Pandai membaca peluang pasar menjadi salah satu cara yang diterapkan oleh perusahan siswa SMAK Santa Maria dalam memilih ide bisnisnya. Alasannya, perusahaan siswa bernama Sanmar Eco Production, melihat banyaknya warga sekolah yang memakai tas ransel berbahan kain. Tas ransel dari kain tersebut mampu menarik perhatian warga sekolah lainnya. Kondisi ini dimanfaatkan mereka untuk membuat ide tas ransel dari kain dengan diberi pesan-pesan yang terbuat kain blacu lalu dijahit di tas kainnya.

Informasi itu diterima oleh Tunas Hijau saat melaksanakan pembinaan program wirausaha lingkungan Ecopreneur yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya dan Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya di sekolahnya, Jumat (21/04).

Disampaikan oleh Angelina Jasmine, siswa yang juga merupakan anggota tim produksi ini, bahwa hingga pekan 6 ini mereka sudah berhasil menjual sebanyak 6 tas yang dipesan dari berbagai kota di Indonesia. “Sampai sekarang, sudah 6 buah tas yang sudah laku. Cara pemasangannya lewat media sosial baik itu Facebook, Instagram dan media sosial lainnya,” ujar Anggriyan.

Tas kain produksi Duta Lingkungan SMAK Santa Maria Surabaya

Lebih lanjut, rencananya mereka mau menambahkan ide produk baru dengan memanfaatkan kain perca menjadi dompet, tempat tisu bahkan tempat pensil. “Kami ingin sekali secara bertahap belajar mengenai ecopreneur bukan dari banyak-banyak ini modal atau jumlah produk yang dijual. Lebih dari itu, saya ajak anak-anak yang lain untuk melestarikan lingkungan,” ucapnya.

Selain itu, duta lingkungan atau biasa disebut kader lingkungan di SMAK Santa Maria mendapatkan bantuan 400 biji tanaman cabai untuk ditanam di sekolah maupun dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar sekolah.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, setiap peserta program ecopreneur mendapatkan jatah 400 bibit cabai. “Jadi harus segera di tanam di lahan sekolah dan boleh dibagi-bagikan kepada warga sekolah maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan,” ujar Anggriyan.

Dalam pembinaan tersebut, duta lingkungan langsung memindahkan bibit cabai ke dalam polibag yang akan ditata di area kebun biologi. Mereka juga memanfaatkan lahan kebun sayur yang sebelumnya sudah pernah panen sawi untuk digantikan bibit cabai ini.

Menurut Utami, guru pembina lingkungan, melalui dua media tanam yang berbeda ini, dirinya mengajak mereka untuk melakukan penelitian dengan membandingkan perkembangan pertumbuhan tanaman cabai antara media polibag dan langsung ke tanah.

“Ayo kita bandingkan pertumbuhan tanaman cabai ini dan saat panennya juga mana yang lebih baik antara media polibag dan tanah,” tuturnya. Sebelum berakhir pembinaan hari itu, Utami meminta Tunas Hijau menjelaskan cara pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan menggunakan media keranjang dan tong komposter.  (ryn)

Keterangan foto utama: Siswa Duta Lingkungan SMAK Santa Maria Surabaya memindahkan bibit cabai di tanah langsung

2 thoughts on “Duling Sanmar Bandingkan Pertumbuhan Cabai di Pot dan Tanah

  1. Sebagai seorang pengusaha yang sedang merintis sebuah perusahaan, memang harus jeli mempelajari, memanfaatkan, dan mencari peluang pangsa pasar. Sukses selalu untuk Sanmar Eco Production dalam merintis dan mengembangkan ide bisnisnya.

  2. dengan membuat produk-produkk inovasi terbaru dapat menarik pelanggan untuk membeli produk produk nya. cara tersebut memang harus di terapkan dalam kehidupan sehari hari. semangat DULING SANMAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *