Gerakan pengurangan sampah non organik, khususnya kemasan makanan dan minuman sekali pakai, digaungkan oleh sekolah-sekolah Surabaya Eco School 2017. Gerakan ini sebagai realisasi challenge/tantangan/tema pekan kedua (2-8 Oktober 2017) gerakan dan lomba sekolah peduli lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya.

SDN Bulak Rukem II Surabaya, misalnya. Sekolah yang baru sekitar 3 pekan dikepalai oleh Sujilah ini langsung tancap gas menggelar gerakan membawa bekal makanan dan minuman dengan kemasan yang bisa digunakan berulang kali.

“Kami mengawali gerakan pengurangan sampah non organik dengan sarapan bersama seluruh warga sekolah Jumat (6/10/2017),” kata Sujilah. Bekal makanan dan minumannya dibawa sendiri dari rumah dengan wadah yang bisa digunakan berulang kali.

SMPN 41 Surabaya merealisasi challenge pekan kedua dengan Gerakan Bebas Tempat Sampah. Gerakan di sekolah, yang dikepalai oleh Hanifa ini, diresmikan pada Kamis (5/10/2017).

“Gerakan Bebas Tempat Sampah ini seluruh warga sekolah, yaitu siswa, guru, karyawan dan kepala sekolah tanpa kecuali komitmen membawa bekal sendiri dari rumah dengan wadah yang bisa digunakan berulang kali,” kata Hanifa. Diharapkan sudah tidak ada lagi sampah non organik yang akan dihasilkan warga sekolah untuk dibuang ke tempat sampah di sekolah ini.

Sementara itu, Surabaya Eco School 2017, yang mengangkat tema Zero Waste, pekan ini (9-15 Oktober 2017) memasuki pekan ketiga. Challenge pekan ketiga ini adalah pengolahan sampah organik dan sampah non organik dengan melibatkan petugas kantin dan penjaga sekolah.

Dijelaskan oleh Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino bahwa pengolahan sampah yang dimaksud adalah yang diawali dengan upaya pengurangan jumlah produksi sampah. “Pengolahan harus dimulai dengan upaya pengurangan, seperti halnya 3R yang berarti Reduce kurangi), Reuse atau gunakan kembali, dan Recycle atau daur ulang,” terang Bram Azzaino. (ron)

6 thoughts on “Challenge Pekan III (9-15 Oktober) Surabaya Eco School 2017

  1. Jika semua pembiasaan dimulai dari diri sendiri maka secara umum program yang dicanangkan akan berhasil dengan gemilang. Begitu pun dengan program dan pembiasaan pengurangan sampah nonorganik khususnya kemasan sekali pakai. Baik di sekolah, di rumah, maupun di mana pun kita berada, jika menerapkan zero waste maka dampaknya akan dapat kita rasakan secara global. Mari kita selamatkan bumi dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai.

  2. Bismillahirrohmanirrochim
    SES 2017 ini merupakan kegiatan Perdana untuk SDN Bulak Rukem 2, Saya sebagai kepala sekolah sangat optimis bahwa kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar.Hal ini ditunjukkan oleh kekompakan dan antosias warga sekolah .Guru,karyawan,murid bahkan Aba Muslimin selaku Komite sekolah ikut mendukungnya. Mudah mudahan SES 2017 dengan tema Zero waste makin sukses.

  3. Pasti bisa… Apapun pekerjaanasal ada niat sungguh sungguh merubah menjadi lebih baik Akan terwujud. Tantangan luar biasa bergerumbul dengan sampah. Pemilahan sampah organik dan nonorganik membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, peluh, bekerja tanpa pamrih wujud kesadaran pentingnya kebersihan lingkungan sehingga kata zero waste bukan slogan saja tetapi dapat diaplikasikan dengan baik membawa berkah rahmatan lil alamin. SPENXI akan menjawab tantangan challege minggu ke III dengan aksi bukan janji.

  4. Alhamdulillah anak sudah terbiasa dengan membawa bekal dan minuman yang di kemas di tepak dan botol.Mengikuti lomba di SMA 12 pun kebiasaan ini juga dipakai.Alhamdulillah juara 3.Barokahlloh fiik Tunas Hijau atas ilmunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *