air dan listrik agar bisa ditempel di area kamar mandi,” jelas Azzam. (ryn)

Keterangan Foto : Duta Lingkungan SDIT Al Uswah bersama dengan siswa kelas 1 dan 2 mengkampanyekan gerakan pengurangan sampah plastik kemasan dengan membawa piring dan botol minum sendiri pada program SES 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *