Dua orang penjaga kantin tampak serius mendengarkan penjelasan mengenai cara pembuatan kompos yang disampaikan oleh Alfisah Salsabila, salah seorang kader lingkungan SDN Ujung IX. Dengan menggunakan keranjang komposter yang baru saja selesai dibuat, mereka berencana untuk merealisasikan tantangan pekan ketiga program Surabaya Eco School 2017. Informasi tersebut diterima oleh Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan pemantauan program di sekolahnya, Kamis (12/10).

“Ibu-ibu, keranjang komposter ini nanti akan kami tempatkan di dekat kantin untuk mengolah sampah sisa makanan yang ada di kantin. Caranya, waktu ibu-ibu beres-beres piring yang ada di meja, setelah itu sisa makanannya langsung dimasukkan ke dalam keranjang ini kemudian dikubur atau ditutup dengan kompos starternya,” terang Salsabila, siswa kelas 5 yang juga merupakan finalis Puteri Lingkungan Hidup 2017.

Sosisalisasi mengenai pengolahan sampah organik dengan menggunakan keranjang komposter ini mendapat respon positif dari beberapa pihak. Siti Julaika, salah seorang petugas kantin, mengatakan dirinya mendukung adanya upaya pengomposan karena bertujuan untuk edukasi kepada anak-anak. “Ya kalau saya, yang penting tujuannya baik untuk sekolah, saya juga tidak direpotkan dengan adanya kegiatan anak-anak ya pastinya saya bantu,” ucap Siti kepada Anggriyan, aktivis Tunas Hijau.

Sementara itu, adanya sosialisasi ini mampu menyedot perhatian guru-guru baru yang mendapat tugas tambahan sebagai pembina program pengomposan. Titik Handayani, guru pembina lingkungan baru sekolah jawara Surabaya Eco School 2016 ini mengatakan momen sosialisasi ini juga menjadi pembelajaran bagi guru-guru baru yang mendapat tanggung jawab baru. “Ya saya minta mereka untuk belajar kepada Tunas Hijau bagaimana prosesnya mengolah sisa makanan atau sampah organik menjadi kompos. Agar saat terdapat kendala atau pertanyaan dari siswa, guru tersebut bisa mengatasinya,” terang Titik.

Tidak hanya penjaga kantin sekolah, Hoirul, atau Irul sapaan akrab dari penjaga sekolah juga menjadi target sosialisasi mengenai pengomposan di sekolah. Penjaga sekolah ini akan diminta untuk bertanggung jawab membantu siswa dan kader lingkungan hidup mengolah sampah organik, khususnya dedaunan yang banyak di lingkungan sekolah. “Kalau ibu kantin kami berikan tanggung jawab untuk membantu siswa dengan keranjang komposter dan penjaga sekolah dengan tong komposter,” ungkap guru berperawakan kurus tinggi.

Rencana kedepan, kader lingkungan sekolah yang berlokasi di daerah Sawah Pulo ini akan menggalakkan pemilahan sampah yang adai di depan kelas lebih baik dengan membuat dua tempat sampah terpilah yakni plastik dan kertas. “Selain pemilahan sampah, minggu-minggu ini kami akan mengaktikfkan kembali beberapa keranjang komposter yang sebelumnya sudah dipanen semuanya. “Saran kami, lakukan hal yang sederhana tapi dengan kekuatan yang besar. Kalau pengomposannya ya jauhkan dari adanya plastik kemasan. Kalau ada plastiknya ya susah untuk sisa makanan itu terurai,” ucap Anggriyan. (ryn)

Keterangan Foto : Kader lingkungan hidup SDN Ujung IX yang biasa disebut Arjulan Squad bersama dengan Hoirul, penjaga sekolah mengolah sampah organik dengan menggunakan tong komposter, merealisasikan tantangan pekan III SES 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *