Saling berbagi informasi mengenai solusi pemecahan permasalahan lingkungan hidup tersaji dalam workshop I Surabaya Eco School 2017. Dalam workshop yang diikuti oleh sedikitnya 135 orang perwakilan guru dari Sekolah Dasar Negeri dan Swasta wilayah UPTD 3 dan UPTD 5 di Graha Sawunggaling, Sabtu (09/09). Tunas Hijau mengajak peserta workshop untuk menuliskan permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan sampah, air, energi, keanekaragaman hayati dan makanan minuman.

“Setelah menentukan temanya, tuliskan satu isu terkait tema tersebut yang jadi permasalahan lingkungan di sekolah. Lalu, jelaskan kenapa menjadi masalah dan apa saja upaya yang sudah dan sedang dilakukan untuk menyelesaikannya,” jelas Satuman, aktivis Tunas Hijau. Setelah menuliskan permasalahan lingkungan sekolahnya, lembar kerja milik mereka akan ditukar dengan lembar kerja milik sekolah lain untuk diberikan respon baik positif maupun kritik membangun.

Siti Indayati, guru pembina lingkungan SDN Kedung Cowek I, membacakan permasalahan lingkungan milik SD Hang Tuah 7, lahan yang luas dengan potensi sampah organik dedaunan melimpah menjadi masalah dari sekolah yang berada di komplek TNI AL ini. “Kalau permasalahannya lahan luas dan sampah organik dedaunan yang melimpah, saran saya adalah dengan melakukan pengomposan dengan media tong aerob. Kalau di sekolah belum mempunyai medianya, bisa dengan cara lama yakni membuat jublangan atau kotak kompos dari kayu-kayu bekas,” ucap Siti Indayati,

Permasalahan lainnya disampaikan oleh Erni Dwi Suryaningtyas, guru pembina lingkungan SDN Kaliasin I yang membacakan permasalahan lingkungan milik SDN Sidodadi II. Menurutnya, permasalahan lingkungan yang diangkat oleh sekolah daerah Srengganan Lebar no. 8 adalah pemilahan sampah yang tidak berjalan optimal karena saat di kelas sudah melakukan pemilahan sampah, pada pembuangan akhir semuanya tercampur karena petugas kebersihan sekolah yang kurang mendapat sosialisasi pemilahan sampah.

“Saran saya adalah dengan melibatkan petugas kebersihan sekolah sebagai tim lingkungan hidup khusus masalah sampah. Petugas kebersihan tersebut diberikan tugas untuk mengumpulkan sampah plastik dan kertas yang sebelumnya sudah terpilah untuk dijual ke pengepul. Hasil penjualannya berikan ke mereka,” ujar Erni. Selain itu, untuk mengurangi banyaknya sampah plastik di sekolah mereka, guru spesialis program Surabaya Eco School SDN Kaliasin I ini menyarankan gerakan membawa tempat makan dan minum sendiri.

Sementara itu, dalam workshop yang diselenggarakan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Eka Fadiyah, mantan guru pembina lingkungan SDN Ujung IX, memberikan kiat-kiat memulai gerakan lingkungan pada Surabaya Eco School dengan 3R yakni Banter, Pinter dan Kober. “Banter atau cepat dalam artian harus bisa tanggap terhadap setiap kegiatan lingkungan yang akan dijalankan di sekolah, pinter itu artinya pintar berkomunikasi dengan warga sekolah untuk mensosialisasikan programnya, sedangkan kober itu artinya berkelanjutan,” ucap Eka Fadiyah. (ryn)

Keterangan Foto : Lebih dari 137 guru pembina lingkungan Sekolah Dasar Negeri dan Swasta wilayah UPTD 3 dan UPTD 5 foto bersama pasca mengikuti workshop I Surabaya Eco School 2017 di Graha Sawunggaling, Sabtu (09/09).

One thought on “Berbagi Ide Solutif Permasalahan Lingkungan Pada Workshop I SES 2017 Untuk UPTD 3 dan UPTD 5

  1. Untuk Wilayah Surabaya 5 dan 3 kelihatanya lebih semarak dengan jumlah sebenarnya 141 perwakilan yang datang berdasarkan absen, akan tetapi yang diundang lebih banyak yaitu 503 sekolah, berarti yang tidak datang lebih banyak lagi, akan tetapi di wilayah Surabaya 5 dan 3 inilah terdapat Jawara-jawara Eco School 2016, sehingga dari segi pengalaman mungkin di wilayah inilah suasana menjadi seru dengan peserta sebanyak 141 perwakilan dari sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *