Pengenalan isu-isu lingkungan yang terkait dengan kondisi sekolah disampaikan kepada lebih dari 465 orang siswa baru dengan cara menyenangkan. Lebih dari 50 orang siswa baru SMK Adhikawacana berbondong-bondong menuju ke depan pemateri yang berasal dari Tunas Hijau untuk menukarkan hadiah. Hadiah berupa stiker lingkungan hidup itu diperoleh karena mereka membawa botol air minum ramah lingkungan di hari pertama masuk LOS, Selasa (18/07).

Dalam Layanan Orientasi Siswa ini, aktivis Tunas Hijau, Anggriyan Permana, mengingatkan kepada ratusan siswa baru tentang kebiasaan yang tidak ramah lingkungan yakni menghasilkan kresek atau plastik sekali pakai. “Siapa diantara kalian yang terbiasa untuk menggunakan plastik sekali pakai atau kresek di setiap aktivitasnya?” tanya Anggriyan. Pertanyaan tersebut mengacu pada jumlah siswa yang tidak lebih dari seperempatnya memiliki botol minum sendiri.

Faktanya, rata-rata orang Indonesia menggunakan 700 kantong plastik setiap tahunnya, ditambah untuk memproduksi kantong plastik menghabiskan 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon. Hasil fakta dari kementerian lingkungan hidup tersebut mampu membuat mereka tercengang. Alasannya yakni bagi mereka, kantong plastik atau kresek merupakan hal kecil atau sederhana yang menjadi sampah paling banyak dibuang.

Dewi Oktaviasari, salah seorang siswa baru mengaku kaget dengan disampaikannya fakta tentang kantong plastik. “Selama ini, saya menganggap plastik itu hal yang diremehkan jadi gampang dibuang sembarangan. Setelah tahu faktanya, jadi ngeri juga ya kak,” ucap Dewi, mantan siswa SMPN 52. Momen Layanan Orientasi Siswa di sekolah yang berdekatan dengan SMKN 10 dimanfaatkan oleh Anggriyan mengajak peserta LOS untuk mengurangi penggunaan kantong plastik dan menggantinya dengan tas kain.

“Saya ingin mengajak kalian semua untuk berhijrah, dari yang dulunya masih belum peduli lingkungan. Mulai kini perlahan untuk peduli lingkungan. Cara sederhananya adalah dengan tidak menghasilkan kantong plastik. Jadi menggantinya dengan tas kain, kalau kalian menggunakan tas kain toh masih keren dan masih jadi anak gaul kok,” ungkapnya . Ajakan yang dilontarkan mendapat respon positif dibarengi dengan gelak tawa kecil dari mereka.

Menjadi penutup kegiatan Layanan Orientasi Siswa, Dani Andri, pegiat Tunas Hijau yang juga mahasiswa UNESA mengajak perwakilan peserta membuat lubang resapan biopori. Kegiatan tersebut untuk memperkenalkan aksi nyata yang bisa dilakukan pada tingkatan sekolah mengatasi permasalahan lingkungan di sekolah. “Salah satu fungsi biopori ini adalah untuk menyerap air hujan ke dalam permukaan tanah, jadi saat hujan turun sekolah kalian bisa bebas dari banjir,” ucapnya.(ryn)

Keterangan foto diatas : Perwakilan peserta didik baru SMK Adhikawacana mencoba membuat lubang resapan biopori di halaman parkir sepeda motor sebagai salah satu upaya mengatasi permasalahan lingkungan hidup di sekolah yang salah satunya adalah kurangnya daerah resapan air pada saat momen Layanan Orientasi Siswa, Selasa (18/07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *