Kondisi geografis SMPN 46 yang berada diantara bangunan beton menjulang tinggi seperti Gedung TVRI Jawa Timur dan Shangrila Hotel, membuat area sekolah minim dengan tanah. Sebagian besar lingkungan sekolah terdiri dari beton. Kondisi ini yang mendasari Tri Maryati, guru pembina lingkungan sekolah mengajak siswanya fokus pada penanganan sampah di kelas-kelas. Informasi tersebut didapat Tunas Hijau saat melakukan pembinaan dan pemantauan perkembangan program lingkungan di sekolahnya, Selasa (10/10).

Praktis selama pekan pertama hingga pekan ketiga, aktivitas lingkungan yang dilakukan oleh kader lingkungan sekolah yang dulunya berlokasi di Bintang Diponggo adalah pembiasaan. Menurut guru yang hobi bernyanyi ini, pembiasaan memilah sampah memang benar-benar diterapkannya sejak dini dengan melibatkan anak-anak kader sebanyak 28 orang sebagai pionernya. “Setiap selesai istirahat, anak-anak untuk melakukan aksi sejenak memungut sampah,” ujar Tri.

Menindaklanjuti aksi SEMUT disiang hari, saat pulang sekolah kader lingkungan hidup sebagai pioner di masing-masing kelas mengajak teman-temannya untuk melakukan pemilahan sampah. Saat pemilahan sampah sepulang sekolah, berbagai respon diberikan oleh kader lingkungan setelah aksi pemilahan sampah. Salah satunya Nadine Christie, kader lingkungan kelas 8 ini mengaku selama ini hanya pemilahan sampah botol dan kertas saja.

“Kalau penjualannya ya tidak sampai 100 ribu kak, soalnya yang paling banyak dikumpulkan adalah sampah botol plastik. Sedangkan kalau sampah kertasnya tidak semua dijual, sisanya ada yang dijadikan hasil karya,” ucap Nadine. Menariknya, khusus di area kantin sekolah, tim lingkungan hidup menempatkan beberapa wadah khusus untuk gelas dan piring yang berasal dari petugas kantin. Tujuannya untuk mengurangi penggunaan plastik bungkus makanan dan terlihat rapi di kantin tidak berantakan.

Siswa SMPN 19 serentak membawa tas kain yang digunakan sebagai wadah sampah yang mereka hasilkan selama berada di sekolah sebagai salah satu gerakan massal merealisasikan tantangan pekan kedua SES 2017

Sementara itu, berbeda dengan yang sudah dilakukan oleh kader lingkungan SMPN 19 dalam menghadapi jalannya Surabaya Eco School 2017. Sekolah yang terletak di daerah Arif Rachman Hakim ini memulai gebrakan dengan gerakan membawa tas sampah sendiri. Disampaikan oleh Dian Rahmawati, guru pembina lingkungan, sekolah sudah tidak menyediakan tempat sampah lagi di depan kelas-kelas.

“Sebagai konsekuensinya adalah setiap siswa diwajibkan membawa tas kain sebagai ganti tempat sampah. Jadi mereka harus membuang sampah yang dihasilkannya di sekolah di tas kain yang sudah dibawa,” jelas Dian. Konsekuensi lainnya bagi siswa yang tidak membawa kain untuk tempat sampahnya sendiri adalah sampahnya harus disimpan dan dibawa pulang sendiri,” terang Dian, guru yang pernah menjadi guru pembina terbaik.

Gerakan ini terbukti mampu mengurangi penggunaan plastik kemasan sekali pakai, karena siswa-siswa yang sebelumnya terbiasa mengkonsumsi air mineral dalam botol beralih membawa botol minum sendiri. Perubahan tersebut disampaikan oleh Cleo, salah seorang kader lingkungan kelas 8 yang mengatakan teman-teman di kelasnya sudah mulai terbiasa membawa botol minum dan tempat makan sendiri.

Gebrakan tidak cukup hanya dengan tas kain sebagai wadah sampah, banyaknya media pengomposan yang dimiliki membuat mereka kerap mengolah sampah organik yang ada di sekitar lingkungannya. Cleo yang juga bertanggung jawab pada pengolahan sampah organik sejak pekan lalu sudah mengajak anak-anak untuk mengumpulkan sampah daun yang ada di depan sekolah. “Saya sudah mengajak anak-anak untuk mengompos dengan tong komposter, besok rencananya mau ajak petugas kantin untuk mengolah sampah sisa makanan di kantin,” terang Cleo. (ryn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *