Antusiasme peserta workshop mengenai program lingkungan Surabaya Eco School 2017 semakin meningkat, dengan adanya kiat-kiat mewujudkan sekolah berlabel Surabaya Eco School dan Zero Waste. Kiat-kiat tersebut secara eksklusif disampaikan oleh Kun Mariyati, guru pembina lingkungan SMPN 23 diakhir workshop yang digelar di aula SMPN 11, Kamis (07/09). Menurutnya, salah satu kata kunci agar menjadi sekolah Surabaya Eco School adalah pengelolaan kegiatan lingkungan yang berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi warga sekolah.

Sejak penyelanggaraan program Surabaya Eco School kali pertama di tahun 2011, guru pembina lingkungan yang juga kepala perpustakaan sekolah ini mendapatkan kendala yang datang tidak hanya dari penolakan siswa, melainkan juga sesama rekan kerja. “Waktu saya pertama kali menjadi penanggung jawab kegiatan lingkungan yang saya lakukan adalah mengajak satu persatu stakeholders di sekolah seperti membentuk tim lingkungan yang bisa membantunya, mengajak rekan kerja yang juga punya hasrat atau keinginan yang sama,” ucap Kun.

Berbagi pengalaman menjadi guru pembina lingkungan yang berhasil mengantarkan sekolahnya meraih predikat sekolah jawara Surabaya Eco School, sosok yang ramah ini mengatakan kuncinya adalah pada pengelolaan SDM dalam kegiatan lingkungan yang harus melibatkan warga sekolah. Lecutan semangat pertama kali disampaikan kepada kepala sekolahnya tentang target sekolah pada program Surabaya Eco School.

“Sekolah ini targetnya apa pada Surabaya Eco School, kalau targetnya menjadi juara, ya saya harus didukung penuh dan menggunakan cara saya,” ujar Kun Mariyati kepada kepala sekolah. Manajemen Sumber Daya Manusia dalam kegiatan yang dimaksudkan adalah membagi siswa ke dalam beberapa kegiatan yang direncanakan dan diberikan tanggung jawab sebagai koordinatornya.

“Langkah pertama yang saya lakukan adalah membagi siswa sebagai penanggung jawab setiap kegiatan dan membuatkan mereka jadwal dan targetnya. Tentunya setiap kegiatan atau program harus didampingi oleh guru pendampingnya. Jadi, ketika kegiatan itu tidak berjalan yang saya cari adalah guru pendampingnya dulu,” sambungnya.

Kiat lainnya adalah mengikuti setiap kegiatan lingkungan yang diselenggarakan Tunas Hijau baik itu seperti tantangan mingguan, kegiatan di luar sekolah hingga menjalankan setiap kegiatan lingkungan yang ada di sekolah secara berkelanjutan dan sesuai target. “Kuncinya adalah menjadi orang yang tuli apabila mendapat omongan yang dapat menurunkan semangat dan mental kita dalam menjalankan kegiatan lingkungan, lalu selalu istiqomah. Membentuk kelompok-kelompok kerja dalam setiap kegiatan dan memberikan reward pada pokja yang berjalan sesuai target itu merupakan wujud apresiasi untuk mereka,” jelas Kun Mariyati.

Eka Fadiyah, guru pembina lingkungan SMPN 60 dengan sigap langsung menanyakan solusi yang bisa dilakukan apabila memulai gerakan lingkungan di sekolah baru dengan potensi lahan sekolah luas, namun sumber daya manusianya terbatas. Kun Mariyati, guru yang pernah meraih predikat Eco Teacher Of The Year Surabaya Eco School ini menyarankan untuk membentuk tim lingkungan terlebih dahulu dan membuat kelompok kerja (pokja) sesuai dengan potensi sekolah. “Kalau sekolah baru ya lakukan kegiatan yang kecil dulu, seperti memilah sampah tetapi secara perlahan mengajak partisipasi warga sekolah secara keseluruhan untuk melakukannya,” terangnya. (ryn)

Keterangan Foto : Kun Mariyati, Guru Pembina Lingkungan SMPN 23 berbagi pengalaman menjadi guru pembina lingkungan dan berbagi kiat-kiat menjadikan sekolahnya meraih predikat sekolah jawara Surabaya Eco School kepada peserta workshop I Surabaya Eco School 2017 di SMPN 11 yang diikuti oleh 53 SMP Negeri dan Swasta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *