Individu ini mempunyai pengalaman menghadapi latar belakang masyarakat yang sebagian besar kurang berkecukupan. Di sekolah sebelumnya, SMPN 11 Surabaya, sebagai wakil kepala sekolah, dirinya tidak kaget dengan kondisi perilaku warga sekolahnya yang awalnya kurang peduli lingkungan. Pengalaman itu digunakan oleh Kepala SMPN 41 Surabaya Hanifa untuk mengajak warga sekolahnya maju memperkenalkan potensi sekolah kepada dunia luar.

Kali pertama memimpin SMPN 41 Surabaya pada 2014, dirinya memberikan motivasi bahwa di sekolah sebelumnya, dirinya berhasil membawa sekolah tersebut dikenal banyak orang. “Apalagi di SMPN 41, yang masih agak ke tengah kota, pasti lebih bisa memperkenalkan potensi sekolah hingga dapat meningkatkan prestasi anak-anak disini,” tantang Hanifa. Dengan tekad dan suara yang sama, seluruh guru, karyawan dan siswa mendukung setiap program dan kebijakan yang dibuatnya.

Hasilnya, selama dua tahun terakhir, segudang prestasi berhasil ditorehkan anak didinya berkat kepiawaian dan tangan dingin kepala sekolah kelahiran Probolinggo ini. Diantaranya adalah pada ajang peneliti belia yang menjadi juara di tingkat nasional hingga membawa sekolah maju ke tingkat nasional dalam program sekolah berbudaya lingkungan hidup Adiwiyata.

“Gebrakan awal yang saya lakukan adalah menata pengelolaan di kantin dengan melakukan kerjasama MoU dan melibatkan secara langsung pihak kantin di dalam setiap program lingkungan di sekolah,” ujar Hanifa.

Dikenal sebagai sosok yang humble atau mudah membaur oleh guru-guru dan siswa, membuat kepala sekolah kelahiran 5 Juni 1969 ini langsung membuat berbagai macam kebijakan yang pro lingkungan. Diantara kebijakan terbesarnya adalah mengenai aturan pengurangan kemasan plastik di kantin dan larangan membawa bungkus plastik dari luar ke dalam sekolah. “Saya tidak pernah menganggap penjual kantin sekolah itu orang luar. Saya malah menjadikannya satu kesatuan keluarga besar SMPN 41 Surabaya,” imbuhnya.

Dengan strategi itu, dimana setiap kali rapat atau pertemuan membahas kompetisi atau program lingkungan yang diikuti sekolah, dirinya langsung menghimbau agar pihak kantin memperhatikan makanan yang dijual harus makanan yang bergizi dan bebas bungkus plastik sekali pakai.

“Awalnya banyak penolakan dari penjual kantin sekolah dengan berbagai alasan. Mulai dari takut rugi karena harus menyediakan gelas dan piring, takut inventaris gelas dan piring milik kantin tidak kembali dan hilang,” ucap kepala sekolah yang juga guru matematika ini.

Perjuangan membuat pihak kantin bisa benar-benar merealisasikan kebijakan yang dibuatnya butuh waktu hingga satu tahun. Langkah Hanifa tidak hanya berhenti pada petugas kantin. Petugas keamanan pun diberikan mandat untuk menghimbau dan melarang warga sekolah yang kedapatan membawa bungkus plastik sekali pakai dari luar yang akan masuk ke sekolah.

“Saya minta Satpam sekolah untuk menghimbau anak-anak yang kedapatan jajan di luar sekolah. Makanannya harus dihabiskan di tempat itu juga, tidak diperkenankan membawa ke dalam sekolah. Saya minta Satpam untuk menginformasikan kebijakan itu ke penjual makanan minuman di luar sekolah,” pungkas Hanifah.

Setiap rapat atau pertemuan dengan wali murid, Hanifa selalu menyampaikan himbauan untuk terlibat aktif dalam kegiatan lingkungan di sekolah. Termasuk meminta ijin kepada mereka untuk melibatkan anak-anaknya menjadi kader lingkungan.

Sosok pemberi solusi dan time keeper dan monitoring kegiatan lingkungan ini menilai bahwa untuk menciptakan iklim pembiasaan peduli lingkungan di sekolah tidak bisa dibuat secara instan. “Membudidayakan untuk peduli lingkungan memang tidak terlihat perubahannya di awal, melainkan sebuah proses budidaya perilaku pembiasaan peduli lingkungan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan,” cetus lulusan S2 Universitas PGRI Adi Buana.

Rencana besarnya, ingin mengajak warga sekitar sekolah dengan radius 500 meter untuk diberikan edukasi mengenai perilaku ramah lingkungan dan makanan sehat. Koordinasi dengan pihak RT dan RW dan SDN Kapasari III Surabaya juga akan dilakukan.

“Paling tidak goalnya ada dua, yakni mengajak pedagang atau penjual warung untuk mengurangi penggunaan plastik kemasan sebagai bungkus dan menggantinya dengan gelas dan piring. Serta mengajak mereka untuk menjual makanan sehat dan bergizi,” ucap Hanifa yang juga peraih penghargaan Eco Headmaster (Junior) of the Year 2015. (ryn)

3 thoughts on “Kepala SMPN 41 Surabaya Hanifa, Pejuang Zero Waste

  1. Saya salut dengan kepemimpinan ya beliau tanpa membedakan siapa dia dan selalu bersikap adil pd siapapun itulah pemimpin yg baik dan bisa dipertanggungjawabkan di akherat nanti

  2. Kita harus berani
    Kita harus mulai
    Dari diri sendiri
    Dan mengajak semua dilingkungan kami
    Untuk memerangi sampah di sini
    Untuk menyelamatkan bumi
    Sebagai warisan untuk anak cucu kami
    Harapan dan aksi dari Ibu Hanifa Kepala SMPN 41 Surabaya perlu diakui dan diteruskan karena KITA BISA

  3. Ibu yang satu ini sangatlah peduli dengan kesehatan anak anak dan perkembangan sekolah, khususnya adiwiyata. Mulai dari awal paragraf ibu ini memang sudah identik dengan cinta lingkungan, apalagi di jabatanya sebagai pemimpin suatu sekolah yang harus memberi solusi di setiap masalah sekolah. Program lingkungan yang ibu Hanifa ini langsung tertuju di kantin sekolah, sampah pasti selalu ada dan itulah masalah yang biasanya terjadi di kantin jika kita tidak bisa menyelesaikan nya. Saya berharap ibu Hanifa bisa memimpin seluruh jajaran sekolah untuk ikut berpartisipasi membuat SMPN 41 Surabaya menjadi sekolah ramah lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *