Ada pemandangan yang tidak biasa saat Tunas Hijau menggelar kegiatan pembuatan lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Jaksa Agung Suprapto. Sebanyak 14 orang asing atau kerap disebut bule dari berbagai negara seperti Portugal, Latvia, Belanda, Kanada turut memeriahkan aksi yang bertujuan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah, Rabu (26/07). Kehadiran merekapun disambut meriah oleh 80 orang siswa SDN Kapasari 8, SMPN 37, SMPN 1 dan SMKN 8 yang juga turut berpartisipasi dalam aksi itu.

Sebelum beraksi, keempat belas mahasiswa asing yang mengikuti program dari AIESEC ini mendapat pengarahan tentang prosedur pembuatan lubang resapan biopori di jalur hijau. Mochamad Zamroni, presiden Tunas Hijau, menjelaskan dalam pembuatan biopori yang perlu diperhatikan adalah keindahan dan estetika dari jalur hijaunya. “Kalau buat biopori itu, dari tempat yang awalnya kotor jadi bersih, karena kan sampah organiknya dimasukkan ke lubang biopori, kalau tempatnya sudah bersih ya nggak boleh dibuat kotor sama tanah sisa lubang itu,” jelas Zamroni.

Menariknya, pengetahuan yang didapat itu langsung ditransfer kepada puluhan siswa yang berasal dari sekolah sekitar jalur hijau. Perbedaan bahasa tidak menjadi masalah bagi mereka untuk mengajak anak-anak membuat biopori dengan benar. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh Joao Alexandre Pereirra, mahasiswa asal Potugal ini secara perlahan menjelaskan tentang tanah hasil lubang biopori harusnya dikembalikan ke taman lagi, bukan dibiarkan begitu saja.

“Ingat, fungsi kita membuat biopori adalah meresapkan air ke dalam tanah dan membuat kompos. Jadi, kalau ada sampah organik di sekitar langsung dimasukkan saja. Karena kalau hanya membuat biopori saja, semua bisa tetapi kalau buat biopori dengan baik dan benar tanpa harus membuat kotor itu yang susah,” ujar Rafika Rahma, perwakilan AIESEC setelah menerjemahkan perkataan pemuda jurusam teknik di Portugal.

Meriahnya kegiatan pembuatan biopori ditandai dengan meleburnya jalinan komunikasi antar puluhan siswa dengan mereka. Saling bahu membahu antar tim lingkungan hidup dengan mahasiswa asing demi mencapai target biopori sedalam 100 cm dan penuh dengan sampah organik. “Saya senang sekali bisa membuat lubang resapan biopori bersama mereka, terlebih selain bisa minta foto bersama saya juga bisa sharing pengetahuan tentang lingkungan terutama biopori,” ujar Rifki Firmansyah, siswa kelas 2 SMPN 1 yang juga Pangeran Lingkungan Hidup 2015.

Dalam kegiatan tersebut, kolaborasi antara siswa dan mahasiswa asing itu, lebih dari 80 lubang biopori dihasilkan. Dengan lubang sebanyak itu, Fransisco Monteiro, mahasiswa asing asal Portugal berharap bahwa lubang biopori tersebut dapat berfungsi untuk menyerap air hujan ke dalam tanah dan dapat menambah kesuburan tanah. “Saya senang sekali bisa membuat lubang resapan biopori di jalur hijau ini, sebelumnya saya sudah pernah membuat biopori di kampung beberapa waktu lalu,” ucap Fransisco. (ryn)

Keterangan Foto : Joao Perreira, mahasiswa asal Portugal terlihat asyik membuat lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Jaksa Agung Suprapto bersama dengan finalis Pangeran dan Puteri LH 2017 yang menjadi peserta bersama dengan 80 orang siswa lainnya dari SMPN 1, SMPN 37, SDN Kapasari 8 dan SMKN 8. Rabu (26/07).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *