Puluhan orang petugas kantin sekolah terkejut melihat rombongan kader lingkungan SMPN 16 bersama salah seorang mahasiswa asing asal Rumania, Cristian Achim. Alasannya, mereka yang berbondong-bondong mendatangi kantin membawa 21 buah keranjang komposter. Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau sengaja memberikan tantangan kepada mereka pasca pembenahan media kompos yang mereka punya agar mensosialisasikan cara kerjanya dan mengajak petugas kantin mengisinya.

“Saya tantang kalian untuk bisa mensosialisasikan cara kerja keranjang komposter ini kepada petugas kantin di sekolah. Karena jumlahnya yang banyak, jadi ya silahkan satu kelompok kecil sosialisasi kepada satu petugas kantin, sekalian diajari cara kerjanya,” tantang Anggriyan. Tujuannya adalah melatih keberanian dan pengetahuan mereka tentang pengomposan. Karena, setelah sosialisasi di kantin sekolah, mereka diharuskan untuk mensosialisasikan pengomposan di setiap kelas.

Dalam program pendampingan dari Tunas Hijau bersama Aiesec Surabaya melalui tiga orang mahasiswa asing yang berasal dari Rumania dan Portugal, mereka sepakat akan menjalankan program satu kelas satu keranjang komposter. Disampaikan oleh Nasiwa Zahra, ketua kelompok bagian pengomposan mengatakan sampah organik dihasilkan dari dua sumber yakni di kantin dan di dalam kelas.

Kader lingkungan SMPN 16 mensosialisasikan cara pengolahan sampah organik dengan keranjang komposter kepada petugas kantin sekolah

“Biasanya, siswa yang ada di dalam kelas ada yang bawa bekal nasi dari rumah, nah kalau tidak habis, sampah organik sisa makanannya dicampur dengan sampah lainnya. Makanya, daripada dicampur, ya kami beri mereka tanggung jawab untuk mengolah sampah organiknya,” ujar Zahra, siswa kelas 8. Agar menjadi program yang berkelanjutan, kader lingkungan membuat jadwal pengecekan keranjang komposter yang ada di kelas-kelas mulai senin depan.

Sementara itu, Laili Fadila, kepala SMPN 16 mengungkapkan dukungan penuhnya terhadap program lingkungan yang sudah dibuat dan dijalankan oleh kader lingkungan bersama ketiga mahasiswa asing. “Saya akan melibatkan wali kelas dalam membantu pengawasan demi berjalannya program lingkungan yang sudah disosialisasikan ke anak-anak. Saya berharap melalui program ini menjadi titik awal kebangkitan gerakan lingkungan yang ada di sekolah,” ujar Laili.

Selain menjalankan program pengomposan satu kelas satu keranjang, sebelumnya mereka juga sudah mensosialisasikan program pemilahan sampah di setiap kelas. Setiap kelas diberikan dua tempat sampah terpilah yakni sampah plastik dan sampah kertas. “Untuk pengecekan dan pengawasan agar pemilahan sampah di kelas berjalan, mereka bekerja sama dengan perangkat kelas dan wali kelasnya,” ujar Farida, guru pembina lingkungan hidup SMPN 16. (ryn)

Keterangan Foto : Cristian Achim, mahasiswa Informatika asal Rumania bersama dengan kader lingkungan SMPN 16 mensosialisasikan cara pengolahan sampah organik khusus sisa makanan dengan menggunakan keranjang komposter sekaligus memperkenalkan program lingkungan “Satu Kelas Satu Komposter”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *