Mengawali keikutsertaannya dalam program Surabaya Eco School kali pertama pada 2011 silam, SMPN 11 kini menjelma menjadi sekolah berwawasan lingkungan dengan memunculkan satu ciri khas. Ciri khusus tersebut adalah program pengomposan sampah organik yang digarap serius mulai tahun 2013 hingga sekarang dengan mencantumkan targetnya. Informasi tersebut disampaikan oleh Suminah, guru pembina lingkungan sekaligus motor penggerak bagi sekolah yang berlokasi di daerah Sawah Pulo ini.

Menurutnya, pengomposan dipilih menjadi ciri khas mereka, dikarenakan pembiasaan lingkungan yang diterapkan kepada warga sekolah dengan menggelar aksi grebek pasar setiap dua kali seminggu di Pasar Pegirian. “Capaian paling besar kami selama mengolah kompos mulai 2013 hingga sekarang adalah pada tahun lalu, di ajang Surabaya Eco School 2016, kami berhasil memanen kompos organik sebanyak 3 ton dan mengolah lebih dari 7 ton sampah organik,” terang Suminah. Sampah organik dari pasar menjadi favorit mereka karena lebih cepat menjadi komposnya.

Disinggung soal kesiapan menghadapi program Surabaya Eco School 2017, sekolah jawara Surabaya Eco School tahun lalu ini menyiapkan lebih dari 200 orang siswa sebagai kader lingkungan hidup yang berasal dari perwakilan kelas 7 dan 8. Dengan tema Zero Waste, mereka masih menggalakkan program lingkungan seperti pengomposan, adopsi kampung, adopsi sekolah, adopsi pasar, pengolahan air limbah kantin, mural tembok, mural paving dan bank sampah untuk sampah kering. Semua program lingkungan tersebut melibatkan partisipasi warga sekolah.

Pengomposan menjadi program lingkungan ciri khas dari SMPN 11 yang sudah mulai difokuskan pada tahun 2013 hingga sekarang, pada gelaran Surabaya Eco School tahun lalu, 2016, mereka berhasil memanen kompos sebanyak 3 ton dan mengolah sampah organik sebanyak lebih dari 7 ton

Menariknya lagi, mereka sudah menentukan target pengomposan yang dipanen selama gelaran Surabaya Eco School 2017 mendatang. Sebanyak 4000 kilogram atau 4 ton kompos dan 8 ton sampah organik yang akan diolah menjadi kompos. Informasi tersebut disampaikan oleh Rizaldy, ketua OSIS sekaligus ketua kader lingkungan yang baru kepada Tunas Hijau. Tidak hanya target pengomposan saja, Zaldy, sapaan akrab siswa kelas 8 ini menceritakan  salah satu “Senjata” baru yang ada di sekolahnya untuk menghadapi program lingkungan yang memasuki tahun ketujuh.

Senjata baru tersebut adalah inovasi kulit buah nanas hasil dari grebek pasar yang diolah lagi menjadi makanan seperti nata de coco dan menyiapkan kejutan pada bidang jurnalistik. Kepada aktivis Tunas Hijau, Anggriyan Permana, Suminah mengatakan bahwa timnya memang masih belum banyak berinovasi pada proses publikasi dan jurnalistik dari setiap kegiatan lingkungan yang sudah dilakukan. “Selama ini kan hanya sekedar melaporkan kegiatan dalam bentuk foto, kali ini kami mencoba untuk berinovasi pada videografi dan infografis,” ucap Suminah.

Ambisi besar untuk bisa mempertahankan gelar juara sebagai sekolah terbaik Surabaya Eco School tingkat SMP jelas disiratkan oleh mereka melalui keseriusan program lingkungan hidup dijalankan. Namun, sekolah yang dua kali menjadi sekolah terbaik ini memberikan kiat-kiat agar bisa jadi sekolah jawara. “Paling utama itu adalah kegiatan yang berkelanjutan dan ada targetnya, lalu kedua adalah melibatkan partisipasi warga sekolah dalam setiap kegiatan. Kalau di kami, setiap kelas kami jadwalkan untuk bertanggung jawab mengelola pengomposan, salah satunya dengan grebek pasar,” ujarnya. (ryn)

Keterangan Foto : Kader Lingkungan Hidup SMPN 11 Siap Hebohkan Program Surabaya Eco School 2017 dengan beragam program lingkungan, salah satunya adalah ciri khas program Pengomposan melalui Grebek Pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *