Rumah kompos milik SMPN 11 mampu menarik perhatian lebih dari 150 orang peserta workshop I program Surabaya Eco School 2017 untuk tingkat SMP Negeri dan swasta, Kamis (07/09). Pada sesi pengenalan program lingkungan hidup milik sekolah jawara Surabaya Eco School tahun lalu ini, mereka antusias mendengarkan kiat-kiat mengolah sampah organik hingga proses panennya. Diskusi kecil mengenai kondisi pengomposan di masing-masing sekolah, terkuak fakta yang mengejutkan.

Fakta tersebut adalah keranjang komposter masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar sekolah. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor seperti masa panen keranjang yang tidak tentu mulai dari 3 bulan sekali, hingga mandeknya pengelolaan keranjang komposter. Seperti yang disampaikan oleh Bagus Prasetya, siswa SMPN 38, pengomposan keranjang komposter di sekolahnya mandek setelah dipanen.

“Permasalahan di sekolah kami adalah perijinan dari pihak sekolah, keranjang komposter di sekolah jarang diisi karena sisa makanan di kantin oleh petugas kantin langsung dibuang. Sedangkan, kalau kami mau cari sampah di luar sekolah terkendala ijin kak,” ucap Bagus, siswa kelas 8. Kondisi berbeda dialami oleh keranjang komposter milik SMPN 19. Dian Rahmawati, guru pembina lingkungan, mengatakan bahwa kondisi keranjang komposternya berdebu, kering dan dipanen kader lingkungan dalam waktu 3 – 4 bulan.

Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, mengatakan indikator pengomposan keranjang berjalan adalah kelembaban dari isi komposternya, suhu di dalam komposnya dan rutinitas pengisian sampah organik. “Semakin sering keranjang komposter diisi sampah organik dan memastikan sisa makanannya terpendam starter dan suhunya panas, maka proses penguraian oleh bakteri berjalan. Yang susah itu kalau keranjang komposter jarang diisi jadinya ya bisa kering dan berjamur,” ucapnya.

Dengan target tahun lalu sebesar 3 ton kompos yang berhasil dipanen, membuat 150 orang perwakilan siswa dan guru yang terdiri dari 53 SMP Negeri/swasta membuat mereka kagum ingin menerapkan cara yang digunakan di sekolah tersebut. Rizaldy, ketua OSIS sekaligus ketua kader lingkungan, menceritakan ciri khas pengomposan di sekolahnya adalah gerakan grebek pasar yang melibatkan warga sekolah secara bergantian.

“Jadi setiap harinya, ada jadwal untuk setiap kelas melakukan grebek pasar atau membawa sampah organik dari rumah untuk diolah di sekolah. Setiap pulang sekolah, anak-anak dibuatkan jadwal untuk bertugas ngopeni banyaknya media komposter di rumah kompos,” ucap Rizaldy. Metode tersebut menarik minat perwakilan sekolah untuk mengaplikasikannya, sedangkan sekolah yang tidak memiliki keranjang komposter berkeinginan untuk membuat sendiri keranjang komposter dari barang bekas layak pakai yang ada di sekolah.

Tidak hanya pengomposan saja, Instalasi Pengolahan Air Limbah yang berasal dari kantin sekolah mampu mengundang banyak pertanyaan dari mereka yang kepincut ingin menerapkan di sekolah masing-masing. Suminah, guru pembina SMPN 11 mengatakan bahwa IPAL kantin sudah mengalami dua kali pengembangan setelah beberapa saat sebelumnya mandek. “Pengembangan terbaru, kepala sekolah membuatkan satu set bak penampungan yang digunakan untuk memisahkan antara limbah sisa makanan dengan airnya,” ucap Suminah. Selain kedua program tersebut, program lain yang dikenalkan seperti lubang resapan biopori dan bank sampah.  (ryn)

Keterangan Foto : 150 orang perwakilan siswa dan guru dari 53 Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta kagum dengan pengelolaan program pengomposan yang ada di SMPN 11 Surabaya dalam workshop I Surabaya Eco School 2017, Kamis (07/09).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *