Workshop I Surabaya Eco School 2017 di SMPN 26 Surabaya mampu membuat 137 orang guru perwakilan dari 137 Sekolah Dasar UPTD 4 Wilayah Surabaya Barat begitu antusias. Fakta tersebut ditunjukkan dengan menuliskan potensi lingkungan hidup dan permasalahan lingkungan yang ada di sekolah masing-masing. Potensi yang digambarkan dalam bentuk skema dan peta konsep ini menjadi awal materi workshop yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya di sekolah dengan predikat adiwiyata mandiri ini, Jumat (08/09).

Mekanisme program Surabaya Eco School 2017 yang disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau mampu mengundang banyak pertanyaan dari peserta workshop yang di dominasi oleh guru pembina lingkungan baru di masing-masing sekolah. “Kata kunci dalam program ini ada beberapa yakni pertama adalah gerakan lingkungan hidup berkelanjutan, partisipasi warga sekolah, gerakan massal, program lingkungan hidup yang mempunyai target dan pelaporan kegiatan lingkungan melalui media sosial instagram,” jelas Anggriyan.

Menurut aktivis yang juga kuliah jurusan komunikasi ini, banyaknya pertanyaan yang muncul adalah bentuk kewajaran karena kali ini pesertanya didominasi pembina lingkungan baru. “Sebenarnya bu, mekanisme program lingkungan ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, karena memang sudah menjadi trademark atau ciri khasnya Surabaya Eco School. Kendalanya adalah, dulu ketika guru pembina sebelumnya yang jadi peserta workshop tidak mensosialisasikan hasilnya ke warga sekolah, maka dari itu ibu ataupun bapak merasa ini program baru,” terang Riyan, sapaan akrab Anggriyan.

Menariknya adalah guru-guru yang sudah lama mengetahui mengenai program Surabaya Eco School justru berbagi pengalaman, berbagi hal-hal apa yang harus dilakukan oleh guru pembina lingkungan setelah workshop pertama. Saling berbagi informasi dan pengalaman selama mengikuti gelaran Surabaya Eco School ini membuat suasana workshop semakin hangat. Mamik Sri Utami, guru pembina lingkungan SDN Sememi I berbagi langkah awal dalam menghadapi program ini.

“Biasanya setelah ini, bapak ibu harus menghadap kepala sekolah, lalu menggelar sosialisasi mengenai seperti apa Surabaya Eco School kepada warga sekolah. Kalau tidak bisa langsung melibatkan seluruh warga sekolah ya bisa dimulai dari kelasnya dulu. Setelah itu buat tim lingkungan dan rencana kegiatan lingkungan yang akan dijalankan di sekolah,” pungkas Mamik. Penjelasan tersebut ditambahkan oleh Yongki Dwi Prasetyo, aktivis Tunas Hijau, bahwa setiap kegiatan atau aksi lingkungan yang dilakukan bisa diikutkan program Jam Hijau Pahlawan Hijau.

Program Jam Hijau ini sebagai wujud apresiasi kepada individu-individu yang sudah rela meluangkan waktunya, keluar dari zona nyamannya untuk ngopeni lingkungan di sekolahnya. “Jadi bentuknya seperti jurnal yang harus diisi setiap hari, misalkan ibu dalam sehari sudah melakukan aksi untuk lingkungan apa yang berkelanjutan sampai tuntas, lalu dihitung durasinya diisikan di jurnal itu. Begitu seterusnya hingga bila diakumulasikan menghasilkan mulai dari 50, 100, 150 dan 200 jam,” ucap Yongki. (ryn)

Keterangan Foto : Sebanyak 137 orang guru pembina lingkungan tingkat SD Negeri dan Swasta di wilayah Surabaya Barat area UPTD 4 terlihat kompak menunjukkan potensi dan permasalahan lingkungan yang ada di sekolah mengawali kegiatan Workshop I Surabaya Eco School 2017 di SMPN 26, Jumat (08/09).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *