Tantangan pekan ketiga langsung direalisasikan oleh Tim Kehidupan sebutan lain kader lingkungan SMPN 28, Rabu (11/10). Pasca istirahat pertama selesai, kader lingkungan langsung tancap gas menuju ke kantin sekolah. Dengan membawa dua buah keranjang komposter, satu persatu stan yang dijaga oleh petugas kantin mendapatkan sosialisasi tentang pengolahan sampah organik sisa makanan dengan menggunakan media keranjang.

Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat menggelar pembinaan dan pemantauan perkembangan program lingkungan dalam menghadapi Surabaya Eco School. Rajae, salah seorang siswa kelas 8, mengatakan saat memberikan sosialisasi mengenai cara mengolah sampah organik sisa makanan menjadi kompos dengan keranjang ternyata tidak semudah saat sosialisasi di hadapan teman-temannya.

“Rasanya pertama kali mengajak petugas kantin untuk bersama-sama mengolah sampah organik sisa makanan itu grogi kak. Saya takut salah menjelaskan langkah-langkahnya kepada ibu-ibu ini. Jadi saya harus sampai dua kali mengulang cara-cara pengomposan dengan menggunakan keranjang agar mereka bisa mengerti,” terang Rajae, yang juga ketua kader lingkungan. Prakteknya, beberapa ibu-ibu penjual makanan di kantin terlihat masih kaku dan salah saat mengolah sisa makanan dengan keranjang secara mandiri.

Kejadian tersebut langsung direspon oleh kader lingkungan melalui rencana pendampingan setiap tiga orang siswa kader mendampingi satu orang penjual makanan di kantin. Hal tersebut disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau kepada mereka seusai sosialisasi. “Kalau memang kali pertama buat mereka mengolah sisa makanan jadi kompos salah itu wajar, makanya kalian harus mendampingi mereka hingga bisa mandiri, setelah itu biarkan program pengomposan sisa makanan di kantin dijalankan mereka, kalian hanya mendampingi dan mengawasi saja,” saran Anggriyan.

Di sisi lain, media komunikasi berbentuk mading sudah dipersiapkan oleh beberapa orang kader lain yang tidak mendapat tugas sosialisasi pengomposan ke kantin. Mengambil tema kurangi penggunaan plastik kemasan sekali pakai, mading lingkungan berukuran 50 x 80 cm ini berisi informasi mengenai bahaya penggunaan plastik sekali pakai, kegiatan-kegiatan lingkungan yang sudah dilakukan oleh tim kehidupan dan rencana kedepannya. “Kami ingin semua warga sekolah tahu dan mau membaca informasi penting terkait lingkungan ini biar mereka juga makin peduli,” ucap Jelita, siswa kelas 7B. (ryn)

Keterangan Foto : Tim Kehidupan alias kader lingkungan SMPN 28 melakukan sosialisasi pengolahan sampah organik menggunakan mdia keranjang komposter dan mading lingkungan kepada ibu-ibu penjual di kantin sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *