Tantangan pekan pertama program Surabaya Eco School 2017 berhasil direalisasikan oleh sekolah-sekolah peserta dengan luar biasa. Mulai dari gerakan pengumpulan massal sampah kertas hingga penyediaan tempat sampah khusus kertas dan absensi kelas khusus untuk penyetoran sampah kertas. Memasuki pekan kedua gelaran program tahunan yang sudah memasuki usia ke 7 ini, tantangannya adalah berkaitan dengan media serta masih harus melibatkan warga sekolah.

Dalam program lingkungan hidup yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya ini, tantangan pekan kedua ini dimulai dari tanggal 02 – 08 Oktober 2017. Tantangannya adalah membuat media sosialisasi lingkungan hidup promosi mengenai program lingkungan yang akan dijalankan di sekolah dengan menggunakan media-media seperti teks radio sekolah, poster, mading sekolah dan media yang lainnya.

Disampaikan oleh Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, tujuan dari pembuatan media promosi adalah untuk mensosialisasikan kepada warga sekolah terkait beragam program lingkungan yang sudah direncanakan tim lingkungan. “Targetnya adalah setelah sosialisasi ini, warga sekolah dapat mendukung dan berpartisipasi dalam setiap rencana program lingkungan. Maka dari itu, penting bagi tim lingkungan untuk menyertakan target dan timeline atau waktu realisasinya,” ucap Bram.

Tidak cukup hanya dengan satu, tantangan lainnya pada pekan kedua ini adalah membuat gerakan massal atau gerakan lingkungan yang melibatkan banyak orang untuk melakukan pengurangan sampah non organik yang ada di sekolah. Satuman, aktivis senior Tunas Hijau, menjelaskan bahwa tujuan dari gerakan massal lingkungan hidup adalah mereduksi volume sampah non organik seperti plastik kemasan yan banyak ditemui di kantin-kantin sekolah.

“Karena ini adalah gerakan massal, jadi bukan hanya tim lingkungan saja yang menjalankan nantinya, tetapi seluruh warga sekolah baik siswa, guru, karyawan bahkan penjaga sekolah dan kepala sekolah. Jadi, saya himbau sekolah-sekolah agar memanfaatkan celah dari tantangan kedua ini,” ucap Satuman.

Satuman memberikan contoh gerakan massal yang sederhana bisa dilakukan oleh mereka untuk pengurangan sampah adalah membawa bekal dengan tempat makan dan botol minum sendiri. “Kalau satu orang mau berkelanjutan membawa tempat makan dan botol sendiri, maka volume sampah nonorganik di sekolah pasti berkurang,” ujar Satuman. Contoh gerakan massal lainnya adalah makan bersama dengan menggunakan tempat makan dan botol minum sendiri.

Cara lain adalah diet camilan, membawa tas belanja ramah lingkungan sendiri. Bram Azzaino menambahkan alasan adanya contoh program diet camilan. “Ya sebisa mungkin anak-anak dilarang untuk jajan camilan yang tidak sehat dan tidak ramah lingkungan. Camilan adalah makanan kesukaan anak-anak, semakin banyak dan sering mereka jajan, maka sampah yang dihasilkan juga makin banyak, jadi mau tidak mau ya harus diet atau dibatasi,” jelas lulusan ITS Teknik Lingkungan.

Sekolah-sekolah diharapkan bersiap untuk merealisasikan tantangan pekan kedua, Satuman menyarankan agar setiap kegiatan lingkungan di sekolah tercatat dengan baik serta menyertakan target. “Kalau untuk segi photografinya, saya sarankan untuk ambil dokumentasi yang memperlihatkan jumlah dan obyek kegiatannya. Setelah itu kirimkan ke media sosial instagram Tunas Hijau sebagai bentuk pelaporan kegiatan di Tunas Hijau,” jelas Satuman. (ryn)

Keterangan Foto : Tantangan pekan kedua Surabaya Eco School 2017 adalah membuat media sosialisasi promo tentang program lingkungan yang sudah dibuat bersama=sama menggunakan media berupa poster, mading sekolah maupun radio sekolah. Tantangan lainnya aldah membuat gerakan massal pengurangan sampah non organik adalah dengan membawa tempat makan dan botol minum sendiri

8 thoughts on “Tantangan Pekan II SES 2017 : Buat Media Sosialisasi, Gerakan Massal Pengurangan Sampah Nonorganik

  1. Si Cilung Spenforty SMPN 40, Insya Allah siap beraksi merealisasikan tantangan pekan 2 dengan penuh semangat. Mendukung berarti beraksi nyata, jangan hanya bicara.

  2. Masalah sampah non organik khususnya sampah plastik merupakan masalah utama di banyak sekolah, hanya dengan komitmen dan partisipasi semua pihak di sekolah masalah sampah plastik ini bisa ditangani. Bismillah, semoga tantangan pekan 2 ini bisa menjadi jalan keluar penyelesaian masalah sampah plastik di sekolah kami.

  3. SMPN 11 Surabaya siap realisasikan Challenge Minggu ke 2. Semangat semua saudaraku kita sukseskan Surabaya Eco School 2017.

  4. kader lingkungan zholick mulai gerakan ” Thanks for Using Your Own Bottles” (TU-Yobs) semoga bisa mengurangi sampah di sekolah kami…tuk sukseskan SES 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *