Kehadiran mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB di SMPN 22 Surabaya menarik perhatian puluhan siswa, Selasa (8/8). Bentuk kendaraan yang anti mainstream ditambah dengan gambar unik menempel pada mobil semakin menambah keunikan tersendiri mobil edukasi lingkungan hidup keliling.

Perbedaan Eco Mobile PJB tak hanya bisa dilihat dari penampilannya, panel pembangkit listrik tenaga surya yang terdapat diatas mobil mengubah sinar matahari menjadi energi listrik yang digunakan untuk membantu setiap kali mengedukasi lingkungan hidup.

Eco Mobile PJB tak hanya mengedukasi setiap orang untuk melakukan penghematan energi listrik, tapi juga pengolahan sampah secara mandiri dan peduli terhadap penghijauan lingkungan sekitar. Satuman, aktivis senior Tunas Hijau koordinator Eco Mobile PJB menuturkan temuan di lingkungan SMPN 22 Surabaya dengan banyak lubang biopori yang tertimbun tanah. Tong komposter aerob juga banyak didapati penuh dengan sampah non-organik.

Siswa Duta Lingkungan SMPN 22 Surabaya membuat kembali biopori yang sebelumnya pernah dibuat

“Bencana banjir selalu kuat dikaitkan dengan permasalahan sampah. Namun sebenarnya permasalahan utama banjir ada pada volume air hujan yang besar sedangkan lubang resapan kembali ke tanah hampir tidak ada. Akhirnya semua air hujan di kembalikan ke sungai namun sungai penuh dengan sampah, dan akhirnya tidak bisa menampung air hujan saat itu. Terjadilah banjir,” jelas Feri Subagyo, aktivis Tunas Hijau di sela-sela pembinaan.

Selama hampir 2 jam, puluhan siswa yang berasal dari kelompok Duta Lingkungan SMPN 22 mengikuti pembinaan lingkungan hidup bersama Eco Mobile PJB. “Kami ingin membiasakan sikap dan perilaku ramah lingkungan supaya pemahaman siswa tentang cinta lingkungan hidup timbul dan berkembang,” ujar pembina program Adiwiyata SMPN 22 Eni Soelistiowati.

Demi tercapai tujuannya, Eni mengkomitmen menjalin relasi dengan lebih banyak mitra, seperti Dinas Pertanian, Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau serta warga SMPN 22 Surabaya. Guru yang akrab disapa Bu Eni ini memiliki harapan yang menjadi langkah awal program lingkungan hidup yaitu ingin memperbaiki green house di SMPN 22 agar bisa dijadikan pembelajaran apotik hidup.

Eni tak sendiri, dibantu 4 rekan kerjanya, mereka secara perlahan akan memperbaiki pemahaman warga sekolah dan permasalahan lingkungan hidup di SMPN 22 Surabaya. “Bersama kita bisa,” seru guru yang telah melalang buana menjadi guru itu.

Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, menganjurkan ke tim Adiwiyata SMPN 22 untuk menjadikan kegiatan pelestarian lingkungan hidup sebagai kegiatan pembelajaran setiap mata pelajaran.

“Misalkan mata pembelajaran pengetahuan alam biologi bisa melakukan pembelajaran pengurangaian atau proses pembusukan. Jika sering ada pembelajaran maka minimal tong komposter akan terawat,” ujar Bram Azzaino, yang juga salah satu tim evaluasi Adiwiyata Provinsi Jawa Timur ini. (one)

Keterangan foto utama: Siswa duta lingkungan hidup SMPN 22 Surabaya mengikuti pembinaan lingkungan hidup bersama Eco Mobile PJB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *