Zero Waste atau dalam artian bebas sampah yang menjadi tema program lingkungan Surabaya Eco School 2017 dimaknai secara bertahap oleh SDN Airlangga I. Pemaknaan tersebut melalui gerakan berkala pengurangan plastik kemasan di sekolah. Gerakan pengurangan tersebut dilakukan dengan meminta siswa kelas 1 sampai kelas 4 membawa botol minum dan tempat makan sendiri. Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan pemantauan perkembangan program lingkungan sekolahnya, Selasa (17/10).

Disampaikan oleh Shanti Sri Rejeki, guru pembina lingkungan, pergantian kepala sekolah menjadi salah satu faktor merebaknya lagi plastik kemasan di kantin sekolah. “Dulu waktu masih bersama Bu Agnes, petugas kantin dilarang menjual dengan menggunakan plastik kemasan, mereka harus menyediakan gelas dan piring sendiri. Kalau tidak mereka tidak diperbolehkan jualan di kantin, tetapi setelah adanya pergantian kepala sekolah yang baru, petugas kantin kembali menggunakan plastik kemasan dan sedotan,” ujar Shanti.

Kelemahan tersebut menjadi kesempatan bagi Tunas Hijau untuk memberikan tantangan bagi sekolah yang letaknya bersebelahan dengan kelurahan Gubeng. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau memberikan tantangan kepada tim lingkungan hidup agar menjadikan gerakan membawa tempat makan dan minum sendiri sebagai gerakan massal melibatkan seluruh warga sekolah termasuk guru-gurunya. “Saya beri waktu satu minggu untuk mensosialisasikan gerakan bawa botol dan tempat makan sendiri kepada warga sekolah, satu minggu lagi saya kembali ke sekolah, lalu kita lihat hasilnya,” ujarnya.

Rifky Dio, salah seorang siswa kelas 6 yang juga ketua kader lingkungan, menanggapi tantangan yang diberikan dengan menyampaikan bahwa dirinya sudah mengajak teman-teman di kelasnya untuk membawa botol dan tempat makan sendiri. “Baik kak, akan kami mulai sosialisasi untuk gerakan itu besok. Karena anak-anak kelas 5 yang susah untuk diajak kerja sama. Tetapi, hal itu bukan jadi masalah karena mereka hanya perlu diberikan contoh dan diberi reward atau hadiah,” ucap Dio.

Runner Up III Pangeran Lingkungan Hidup ini menyampaikan untuk realisasi tantangan pekan keempat, dirinya bersama teman-teman kesulitan menjalankannya. Hal ini disebabkan letak tong komposter yang lama sudah susah untuk diakses, karena di dalam taman sekolah. Praktis, mereka hanya mengumpulkan daun dan mengisinya sebisa mungkin.  “Karena akses masuknya sulit kak, jadi kami hanya sebisanya mengisi tong komposter yang lama, sehingga dedaunan yang sudah terkumpul langsung dimasukkan ke beberapa lubang biopori yang masih aktif. Sementara tong komposter barunya minggu ini baru akan dijalankan,” ujar Rifky.

Keinginan tim lingkungan hidup untuk memiliki keranjang komposter yang bisa digunakan untuk mengolah sampah organik sisa makanan disampaikan langsung di hadapan kepala sekolah baru. Matra, kepala SDN Airlangga I mendukung rencana penambahan alat pengomposan baru tersebut. “Saya pasti dukung program lingkungan yang ada di sekolah, melalui tangan-tangan guru saya ini. Memang sebagai kepala sekolah baru, saya belum turun langsung mencari permasalahan lingkungannya. Tetapi saya sudah merencanakan untuk mengajak petugas kantin, penjaga sekolah hingga guru-guru rapat untuk membahas program lingkungan kedepannya,” terang Matra. (ryn)

Keterangan Foto : Gerakan Zero Waste SDN Airlangga I diawali dengan dimulainya aksi pengurangan smapah plastik kemasan dengan membawa tempat makan dan botol minum sendiri sebagai realisasi tantangan mingguan SES 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *