Setiap harinya sebanyak 1500 ton sampah yang dihasilkan oleh warga Surabaya dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Jumlah sebanyak tersebut didapat dari adanya jembatan timbang yang berfungsi untuk menghitung volume setiap truk sampah yang masuk area TPA Benowo. Tempat pembuangan akhir yang sejak 2012 dikelola oleh swasta ini menjadi tempat favorit Tunas Hijau dalam memperkenalkan permasalahan lingkungan skala kota pada warga sekolah.

Menjelang digelarnya tahapan karantina finalis Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2017 pada 14-16 Juli 2017 di Taman Flora Bratang. Salah satu agenda kegiatan fieldtripnya yakni mengunjungi tempat pengolahan yang menjadi pilot project TPA percontohan di Indonesia.  Pada kesempatan kali ini, Tunas Hijau akan mengulik membahas lebih dalam tentang TPA Benowo. Dalam kunjungannya, fakta terbaru yang diperoleh aktivis Tunas Hijau adalah berkurangnya jumlah pemulung  disana.

Disampaikan oleh Andi Budi, Kepala Departemen HRD TPA Benowo, jumlah pemulung saat ini sudah berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yakni sebanyak 350-400 orang. Bila dibandingkan pada  beberapa tahun sebelumnya yang mencapai angka 1200 orang. Tanda tanya besar terkait proses pengolahan sampah yang dikembangkan oleh mereka. Faktanya, berkurangnya jumlah pemulung ini karena mereka menerapkan sistem  geo membran atau diberi penutup seperti terpal.

“Tujuan dari pemasangan terpal hitam ini agar tumpukan sampahnya nggak bau dan gas metana yang dihasilkan tersimpan dengan baik,” ucap Andi. Tidak hanya sebagai penghasil gas metana saja, dengan ditutupnya gunungan sampah membuat semakin sedikitnya lalat yang dikenal kerap menjadikan gunungan sampah itu sebagai habitatnya. Dengan berkurangnya lalat, resiko peningkatan kesehatan pekerja menjadi besar.

Mengulik lebih dalam lagi, ternyata fakta lain yang ditemukan oleh Yongky Dwi Prasetyo bersama tiga orang mahasiswa program internship atau magang. Fakta tersebut yakni di depan pintu masuk TPA Benowo sedang dalam proses pembuatan hutan mengelilingi area TPA atau yang disebut sebagai buffer zone. Buffer Zone atau yang lebih akrab disebut Green Belt ini berfungsi sebagai hutan penyangga kebutuhan oksigen, memfilter udara yang ada di sekitar area dan mereduksi bau sampah.

TPA Benowo juga punya teknologi mengolah air limbah dengan cara yang beda. “Melalui teknologi terbaru saat itu, kombinasi Advance Oxidation Process dan nano filter mampu mengubah air lindi atau air kotor rembesan sampah menjadi air bersih. Sekalipun belum layak minum, air tersebut sudah bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, seperti mencuci atau menyiram tanaman,” imbuh Andi.

Menariknya lagi, ribuan tanaman bambu yang tersebar di lokasi TPA. Bambu tersebut dipilih  karena daun bambu yang rendah dan rapat bisa mengurung bau agar tidak menyebar. Sebagai kepala departemen HRD, Andi menghimbau kepada seluruh finalis Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2017 yang besok melakukan kunjungan fieldtrip ke tempatnya agar menyiapkan topi, masker dan botol air minum yang ramah lingkungan. (ryn)

3 thoughts on “Ngulik TPA Benowo, Salah Satu Lokasi Fieldtrip Pangput LH 2017 Saat Karantina

  1. Bercerita tentang TPA Benowo sebagai pilihan salah satu rangkaian kegiatan karantina calon pangeran putri LH 2017 sangat tepat.Dengan demikian para calon mendapat pengetahuan tentang bagaimana perjalanan sampah mulai dari rumah/ sekolah sampai ke TPA yang setiap harinya mencapai 1.500 ton per hari,proses pengolahan sampai pada hasil yang perolehnya.Saya bersyukur bisa mengikuti fieldtrip bersama guru pembina Pangput se kota Surabaya yang dipandegani oleh Tunas Hijau Surabaya.
    Banyak pengetahuan yang kami dapat dari kegiatan tersebut.Sebelum sampai di lokasi para peserta sudah menutup muka dengan masker karena yang saya bayangkan adalah bau yang luar biasa.Namun apa yang kami adalah jauh berbeda.Begitu masuk gerbang kita disambut dan diarahkan ke ruang miting yang mana suasanya tidak ada bedanya dengan Hotel,yang ruang ruang dan kamar mandinya sangat bagus dan bersih.Dengan tenaga profesional 1.500 ton per hari lingkungan tidak tercemari dengan bau sampah.Para petani tambakpun tidak terganggu dengan sampah.
    TPA Benowo mampu mengolah bau cairan lindi dari sampah organik menjadi listrik hingga 1,6 sampai 2 mega wat per hari yang selanjutnya dijual ke PLN dan selanjunya kita gunakan untuk elektronik setiap hari.
    Namun walaupun sampah di Surabaya sudah ditangani oleh tenaga2 profesional yang luar biasa,saya tetap berpesan kepada warga Surabay khususnya anak anak calon genermasi.Ayo kita mulai berperilahu ramah lingkungan:
    1.Buang sampah pada tempat yang disesiakan
    2.Gunakan tempat makan dan minum yang dapat digunakan lagi
    3.Stop plastik sekali pakai/kemasan
    4.Tanam apapun di sekitar rumah kita agar menghasikan oksigen
    5.Masih banyak lagi kegiatan yang membuat lingkungan menjadi cantik.
    Terima kasih Tunas Hijau,Terima kasih Bu Risma.Surabaya menjadi Pilot projek di Indonesia.Sukses semuanya.Salam bumi…..Pasti lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *