4 ton kompos target yang dicanangkan oleh kader lingkungan SMPN 11 bukan hal mudah untuk direalisasikan. Alasannya, 4000 kg kompos yang rencananya akan dipanen berarti sebanyak 8000 kg sampah organik yang harus diolah dalam durasi kurang lebih 10 minggu. Informasi tersebut disampaikan oleh Rizaldy, ketua kader lingkungan kepada Tunas Hijau saat pembinaan dan pemantauan program Surabaya Eco School 2017, Kamis (12/10).

Target tersebut langsung dijalankan mulai pekan pertama hingga pekan ketiga dengan focus pada pengolahan sampah organik. Caranya, melalui Tim lingkungan hidup sekolah, setiap kelas dijadwalkan secara bergantian setiap harinya membawa sampah organik dari rumah untuk diolah di rumah kompos. Hal itu disampaikan langsung oleh Suminah, guru pembina lingkungan, bahwa untuk mencapai target mereka mengajak seluruh warga sekolah berpartisipasi dalam program pengomposan.

“Jadi setiap hari, anak-anak secara bergantian bertugas untuk membawa sampah organik dari rumah untuk dikomposkan di sekolah. Biasanya bergantian saat jam istirahat kedua dan setelah pulang sekolah. Aksi tersebutpun masih harus disertai dengan gerakan grebek pasar,” terang Suminah. Hasilnya, hingga pekan ketiga, total sampah organik yang sedang diolah sebanyak 2000 kg. Sampah organik tersebut diolah dengan memanfaatkan belasan keranjang komposter dan tong aerob.

Merealisasikan tantangan pekan ketiga, kader lingkungan langsung sigap mengajak petugas kantin sekolah. Mereka mensosialisasikan cara pengolahan sampah organik dengan menggunakan keranjang komposter. Rizaldy yang merupakan siswa kelas 8 mengatakan selama satu minggu merealisasikan tantangan pekan ketiga, petugas kantin sekolah diminta untuk mengumpulkan sampah organik yang dihasilkan pada satu tempat, kemudian setelah jam istirahat sampahnya diambil oleh anak kader.

Sementara itu, program lingkungan lain yang menunjukkan perkembangan dari tahun sebelumnya dari sekolah jawara Surabaya Eco School tahun lalu adalah green house. Salah satu program green house adalah penambahan tanaman. Menariknya, penambahan tanaman ini merupakan hasil dari penjualan sampah kertas realisasi tantangan pekan pertama. “Saat realisasi pekan pertama, kami berhasil menjual kertas dan mendapat uang sebesar 700 ribu rupiah lalu ditambah dengan uang bank sampah sebesar 300 ribu untuk dibelikan tanaman baru,” terang Suminah.

Rencana kedepan, tim lingkungan hidup akan mengembangkan setiap program lingkungan yang sudah dijalankan menjadi sebuah media edukasi lingkungan. Seperti saran yang disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau. “Secara pengelolaan program lingkungan kalian sudah luar biasa, tetapi kalau orang awam atau tamu dari sekolah lain berkunjung belajar tentang pengomposan, pasti kesan pertama melihat rumah kompos kalian adalah kumuh. Jadi saran saya perlu penataan dan adanya media komunikasi yang menjelaskan prosesnya dengan ukuran yang besar,” terang Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau memberikan saran kepada kader lingkungan SMPN 11 tentang pengembangan program pengomposan di sekolah dengan cara penataan media pengomposan dan membuat media komunikasi pada program SES 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *