Puncak Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2017 akan digelar pada Minggu 13 Agustus 2017 di Graha Sawunggaling. Grandfinal program lingkungan hidup khusus siswa sekolah dasar ini dimulai pukul 09.00 WIB. Perubahan waktu pelaksanaan yang pada tulisan sebelumnya dimulai pukul 08.00 berganti menjadi 09.00 dikarenakan perlunya persiapan yang benar-benar matang. Tunas Hijau perlu menyampaikan beberapa informasi berkaitan dengan teknis pelaksanaan grandfinal program yang dimulai awal kali pertama pada tahun 2003.

Bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Mercure Hotel Grandmirama, Java Paragon Hotel and Residence dan PT. Dharma Lautan Utama sebagai sponsor dan pendukung program lingkungan yang terdiri dari beberapa tahapan, tahapan awal yang diikuti 300 orang siswa hingga kini menjadi 40 orang siswa terplih sebagai finalis. Pada pelaksanaan grandfinal minggu nanti, setiap finalis hanya dibatasi membawa 9 orang suporter atau pendukung.

Kesembilan orang suporter tersebut sudah termasuk dengan keluarganya, menurut Mochamad Zamroni, presiden Tunas Hijau, jumlah suporter setiap satu orang finalis adalah 9 orang. “Jadi 10 orang termasuk finalisnya ya,” ucap Zamroni. Tidak hanya jumlah suporter setiap finalis, untuk performance dari 40 orang finalis sendiri akan ada batasan yakni cukup dua performance saja. Pembatasan ini bertujuan untuk memangkas waktu pelaksanaan agar tidak terlalu lama.

Sementara itu, pada grandfinal Pangput LH h2017 nanti, setiap sekolah diminta menyiapkan satu penampilan yel-yel dukungan kepada finalis dari sekolahnya. Disampaikan oleh Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, peserta dari tim yel-yel sekolah yaitu suporter dari finalis itu sendiri. “Jadi, setiap sekolah menyiapkan yel-yel dukungan bagi finalisnya, nah tim yel-yelnya itu ya suporter yang dibawa oleh masing-masing finalis. Kalau jumlah finalisnya hanya satu orang di satu sekolah ya hanya membawa 9 orang saja untuk tim yel-yel,” ucap Bram.

Berkaitan dengan yel-yel, Tunas Hijau menghimbau agar alat musik yang dibawa adalah alat musik daur ulang dan tidak terlalu banyak. Yel-yel yang dinyanyikan oleh tim yel-yel setiap sekolah, liriknya harus memuat nama finalis dari sekolahnya dan dukungan terhadapnya. “Yel-yelnya tidak untuk dilombakan kok, sifatnya hanya sebagai pengisi acara saja. Setiap tim yel-yel sekolah juga dihimbau memakai kostum yang serempak sebagai bentuk dukungan kepada finalisnya,” imbuh Bram.

Tunas Hijau tidak menyediakan konsumsi bagi para finalis dan suporter dari tiap-tiap finalis yang datang, termasuk tim yel-yel sekolah. Tantangannya adalah, konsumsi tersebut diharapkan disediakan oleh masing-masing finalis kepada suporternya. “Tantangannya adalah, konsumsi suporter tersebut adalah tanggung jawab setiap finalis. Nah, sebisa mungkin konsumsi untuk mereka harus zero waste atau bebas sampah bungkus plastik baik makanan maupun minumannya,” cetusnya.

Dresscode atau kostum yang harus dikenakan setiap finalis adalah baju batik (bukan baju batik sekolah) dengan celana hitam kain. Sebagai lanjutan dari pembahasan teknis pelaksanaan Grandfinal, Tunas Hijau akan mengumpulkan keempat puluh orang finalis ini pada Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 11.00 WIB di Taman Prestasi Ketabang Kali. “Pertemuan terakhir ini akan membahas tentang proses pembagian pasangan setiap Pangeran dan Puteri LH 2017 hingga materi publik speaking ala anak-anak,” ucap Bram. (ryn)

Keterangan Foto : Teknis Pelaksanaan GrandFina Pangeran dan Puteri LH 2017 diantaranya adalah setiap finalis hanya membawa 9 orang suporter atau pendukungnya dan setiap sekolah menyiapkan satu yel-yel dukungan yang liriknya mengandung nama finalis dari sekolahnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *