Sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak sekolah pasca mendapatkan penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Mandiri pengelolaan lingkungan hidup di sekolah menjadi merosot.  Fakta ini mendasari mobil edukasi lingkungan hidup keliling Eco Mobile PJB bersama Tunas Hijau melakukan pembinaan lingkungan hidup berkelanjutan kepada Sekolah Adiwiyata Mandiri. SMPN 16 Surabaya diantaranya.

Pembinaan lingkungan hidup di SMPN 16 Surabaya dilaksanakan pada Kamis (3/8/2017). “Sehari-harinya, siswa dibiasakan untuk membuang sampah botol plastik di bank sampah ini,” ujar Farida Asnanik, koordinator pembina lingkungan SMPN 16 sambil memamerkan bank sampah khusus botol plastik miliknya pada tim Tunas Hijau dan Eco Mobile PJB.

Bila ada upaya pengumpulan sampah khusus botol plastik, tidak demikian halnya dengan sampah organik. Pengolahan sampah organik di SMPN 16 Surabaya masih belum berfungsi optimal kembali. Terakhir pengolahan sampah organik digiatkan beberapa tahun lalu. Padahal keranjang pengomposan, atau dikenal dengan takakura, komposter tong aerob dan mesin pencacah sampah daun ada di sekolah ini.

Lebih lanjut, Aktivis Senior Tunas Hijau Satuman menyampaikan harapannya bahwa SMPN 16 Surabaya bisa kembali menjadi teladan dalam pengolahan sampah dan mewujudkan sekolah zero waste.

“SMPN 16 Surabaya pernah menjadi pelopor dalam minimalisasi sampah plastik kemasan makanan dan minuman sekali pakai sekitar 10 tahun lalu. SMPN 16 harus bisa menjadi pelopor sekolah zero waste,” harap Satuman. (frida/ron)

Keterangan gambar: Sampah botol plastik yang dikumpulkan di SMPN 16 Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *