Pasca workshop Surabaya Eco School 2017, kinerja tim Lingkungan Hidup SMP Negeri 16 tersendat-sendat. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi mengenai teknis kegiatan yang bisa dilakukan setelah workshop. Pelaporan kegiatan melalui media sosial disampaikan oleh mereka sebagai kendala menghadapi tahunan yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya.

Siti Farida, guru pembina lingkungan, mengatakan, setelah workshop yang diselenggarakan di SMPN 11, praktis masih belum menggelar sosialisasi kepada warga sekolah terkait rencana program Surabaya Eco School ala SMPN 46. “Kami memang belum membuat workshop internal kepada anak-anak. Tetapi, kalau kegiatan lingkungan yang masih berjalan adalah pemilahan sampah,” ucap Siti Farida.

Disinggung terkait dengan realisasi tantangan setiap minggunya, Nektar Jawadwipa, salah seorang siswa kader lingkungan, menyatakan hingga pekan ketiga ini mereka belum sekalipun mengirimkan laporan kegiatan dua pekan kemarin. “Selama dua pekan kemarin memang kami belum melaporkan kegiatan melalui media sosial instagram, tetapi selama ini kami sudah melakukan aksi grebek pasar, pembuatan biopori dan pengomposan dengan keranjang komposter,” ujar Nektar.

Kendala yang dirasakan oleh mereka langsung direspon dengan saran oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau. Menurut aktivis jurusan ilmu komunikasi ini, kendala utama mereka adalah kurang adanya kemauan untuk memulai langkah menjalankan kegiatan lingkungan. “Kalian punya sarana fasilitas lingkungan yang lengkap, kader lingkungan yang banyak tetapi kenapa minim kegiatan lingkungan. Salah satunya ya karena tidak ada yang mau mulai,” ujar Anggriyan.

Mengejar ketertinggalan realisasi tantangan setiap pekannya, mereka berencana untuk merealisasikan tantangan pekan ketiga dengan mensosialisasikan cara pengolahan sampah organik menggunakan keranjang komposter kepada petugas kantin sekolah. “Rencananya kak, hari ini anak-anak akan mensosialisasikan ke petugas kantin sekolah tentang cara pengolahan sampah organik sisa makanan dengan keranjang. Baru besok jumatnya, mengajak mereka langsung praktek mengolah sisa makanan di kantin,” terang Nektar.

Sementara itu, respon yang diberikan petugas kantin kepada kader lingkungan sangat positif. Sri Fatonah, salah satu petugas kantin menyarankan kepada anak-anak kader bahwa setiap kali istirahat siang, anak-anak harus ada piket untuk mengambil sisa makanan ke kantin kepada petugas kantin sekolah. “Kalau kami yang harus memasukkan sisa makanannya lalu mengolah sisa makanan ya keberatan karena kami harus jualan, kami mau kalau anak-anak sendiri yang mengalah untuk ambil setiap harinya,” ucap petugas kantin paruh baya ini. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Lingkungan Hidup SMPN 16 mensosialisasikan cara pengolahan sampah organik sisa makanan kepada petugas kantin sebagai langkah awal memulai Surabaya Eco School 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *