Lebih dari 300 orang siswa kelas 7 SMPN 9 Surabaya mengikuti Workshop Lingkungan Hidup Menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri, Rabu (10/5). Workshop yang diselenggarakan oleh SMPN 9 Surabaya bersama Tunas Hijau ini digelar mulai pukul 08.30 – 15.30 WIB di aula sekolah.

Aktivis Senior Tunas Hijau Anggriyan Permana dalam materinya menyampaikan bahwa sampah tidak cukup dibuang pada tempat sampah yang sesuai. “Sampah yang dibuang pada tempatnya, banyak yang berujung menjadi masalah besar bagi lingkungan dan juga satwa,” kata Anggriyan Permana sembari menunjukkan beberapa satwa di laut yang menderita karena sampah.

Aktivis Senior Tunas Hijau Bram Azzaino mengajak ratusan siswa, yang sudah sekitar 2 tahun menjadi warga SMPN 9 Surabaya itu, untuk menuliskan yang disukai dan yang tidak disukai dari sekolahnya. “Tulis lingkungan hidup SMPN 9 Surabaya yang kalian sukai dan yang tidak disukai,” pinta Bram Azzaino.

Beragam pendapat pun bermunculan mengenai lingkungan hidup SMPN 9 Surabaya. Ada siswa yang tidak suka dengan bau menyengat biogas yang diletakkan di sekitar toilet. Ada yang suka dengan banyaknya pepohonan di sekolah karena memberikan kerindangan. Ada juga yang tidak suka dengan banyaknya pepohonan karena ulatnya yang pada saat tertentu banyak.

Kevin Irianto,  ketua OSIS SMPN 9, mengapresiasi tim extra basket dan paskibra yang mau bersih-bersih lapangan sebelum dan sesudah latihan. “Di sekolah ini sudah ada banyak biopori, tapi masih sering didapati banyak sampah plastik yang mengisi biopori itu,” kata Kevin Irianto mengenai sekolahnya. Kevin juga mengapresiasi kantin sekolahnya yang sudah tidak menjual makanan dan minuman dengan kemasan plastik sekali pakai.

Sedangkan Feri Firmansyah mengaku pernah mengusulkan agar kolam ikan dipasangi jaring. “Agar tidak terkena bola, tapi belum disetujui sampai sekarang,” kata Feri Firmansyah. Banyak siswa yang masih membawa makanan dan minuman dengan kemasan plastik sekali pakai dari luar.  Alhasil, banyak sampah plastik bungkus makanan dan minuman didapati di dalam sekolah,” terang Feri Firmansyah.

Sementara itu, Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni menyampaikan beberapa kisah sukses sekolah-sekolah di Surabaya yang berhasil menerapkan budaya lingkungan. “SDN Kaliasin I Surabaya selama sekitar 8 pekan pelaksanaan Ecopreneur 2017 berhasil meraup total penjualan lebih dari 29 juta rupiah. Sekolah ini juga berhasil memproduksi kompos lebih dari 500 kg selama Maret – Mei 2017 ini,” terang Zamroni. Beberapa kisah sukses sekolah yang lain juga disampaikan.

Para siswa itu juga diminta untuk saling mengingatkan sesama warga sekolah untuk merealisasikan budaya lingkungan hidup di sekolah. “Biasakan membawa bekal makan dan minum sendiri dengan kemasan yang bisa digunakan berulang kali. Lebih sehat dan higienis. Sampah non organik kemasannya juga bisa dikurangi,” jelas Zamroni.

Sementara itu dalam sambutannya Waka SMPN 9 Surabaya Carwin menyampaikan agar para siswa melaksanakan ajakan peduli lingkungan hidup yang disampaikan melalui workshop. “Hari ini kalian digembleng menjadi kader lingkungan Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini,” pinta Carwin. (ron)

Keterangan foto utama: Peserta Workshop Lingkungan Hidup SMPN 9 Surabaya makan dengan bekal yang mereka bawa dari rumah dengan kemasan yang bisa berulang kali pakai

 

3 thoughts on “Workshop LH SMPN 9, Siswa Diminta Review yang Disukai dan Tidak Disukai

  1. Workshop lingkungan hidup seyogyanya perlu diadakan secara berkala setiap tahun atau pun setiap semester. Dengan harapan agar warga sekolah mengingat kembali, melakukan kembali, menambah wawasan, mengetahui perkembangan terkini, tentang isu lokal yang sedang terjadi terkait dengan lingkungan. Bersama Tunas Hijau kita dapat mewujudkan harapan-harapan itu.
    *Mari kita wujudkan ‘Indah, Hijau, dan Bersihnya Bumi Berawal dari Sekolah’ bersama Tunas Hijau*

  2. Evaluasi pelatihan adalah penilaian atas training yang telah terlaksana, merujuk pada proses mengumpulkan hasil-hasil yang diperlukan untuk menentukan apakah suatu pelatihan efektif atau tidak. Bentuk dasar evaluasi pelatihan adalah perbandingan objektif dengan pengaruh-pengaruhnya untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh pelatihan telah mencapai tujuannya. Evaluasi pelatihan juga merupakan teknik pengukuran untuk mengetahui sejauh mana program pelatihan memenuhi tujuan-tujuan yang diinginkan. Jadi, evaluasi pelatihan berfokus pada hasil-hasil pembelajaran yang kemudian hasil tersebut dibandingkan dengan tujuan awal diselenggarakannya program pelatihan.

    Kegiatan pelatihan seperti ini sudah seharusnya ditingkatkan agar semakin banyak warga sekolah yang mengerti bagaimana sikap terbaik untuk Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
    SMPN 9, Keep your Spirit!!

  3. Untuk mengetahui sejauh mana materi workshop itu diserap oleh para peserta memang perlu adanya revew terhadap, dengan begitu akan dapat diketahui hal mana yang paling berkesan bagi para peserta workshop dan hal mana yang menjemukan. Kemudian dari informasi yang didapat diadakan evaluasi ke depannya agar kegiatan workshop menjadi lebih bermakna, hal itulah yang dilakukan oleh panitia Workshop LH SMPN 9 Surabaya.
    Semoga kegiatan ini ada kelanjutannya untuk memperdalan pengetahuan tentang arti pentingnya lingkungan hidup bagi kita semua.

    Bravo untuk SMPN 9 Surabaya.
    Sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *