Syahira Septi, siswa kelas 5 SDN Sememi I Surabaya ini dikenal oleh guru-guru pembina lingkungan sebagai seorang komando atau leader bagi teman-temannya. Pengolahan sampah organik melalui media tong komposter menjadi proyek lingkungan yang dipilihnya.

Calon puteri lingkungan hidup dengan nomor urut 222 dari SDN Sememi I ini menargetkan dirinya bersama tim bisa memanen kompos yang diolahnya sebanyak 500 kg selama 6 bulan. Sekolah pun memfasilitasinya dengan menyediakan sebanyak 6 tong komposter aerob yang menjadi media kerjanya.

Informasi tersebut disampaikan kepada Tunas Hijau saat melakukan pemantauan lapangan perkembangan proyek lingkungan hidup peserta program Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2017, Kamis (4/5).

Sebagai seorang leader, dalam mengembangkan proyek pengomposannya, dirinya tidak kesulitan untuk mengerahkan massa membantunya merawat keenam tong komposter yang ada di sekolah. Dimulai dengan melibatkan teman-teman satu kelasnya sendiri untuk mengisi tong komposter dengan sampah daun kering.

Syahira Septi dengan pengomposan menggunakan tong aerob

Syahira bersama timnya yang berjumlah 10 orang ini juga rutin menggelar aksi grebek pasar setiap satu minggu sekali. Lokasi pasar yang dekat dengan sekolah, membuat mereka tidak susah untuk mengumpulkan hingga mendapat lebih dari 2 karung.

“Selasa (2/5) kemarin, kami baru saja panen kompos tong komposter yang ada di dekat green house, setelah dipanen saya mengajak anak-anak grebek pasar mengumpulkan sampah organik sayuran untuk mengisi tong komposternya,” ucap Syahira.

Perkembangan proyek lingkungan hidup juga terus dipantau oleh Nurul Huda, guru pembina lingkungan dan proyek Syahira. Menurutnya, selain di sekolah dirinya juga sudah menerapkan pengomposan di rumah.

“Kalau di rumah, anak ini mulai dengan membuat media pengomposan sendiri dari ember bekas yang dibuat sama seperti sistem tong komposter. Sosialisasi pengomposan pun segera dilakukan di momen ibu-ibu pengajian, ibu-ibu PKK yang ada di kampungnya. Dampaknya, pasca sosialisasi mereka banyak yang ingin belajar membuat kompos kepadanya,” ujar Nurul Huda.

Sementara itu, Tarisa Ramadhani, calon puteri lingkungan hidup 2017 nomor 204 yang memiliki proyek sama yakni pengolahan sampah organik tapi dengan media berbeda yakni keranjang komposter. Siswa yang berasal dari SDN Sambikerep II ini mengembangkan proyek lingkungan hidupnya bekerja sama dengan pihak kantin.

“Saya bekerja sama dengan kantin sekolah kak, kalau ada sisa makanan di kantin. Saya meminta ibu kantinnya untuk ditaruh di tempat khusus agar nanti saat siang hari bisa saya olah jadi kompos,” ucap Tarisa, siswa kelas 5.

Sosialisasi mengenai pentingnya mengolah sampah organik gencar dilakukan dengan melibatkan hampir seluruh warga sekolah. Bersama dengan timnya, minimal satu minggu sekali, mengajak teman-temannya di sekolah untuk mengetahui proses pengolahan sampah organik sisa makanan menjadi kompos dengan keranjang komposter.

“Saat saya praktek pengomposan di depan mereka, awalnya mereka agak menjauh karena takut bau. Tetapi setelah mengetahui ada hal yang menurut mereka seru, baru mereka berani mencoba untuk mengolahnya sendiri,” ujar siswa yang dikenal sebagai pribadi pendiam.

Sementara itu, Sudarmawan, guru pembina lingkungan sekaligus pembina proyeknya, mengatakan bahwa Tarisa sudah mengembangkan proyeknya di rumah. Sekolah sudah meminjamkan satu keranjang komposter untuk diadopsi hingga bisa panen. Anak ini, menurut Sudarmawan, termasuk rajin sosialisasi kepada tetangga-tetangganya untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

“Sampai di depan rumahnya ada tetangga yang berjualan nasi bebek, oleh siswa yang notabene pemalu ini diajak kerjasama agar mereka mau menyisihkan sisa makanan dan sampah organik untuk diolah menjadi kompos oleh Tarisa. Setelah panen, kompos itu diberikan sebagian kepada tetangga yang ada di depan rumahnya,” ujar Sudarmawan. (ryn)

3 thoughts on “Tong Aerob Syahira, Takakura Tarisa

  1. TONG AEROB SYAHIRA, TAKAKURA TARISA
    Ya…………pengolahan sampah inilah yang paling utama dalam kegiatan lingkungan, karena dari sinilah awal mulah permasalahan klasik itu timbul. Dari Pengolahan Sampah ini menjadi pupuk melalui media Tong Aerob maupun Takakura seperti yang dilakukan oleh Syahira dan Tarisa akan memberikan alternatif tersendiri dalam mngurangi buangan sampah organik yang kadang kala menimbulkan masalah ini.

    Coba kalau kita hitung-hitungan sederhana yaitu dengan mengolah sampah organik per hari 2 Kg saja maka dalam satu minggu akan terkumpul 2X7 = 14 Kg sampah organik yang adapat diolah oleh satu keluarga, Sekarang kalau di lakukan oleh satu RT sata yang terdiri dari 100 KK maka akan termanfaatkan sampah organik 14 X 100 = 1400 Kg dalam 1 minggu/pekan.

    Nah proyek dari Syahira dan Tarisa ini kalau dapat diadopsi oleh warga saru Rt saja makan akan banayk mengurangi sampah di TPA Benowo sebanyak 1 ton 400 Kg per -Pekannya. Mudah-mudahan proyek dari anak pangput ini dapat memberikan solusi dari permasalahan sampah yag ada di masyarakat

    Bravo untuk 2 anak yang cantik ini, sukses selalu yaaa

  2. Tak mudah mengolah sampah dengan menggunakan tong aerob dan keranjang takakura, namun 2 supergirl ini telah membuktikan bahwa ‘dimana ada kemauan pasti ada jalan’. Hal tersebut terjadi karena peduli lingkungan hidup memang adalah aksi sederhana yang harus selalu dilakukan setiap hari sepanjang tahun hingga menjadi kebiasaan. Menjadi inspirator cilik untuk lingkungan memang tak mudah, di saat teman-teman seusia mereka sedang asyik bermain dengan dunianya, tapi mereka mampu menjadi agen perubahan. Semoga apapun yang telah dilakukan, bisa memberikan manfaat untuk diri, sesama dan lingkungan.

    Do your Best Syahira and Tarisa!

  3. Tong aerob dan Takakura, Syahira dan Tarisa. Wow…. dua pahlawan Putri lingkungan hidup yang punya perhatian khusus terhadap proyek pengolahan sampah organik. Proyek yang mungkin bagi teman lain merupakan sesuatu yang jorok dan kotor. Namun dua calon kandidat putri lingkungan hidup ini menjadikan sesuatu yang digemari dan disenangi. Mereka pun telah membuktikannya dengan sepenuh hati dan semangat yang tinggi.
    *Sukses selalu untuk Dik Syahira dan Dik Tarisa. Tunjukkan bahwa kalian Pasti Bisa*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *