Program pengolahan sampah dengan berbagai macam cara diperkenalkan oleh Tim Lingkungan Hidup SMPN 26 kepada peserta workshop I Surabaya Eco School 2017 tingkat Sekolah Dasar. Program pengolahan sampah itu diantaranya pengomposan keranjang, pengomposan dengan tong aerob dan lubang resapan biopori. Sebanyak 137 orang perwakilan dari 137 sekolah dasar negeri dan swasta UPTD 4 ini langsung dibagi menjadi tiga kelompok dalam sesi pengenalan program lingkungan SMPN 26 yang menjadi salah satu tuan rumah digelarnya workshop, Jumat (08/09).

Kondisi sekolah dibeberapa titik yang masih dalam pembangunan seperti pemasangan paving, pembangunan gedung  baru di sebelah kantin apung berimbas pada terbatasnya aktivitas kader lingkungan untuk mengolah sampah organik. Hasilnya, saat pengenalan pengolahan sampah, media pengomposannya masih dalam kondisi kosong. Hal ini dimanfaatkan oleh mereka sebagai sarana berbagi informasi mengenai metode pengomposan yang sudah ada di beberapa sekolah dasar.

Afiq Hakim, guru pembina lingkungan SDN Babatan V, penasaran dengan perbedaan cara pengolahan sampah organik antara media keranjang dan tong komposter. “Kak, bedanya cara pengomposan antara keranjang dengan tong komposter ini apa ya?” tanyanya kepada salah seorang kader lingkungan SMPN 26. Rozaan Haiban, ketua kader lingkungan, mengatakan perbedaan diantara keduanya terletak pada sampah organik yang diolah.

“Bila keranjang komposter, sampah organik yang boleh dimasukkan adalah sampah sisa makanan, sisa buah-buahan. Pokoknya adalah sampah dapur, kalau tong komposter berfokus pada sampah dedaunan, sampah sayuran di pasar. Caranya sama kok Pak, yang penting adalah sampah organiknya harus tertutup dengan starternya tidak boleh dibiarkan kering, berada di atas starternya apalagi sampai tidak rutin mengisinya,” terang siswa kelas 9. Ditambahkan oleh Yongki Dwi Prasetyo, aktivis Tunas Hijau, kata kunci untuk pengomposan adalah telaten, rutin diisi dan dijaga kelembabannya.

Sementara itu, alat  dan lubang resapan biopori yang ada di area taman depan kantin apung mampu menarik perhatian peserta workshop. Alasannya, sebagian besar mengaku baru kali pertama tahu tentang program resapan air dengan lubang resapan biopori. Tri Mulyo Wibowo, guru pembina lingkungan SDKr Petra 10 ini mengatakan di sekolahnya sudah ada lubang resapan biopori, tetapi lubang bioporinya tidak berfungsi ditambah dirinya belum mengetahui cara perawatannya. “Kami punya lubang resapan di sekolah, tetapi kok tidak bisa optimal ya lubangnya,” ucap Tri.

Tri menambahkan bahwa lubang resapan di sekolahnya dibuat dengan membuka paving, akan tetapi kedalaman lubangnya tidak bisa optimal hingga 100 cm, dikarenakan banyak sertu atau pasir batunya. Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, menyarankan agar lubang yang masih ada sertu alias pasir batu itu dihancurkan dengan linggis agar mengoptimalkan kedalaman dari lubang resapannya. “Ya kalau bisa dihancurkan sertunya dengan linggis dulu, setelah itu dibor lagi hingga satu meter, baru diisi sampah organiknya padat dan penuh,” imbuh Riyan.

Disisi lain, perawatan lubang resapan biopori adalah dengan melakukan pengecekan rutin satu minggu sekali, bila sampah organik yang sebelumnya diisi sudah terurai dan berkurang harus diisi ulang kembali dengan sampah organik baru. Penjelasan dari aktivis Tunas Hijau ini membuat peserta workshop terpancing keinginannya untuk membuat lubang resapan biopori di sekolah mereka. “Selain untuk pengomposan, karena kami tidak punya keranjang dan tong komposter. Lubang resapan biopori ini kan juga bisa meresapkan air hujan, jadi mengurangi resiko banjir,” terang Fatihul Niam, guru pembina lingkungan SDN Banjarsugihan V. (ryn)

Keterangan Foto : Salah seorang kader lingkungan SMPN 26 menjelaskan tentang cara pembuatan dan perawatan lubang resapan biopori kepada 137 orang guru pembina lingkungan hidup sekolah dasar negeri dan swasta wilayah UPTD 4 saat workshop Surabaya Eco School 2017 di sekolahnya, Jumat (08/09).

One thought on “Berbagi Kiat Pengolahan Sampah Organik Dalam Workshop I SES 2017 UPTD 4 Di SMPN 26

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *