Sebanyak 77 orang siswa kelas 1 dan 2 SDK St Aloysius Surabaya belajar mengenal lingkungan hidup bersama Tunas Hijau – Eco Mobile PJB di Taman Flora Bratang, Kamis (12/10/2017).

Pada pembelajaran ini, anak-anak diajak belajar pentingnya pepohonan. Caranya dengan merasakan langsung manfaatnya. Mereka diminta membandingkan kenyamanan berada di bawah pepohonan besar di taman tersebut dengan tepi jalan raya yang banyak kendaraan bermotornya.

“Tentunya berada di bawah pepohonan lebih nyaman bila dibandingkan dengan berada di pinggir jalan raya yang banyak kendaraan bermotornya,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino. Sebab, berada di bawah pepohonan berarti banyak oksigen yang dihasilkan pepohonan dibandingkan dengan berada di tepi jalan raya.

Siswa SDK St Aloysius Surabaya saat berada di tepi jalan raya membandingkan kenyamanannya dengan di dalam taman

Selain belajar pentingnya pepohonan, mereka juga belajar cara mengolah sampah. Pada pembelajaran ini mereka diajak mengunjungi Rumah Kompos Bratang dan tempat penampungan sampah sementara Bratang.

“Bau, Kak. Ada belatungnya juga,” teriak salah satu siswa ketika berjalan mendekati rumah kompos. Tunas Hijau menjelaskan bahwa bau itu disebabkan oleh banyaknya sampah organik yang diolah menjadi kompos secara terbuka di tempat itu.

“Bau ini akan lebih sangat terasa bila sampah-sampah organik ini tercampur dengan sampah non organik yang tidak diolah dengan baik,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Selanjutnya, di tempat penampungan sampah sementara, mereka melihat beragam jenis sampah non organik yang sengaja dikumpulkan oleh para pengepul untuk selanjutnya dijual sebagai upaya mendaur ulangnya secara industri.

Tunas Hijau menjelaskan cara memindahkan bibit tanaman ke polibag yang lebih besar sebelum para siswa melakukannya

Kegiatan pembelajaran pagi itu ditutup dengan aksi pembibitan tanaman. Masing-masing siswa diminta memindahkan bibit tanaman cabe dari ukuran polibag kecil ke polibag ukuran yang lebih besar. Mereka selanjutnya membawa tanaman cabe itu pulang ke rumah untuk dirawat.

Ningsih, guru SDK St Aloysius Surabaya yang mendampingi pembelajaran itu menjelaskan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa mengenalkan mereka lingkungan hidup yang baik. “Mereka juga diminta merawat bibit tanaman cabe yang telah mereka pindahkan ke ukuran polibag lebih besar itu,” terang Ningsih. (ron)

Keterangan foto utama: Siswa SDK St Aloysius Surabaya saat belajar pengolahan sampah organik di Rumah Kompos Bratang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *