Fakta tentang pohon dan tumbuhan sebagai satu-satunya makhluk hidup yang menghasilkan oksigen menjadi menu pengantar siswa baru SMPN 40. Dalam kegiatan Layanan Orientasi Siswa (LOS), lebih dari 350 orang siswa diajak untuk mengenal lebih dalam fakta-fakta unik tentang tumbuhan asoka yang menjadi ciri khas atau ikon sekolah baru mereka. Salah satu fakta yang membuat mereka kaget adalah tanaman asoka menjadi tanaman suci bagi agama hindu.

Informasi yang disampaikan oleh Gieofany, mahasiswa asal STT (Sekolah Tinggi Theologi) Jakarta ini mampu memancing keingintahuan mereka tentang tanaman yang mempunyai nama latin saraca asoca.”Kalian tahu tidak, bunga asoka ini akan mengeluarkan bau harum saat malam hari di bulan April dan Mei. Di sekolah baru kalian ini, bunga asokanya diolah untuk dijadikan berbagai macam olahan baik itu teh maupun bahan tambahan makanan sebagai camilan,” ucap Fany.

Tidak hanya memberikan informasi mengenai tanaman asoka saja, Si Cilung sebutan untuk tim lingkungan hidup SMPN 40 bersama dengan Tunas Hijau mengajak mereka menanam tanamannya juga. Jonathan Michael, ketua si Cilung memberikan pengarahan kepada ratusan siswa tentang cara menanam tanaman asoka dengan media pot yang sudah disediakan.

“Caranya, pilih tanaman asoka yang besar dan tinggi, lalu letakkan pada pot yang  besar pula karena harus disesuaikan hal tersebut berpengaruh pada pertumbuhan tanamannya nanti. Setelah itu, isi potnya dengan pupuk kompos jangan lupa untuk melepas polibagnya ya,” ujar Jonathan. Keriuhan dan raut wajah kegembiraan jelas terpancar dari mereka saat diminta untuk menanam tanaman asoka bersama-sama.

Salah satunya adalah Krisna Mukti, mantan siswa SDN Bangkingan I ini mengaku baru kali pertama menanam tanaman di sekolah. “Dulunya saya pernah menanam tanaman lidah buaya tapi di rumah kak, kali ini menanam tanaman yang lebih besar dan mempunyai banyak manfaat di sekolah baru,” ujar Krisna. Besar harapannya agar tanaman yang mempunyai sari pati dengan rasa manis ini bisa tumbuh besar dan bunganya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sekolah.

Menariknya, pupuk yang digunakan untuk menanam tanaman asoka merupakan pupuk hasil pengolahan sampah organik yang mereka produksi sendiri. Lebih dari 100 kg kompos disiapkan untuk kegiatan berkebun menanam tanaman asoka dan tanaman produktif lainnya. Andajani, guru pembina lingkungan, mengaku pihak sekolah memang dari awal sudah membuat konsep Layanan Orientasi Siswa berbasis perilaku ramah lingkungan.

“Sebelum kegiatan berkebun ini, kemarin kami mengajak seluruh siswa baru untuk makan pagi bersama dengan membawa bekal makanan sendiri menggunakan tempat makan dan botol minum yang ramah lingkungan bebas plastik,” ungkap Andajani. Harapannya, setelah LOS ini, siswa baru akan mengerti tentang program lingkungan yang ada di sekolah agar mereka bisa beradaptasi dan berkontribusi untuk sekolahnya. (ryn)

Keterangan Foto Diatas : Gieofany, mahasiswa STT Jakarta mendampingi siswa baru SMPN 40 menanam tanaman asoka sebagai bagian dari kegiatan Layanan Orientasi Siswa di sekolahnya, Rabu (19/07).

2 thoughts on “SMPN 40 Ajak Siswa Baru Tanam Asoka Dengan Kompos Sendiri

  1. Pengenalan lingkungan pada saat LOS merupakan kegiatan utama untuk menciptakan siswa baru ini mengenal tata letak ruangan ruangan dan lain lain di sekolah. Tetapi tidak semua kegiatan pengenalan lingkungan mengenalkan tata letak sekolah saja, kita bisa mengajak siswa baru untuk lebih mengenal maskot dan lingkungan hidup yang ada di sekolah, dengan cara menanam seperti yang dilakukan peserta LOS 2017 di SMPN 40. Supaya, sejak awal SMP inilah, mereka yang belum mengenal lingkungan menjadi seorang yang peduli lingkungan, dan kelak ia akan mengajak dan menularkan kegiatan lingkungan turun temurun ke adik adiknya yang baru di tahun kemudian.

  2. kegiatan berkebun dengan cara mengajak siswa baru adalah tujuan sejak awal SI CILUNG SPENFORTY, untuk lebih mengajak siswa didik baru untuk menjaga dan mencintai lingkungan .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *