Puspa Agro bagi sebagian besar orang merupakan pasar induk yang tidak hanya menjual barang-barang pertanian, tapi juga perkebunan, perikanan, peternakan dan industri. Namun, tidak banyak orang yang tahu bahwa di tempat ini terdapat tempat inovasi percepatan pengolahan sampah organik melalui metode budidaya lalat sampah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Black Soldier Fly (BSF) Composting.

Lalat dengan nama latin Hermetia Illucens menjadi salah satu lalat yang tidak mengandung penyakit maupun menjadi perantara penyakit. Faktanya, lalat tentara hitam yang terkenal lalat rakus ini bermanfaat untuk mempercepat proses pengolahan sampah organik. Fakta tersebut yang membuat rasa ketertarikan dua mahasiswa STT Jakarta dan dua aktivis senior Tunas Hijau untuk belajar prosesnya meskipun harus menempuk jarak lumayan jauh.

Dijelaskan oleh Putra, koordinator pabrik pengolahan material organik di Puspa Agro, bahwa prosesnya sampah organik seperti sampah buah-buahan, sayur maupun sampah dapur dicacah halus. “Kalau sudah dicacah baru kami sebar ke beberapa kotak ini ukurannya adalah setiap 5 kg sampah organik diberikan 15.000 larva lalat agar mengurai sampah organiknya. Dari proses itu, kami akan lihat perkembangannya hingga dalam 14 hari siap panen,” ucapnya.

Ditambahkan oleh Wawan, salah seorang staff yang juga sarjana perikanan UNAIR, bahwa manfaat dari penggunaan metode BSF (Black Soldier Fly) sangat banyak. Selain digunakan untuk mempercepat pengolahan sampah organik, manfaat lainnya adalah sebagai bahan baku pakan ternak dan pakan ikan. ”Sampah dapur dari kelurahan Jambangan melalui PDU Jambangan pun dibawa kesini untuk kami teliti dan olah dengan BSF. Senin depan bisa dipanen,” ucap Wawan.

Metode BSF ini memang dikenal sebagai salah satu alternatif inovasi percepatan waktu penguraian sampah organik bila dibandingkan dengan cara konvensional. Bahkan, metode ini masih lebih baik dibandingkan dengan bantuan cacing. “Kalau dengan metode cacing, untuk bisa mengolah sampah organik 5 kg membutuhkan cacing dalam jumlah banyak. Lain halnya dengan BSF yang hanya membutuhkan sedikit dan dalam waktu singkat yakni 14 hari sedangkan bila cacing waktunya bisa hingga 3 bulan,” imbuhnya.

Mendapatkan pengetahuan baru, membuat Renita Evelina, mahasiswa STT Jakarta ini merasa bahwa mempelajari lingkungan ini membuatnya menemukan pengalaman-pengalaman dan informasi baru. “Menyenangkan sekali ternyata metode BSF ini kali pertama saya mendengar dan melihat langsung prosesnya. Ternyata larva lalat yang selama ini banyak disepelekan mempunyai peranan penting dalam mengolah sampah organik yang kita hasilkan,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Gieofany, mahasiwa yang identik dengan topi ini begitu tertarik dengan adanya siklus dari lalat sampah ini. “Bermula dari larva kecil yang mengolah sampah organik, menjadi larva siap panen, ditetaskan menjadi lalat sampah hingga lalat sampah itu kawin dan bertelur dan akhirnya mati setelah bertelur,” ujar Gieo. Dirinya begitu meyakini bahwa di dunia ini tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia atau tidak memiliki manfaat bagi makhluk hidup lain, termasuk lalat sampah.

Sebelum mengakhiri kunjungan belajar siang itu, Putra yang juga mitra PDU Jambangan sangat terbuka bila ada sekolah Surabaya tertarik untuk belajar dan mengetahui prosesnya dipersilahkan. “Kalau dari adik-adik pelajar Surabaya mau datang belajar dan melihat prosesnya ya silahkan. Kami akan dengan senang hati mengajarinya. Tapi ya kalau mau kunjungan konfirmasi ke saya lebih dulu ya,” tutur Putra. (ryn)

Keterangan foto: proses pengomposan sisa makanan dengan Black Soldier Fly (BSF) Composting.

2 thoughts on “Mengenal BSF Composting di Puspa Agro

  1. Subhanallah, hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya ternyata begitu banyak memberi manfaat untuk kehidupan. Kehadiran lalat di tempat ini memberikan manfaat tersendiri bagi Puspa Agro. Lalat adalah hewan yang identik dengan sampah. Masalah sampah menjadi masalah utama perkotaan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Kehadiran sampah erat kaitannya dengan munculnya aroma tak sedap serta kehadiran lalat. Sebagian besar orang tentu jijik jika melihat lalat. Apalagi, saat bersarang di kumpulan sampah organik dan anorganik.
    BSF dalam mengolah limbah sampah dapat menghasilkan rupiah yang sangat besar. Tentu saja, bila berkembang ke depan. Karena selain mengurai sampah, sarana yang diciptakanya juga menghasilkan pupuk untuk tanaman dan sumber protein tinggi bagi pakan ternak.

    Hasil olahan BSF, memiliki kandungan protein larva mencapai 45 persen, lemak 35 persen, serta asam aminonya lengkap. Selain itu, BSF juga mengandung zat kitin yang baik untuk pupuk. Sisa larva BSF pun bisa dikembangkan menjadi bahan baku untuk komestik kulit.

    Semoga semakin banyak diantara kita yang tergerak untuk lebih peduli dengan lingkungan. Dari kita untuk kita.
    Tetap semangat, BIsmillah PASTI BISA

  2. Lewat belajar manusia bisa tahu, tahu dari pengalaman orang lain, atau tahu dari membaca sebuah kajian atau buku. Dengan belajar di lapangan inilah yang lebih faktual bila mau untuk berinterakasi dengannya. Karena fakta-fakta yang ada akan dapat disaksikan tidak sekedar teori sebagaimana metode pembuatan pupuk menggunakan BSF. Dengan datang kelapangan tempat proses pembuatan pupuk kompos tersebut akan lebih akurat data yang didapatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *