Bagas dan Fira, dua diantara ratusan siswa baru SMPN 19 terlihat antusias saat membuat kertas daur ulang dari kertas bekas. Pengalaman kali pertama itu didapatkan kala mengikuti kegiatan Layanan Orientasi Siswa (LOS) yang diselenggarakan bersama dengan Tunas Hijau, Senin (17/07). Dengan didampingi oleh Gieofany, mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Jakarta semester 3 yang sedang mnjalani program Internship atau magang.

Dalam Layanan Orientasi Siswa yang kesekian kalinya bekerja sama dengan Tunas Hijau, sebanyak 400 orang siswa baru dibagi menjadi beberapa kegiatan dengan tema yang berbeda-beda. Seperti daur ulang kertas, pengomposan dengan keranjang komposter, tong komposter aerob, pengenalan energi solar panel sebagai energi alternatif, keanekaragaman hayati, pemilahan sampah dan waste wise atau bijak dalam menghasilkan sampah.

Bukan hanya sekedar diajak untuk melihat tahapan pembuatan daur ulang kertas saja, mereka diajak langsung untuk mencoba membuat daur ulang kertas dengan bahan baku koran bekas. Menurut Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, pengenalan lingkungan tidak hanya diberikan melalui edukasi wawasan dan teori saja, melainkan praktek langsung agar mereka bisa lebih memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan.

“Melihat cara daur ulang kertas dari koran bekas ternyata gampang, saya bisa mencobanya sendiri di rumah. Karena saya punya banyak koran bekas yang bisa saya gunakan.” Respon Ferry, siswa baru saat ditanya bagaimana kesannya mengikuti kegiatan daur ulang kertas. Beberapa siswa mencoba langsung membuat daur ulang kertas dan hasilnya diletakan di banner yang disediakan. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengajak mereka bijak untuk menggunakan kertas, karena untuk memproduksi satu rim kertas dibutuhkan satu batang pohon berusia 5 tahun.

Sementara itu, terik matahari dan lelah beraktivitas menjadi waktu yang pas bagi OSIS sekolah yang berada di Jalan Arief Rachman Hakim nomor 103B untuk membagikan es krim sukun gratis. Uniknya rasa dan bahan baku yang terbuat dari buah sukun hasil kebun sekolah membuat, banyak siswa baru yang langsung jatuh hati pada rasa dan teksturnya. “Sekolah kami memiliki pohon sukun yang cukup banyak, makanya kami manfaatkan buahnya untuk jadi es krim. Selain itu, es krim ini adalah produk unggulan dari sekolah kami yang berasal dari potensi sekolah,” ucap Dian Rahmawati.

Layanan orientasi siswa atau LOS merupakan kegiatan yang diadakan untuk memfasilitasi siswa baru menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru bagi mereka, sekaligus menjadi momen penting mengenalkan permasalahan lingkungan hidup. Dian Rahmawati, Guru Pembina Lingkungan Hidup SMPN 19 menginginkan siswa baru, belajar peka terhadap masalah lingkungan hidup. Karena untuk menjadi sekolah adiwiyata butuh memiliki kepedulian yang tinggi pada lingkungan. (frd/ryn)

Keterangan Foto Diatas : Gieofany,  mahasiswa STT Jakarta, Frida Andriani, mahasiswa jurusan HI Universitas Brawijaya bersama Joao Perreira, mahasiswa asal Portugal mengajak siswa baru di SMPN 19 Surabaya untuk membuat kertas daur ulang dari kertas bekas hasil sampah mereka pada LOS (Layanan Orientasi Siswa), Senin (17/07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *