The Asoka Company menunjukkan “taji” nya dalam pelaksanaan program wirausaha lingkungan Ecopreneur di sekolahnya, SMPN 40 Surabaya. Perusahaan siswa yang mempunyai icon produk dari bunga Asoka ini menargetkan setiap Minggu 4 kali melakukan penjualan produk unggulan sekolahnya. Diantaranya adalah Teh Asoka, Rempeyek Asoka, gantungan kunci, Bros daur ulang dan magnet tempelan kulkas.

Disampaikan oleh Jonathan, presiden direktur The Asoka Company, bahwa setiap kali penjualan mereka mendapatkan keuntungan sebesar 100.000 rupiah yang dijual dengan menggunakan kemasan ramah lingkungan, Senin (27/03). “Target penjualan kami dalam satu bulan sebanyak 16 kali, jadi setiap minggu kami menggelar 4 kali penjualan dengan menu yang bervarian. Salah satu menu andalan kami yakni teh asoka dan rempeyek asoka laku keras,” ujar siswa kelas 8A.

MARSA (Markisa Asoka) merupakan varian menu baru yang masih dalam ujicoba menemukan resep yang pas sebelum diperkenalkan kepada warga sekolah. Rencananya, dalam waktu dekat mereka akan memperkenalkan produk baru tersebut melalui promosi di media sosial dan radio sekolah. “Kami hadirkan MARSA sebagai salah satu inovasi pengembangan rasa terbaru dari minuman teh asoka,” jelas Mercindy Vernt, VP Produksi.

Alat pemotong sampah daun yang tidak lagi hanya manual tapi juga berdinamo karya The Asoka Company SMPN 40 Surabaya

Dalam pembinaan Ecopreneur kali ini, mereka berencana untuk merealisasikan tantangan pekan ketiga tentang video testimoni pelanggan tentang produk dengan ditambahkan permintaan pemberian nilai atau rating pada produk mereka. Seperti yang disarankan oleh Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, dengan tujuannya adalah mengetahui produk mana yang paling diminati dan yang kurang diminati pelanggan.

“Pembuatan video testimoni bisa kalian lakukan setiap saat minimal 2 minggu sekali, agar kalian bisa evaluasi produk yang kurang diminati pelanggan itu apa dan karena apa kurang diminati. Agar kedepannya, kalian bisa memperbaiki kualitas produknya,” saran Anggriyan. Tidak hanya bicara tentang produk, target pengomposan yang dipanen sebanyak 2 ton selama pelaksanaan Ecopreneur terus dikebut proses produksinya.

Mercindy, siswa kelas 7, mengatakan bahwa sebenarnya tong pengomposan yang terbuat dari tandon bekas ini sudah siap dipanen dalam seminggu kedepan. “Minggu ini, kami akan panen kompos yang berada di bawah, agar kami bisa tahu kapan waktu yang tepat untuk memanen semua komposnya,” ucapnya. Pencacahan sampah daunpun terus dilakukan dengan menggunakan PEMDA (alat Pemotong Daun) produksi sendiri.

PEMDA sendiri sudah mengalami pengembangan produksi dengan penambahan dinamo, tidak lagi menggunakan tenaga manual atau kaki. Rencana kedepan, mereka menyiapkan panen kompos secara massal ini bertepatan dengan peringatan hari Bumi sedunia yang jatuh pada 22 April mendatang. “Ya sambil menunggu momen tersebut, kami bakal memanen sesuai dengan kebutuhan tim untuk digunakan dan dijual ke pemesan komposnya,” ucap Mercy. (ryn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *