“Sudah tahukah apa yang harus dilakukan setelah selesai workshop hari ini?” ucap Mochamad Zamroni, aktivis senior sekaligus Presiden Tunas Hijau kepada sedikitnya 150 orang peserta Workshop I Surabaya Eco School 2017. Pertanyaan tersebut dilontarkan kepada perwakilan dari 53 sekolah SMP Negeri dan Swasta yang hadir dalam workshop di SMPN 11, Kamis (07/09). Tujuannya adalah memastikan perwakilan sekolah yang menghadiri workshop hari itu tahu langkah awal mereka dalam menghadapi program tahunan ini.

Sebelumnya, Zamroni menjelaskan mengenai mekanisme program yang sudah berusia 7 tahun ini berikut bersama dengan item-item kegiatan lingkungan yang ada di dalamnya. “Ada banyak ragam kegiatan dalam Surabaya Eco School diantaranya adalah tantangan mingguan, lomba yel-yel lingkungan, lomba jingle lingkungan hingga bersih-bersih pantai kenjeran. Penghargaannya pun tidak hanya untuk sekolah, individupun ada, bahkan khusus untuk individu yang mau meluangkan waktunya ngopeni lingkungan ada penghargaan jam hijau,” terangnya.

Setelah workshop I Surabaya Eco School 2017 selesai, aktivis Tunas Hijau yang juga Humas Kwarda Jatim ini menghimbau agar setiap sekolah melaksanakan sosialisasi tentang program Surabaya Eco School 2017 kepada warga sekolah. “Sosialisasi yang dimaksud tidak harus langsung melibatkan seluruh warga sekolah, akan tetapi bisa dimulai dengan mengajak ruang lingkung yang lebih kecil, seperti satu kelas ataupun anggota OSIS dan perwakilan kelas, namun dilakukan berkala hingga menyeluruh melibatkan warga sekolah,” imbuh Zamroni.

Beragam respon diberikan langsung oleh peserta workshop terhadap himbauan melakukan sosialiasi tentang program lingkungan tersebut. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh salah satu perwakilan siswa SMP Al Hikmah yang dengan tegas menyatakan sosialisasi akan dimulai keesokan harinya dengan melibatkan anggota OSIS dan perwakilan kelas. Respon lainnya disampaikan oleh perwakilan siswa dari SMPN 25 yang dengan jawaban senada akan menyelenggarakan sosialisasi keesokan harinya melibatkan satu kelas terlebih dahulu.

Sementara itu, dalam workshop I Surabaya Eco School 2017 yang diselenggarakan di aula sekolah jawara Surabaya Eco School tahun lalu. Peserta workshop diajak untuk menuliskan permasalahan lingkungan dan potensi lingkungan yang ada di sekolahnya. Menariknya adalah, setelah menuliskan permasalahan lingkungan, berikut solusi pemecahan masalah yang sudah dilakukan, jawaban mereka akan ditukar dengan milik sekolah lain.

“Nah, sekarang cara bermainnya adalah kalian harus memberikan respon terhadap solusi pemecahan yang dilakukan oleh sekolah lain yang kalian koreksi, bisa respon positif ataupun negatif,” ucap Bram Azzaino, aktivis Tunas Hijau yang memandu sesi diskusi permasalahan lingkungan di sekolah. Saling kritisi dan berbagi  solusi pemecahan masalah lingkungan membuat suasana workshop semakin panas namun sangat menginspiratif bagi sekolah-sekolah. (ryn)

Keterangan Foto : Pada sesi diskusi permasalahan lingkungan di sekolah, salah satu perwakilan sekolah diminta untuk mempresentasikan permasalahan lingkungan dari sekolah lain, kemudian direspon dengan positif maupun negatif sesuai dengan solusi yang sudah dituliskan dalam workshop I Surabaya Eco School 2017 di SMPN 11, Kamis (07/09).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *