Penerapan program lingkungan Surabaya Eco School 2017 dengan tema Zero Waste atau bebas sampah ternyata sudah dilakukan oleh beberapa sekolah SMP Swasta di wilayah UPTD 2. Fakta tersebut didapati Tunas Hijau saat sesi pemaparan potensi lingkungan di masing-masing sekolah pada workshop I Surabaya Eco School 2017 di Aula SMPN 23, Selasa (12/09). Workshop yang kali ini diikuti oleh 28 sekolah dari total 53 sekolah yang diundanga, Salah satu penerapan program lingkungan di sekolah adalah upaya pengurangan sampah plastik di kantin sekolah.

Seperti yang disampaikan oleh Restu, guru pembina lingkungan SMP Gracia, pengelolaan makanan dan minuman di kantin sekolahnya sudah tidak lagi menggunakan plastik kemasan maupun bungkus. “Kami meminta kantin agar menyediakan kotak makan atau kerap disebut lunch box serta gelas untuk minum siswa. Tidak hanya di kantin saja, kami juga sudah menghimbau anak-anak agar terbiasa membawa lunch box dan botol minuman sendiri,” ujar Restu.

Sampah organik sisa makanan yang menjadi permasalahan lingkungan bagi sekolah daerah Gubeng Pojok ini disiasati dengan menjadikannya pakan ternak. Sisa makanan tersebut diberikan kepada keanekaragaman hayati yang ada di sana yakni ikan di kolam dan ayam di dalam kandang. “Tetapi dari semua sampah sisa makanan, masih banyak yang belum terolah dan akhirnya kami buang kak, bagaimana ya solusinya,” imbuhnya.

Melihat permasalahan lingkungan tersebut, Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan agar mereka segera memulai program pengomposan sampah organik. “Caranya bisa dengan berbagai macam. Salah satu yang umum digunakan adalah keranjang komposter. Sistemnya memanfaatkan keranjang atau barang bekas yang berpori sebagai medianya. Lalu ya dengan ditambahkan karpet sebagai pelapis, bantalan sekam dan kompos sebagai starternya,” ujar Anggriyan.

Sementara itu, Achmad Tasyib, guru pembina lingkungan SMP Hidayatul Ummah, mengatakan potensi lingkungan terbesar di sekolahnya adalah air sisa bekas wudhu dibiarkan terbuang secara percuma. “Kalau setiap orang membuang sebanyak 2 liter setiap harinya, berarti setiap hari kita sudah membuang lebih dari 400 liter. Nah, itu belum dari air kamar mandi,” ucap Achmad kepada Tunas Hijau saat presentasi di depan.

Guru yang juga merupakan pembimbing pelajaran IPA ini berencana untuk memanfaatkan sisa atau bekas air wudhu untuk dijadikan media untuk hidroponik. Sedangkan air limbah kamar mandi akan disaring lalu dibuat untuk air kolam ikan. “Kami ingin memanfaatkan air bekas wudhu dan kamar mandi agar tidak mubadzir, jadi ada yang kami ingin jadikan hidroponik dan aliran kolam ikan,” imbuhnya. Selain kedua potensi tersebut, permasalahan utama di sekolahnya adalah masih banyak sampah plastik yang dibiarkan dibuang sembarangan.

Dalam workshop tersebut, tidak hanya diajak menuliskan potensi dan permasalahan, sebagai bahan inspirasi mereka agar bisa menyusun rencana kegiatan. Tunas Hijau mengajak mereka untuk berkeliling melihat program lingkungan yang berjalan di SMPN 23. Tak ayal, merekapun dibuat terkagum hingga tak henti-hentinya memberikan pertanyaan. Salah satu prorgam lingkungan yang paling disukai adalah pengomposan dan pengolahan limbah kulit pisang jadi es krim. (ryn)

Keterangan Foto : Foto bersama peserta workshop I Surabaya Eco School 2017 di SMPN 23 yang diikuti oleh 28 sekolah SMP Swasta se wilayah UPTD 2 dari total 53 sekolah yang diundang oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan Tunas Hijau, Selasa (12/09).

One thought on “Luch Box SMP Gracia, Rencana Tampung Limbah Wudhu SMP Hidayatul Ummah

  1. Coba kalkulasi saja dari 28 sekolah SMP di Surabaya 2 yang mengikuti workshop, tiap sekolah menghasilkan 3 Kg sampah organik maka yang terkumpul adalah 3 X 28 = 84 Kg sampah tiap hari kalau tiap pekan 5 hari belajar maka 5 X 84 Kg = 420 Kg sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pupuk atau makanan ternak, kalau satu bulan dengan 4 pekan efektif maka 4 X 420 Kg = 1680 Kg, jadi hampir 2 ton sampah organik dalam satu bulan dapat diolah menjadi lebih bermanfaat, tidak sampai terbuang ke Benowo atau tempat lainnya, ini adalah estimasi sementara dari 28 sekolah SMP yang hadir pada workshop I Surabaya Eco School 2017 padahal yang di undang 53. Betapa bermanfaatnya kegiatan yang peduli terhadap lingkungan ini, akan tetapi kepedulian ini tidak sebanding lurus dengan jumlah sekolah yang ada di Surabaya mulai dari jenjang SD-SMA/SMK, kalau saja 50 % dari jumlah sekolah itu peduli terhadap lingkungan tentu akan menjadi sekolah yang luar biasa lingkungannya menjadi bersih indah, tertata dengan baik, bahkan lebih baik dari Australia atau Singapura, tapi ini hanya asumsi, kita tunggu saja bukti real di lapangan apa seperti itu, oyo……kita tunggu tantangan per pekan dari Surabaya Eco School 2017.

    semoga sukses selalu. Kita Tunggu “Zero To Hero Zero Waste”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *