14 keranjang komposter milik SMPN 9 Surabaya memerlukan perhatian khusus dari kader lingkungan yang biasa disebut “Dering Sembilan”. Alasannya, kondisi sebagian besar komposter sudah kering karena jarang diisi dengan sampah sisa makanan. Kekeringan ini disebabkan kekurangtahuan mereka terhadap cara mengelola kompos dengan baik. Fakta tersebut menjadi awal komitmen mereka untuk memperbaiki permasalahan lingkungan yang ada di sekolah, Jumat (23/02).

Aktivis Senior Tunas Hijau Anggriyan Permana menyayangkan kondisi keempat belas keranjang komposternya. “Ya kejadian seperti ini dampak dari setiap kegiatan yang dilakukan satu minggu sekali, padahal harusnya untuk mengelola kompos di keranjang ini butuh ketelatenan dan kesabaran mengecek, mengisi dengan sisa makanan serta mengaduknya,” jelasnya. Respon ini bukan membuat kader lingkungan ini sedih, malah memicu semangat mereka untuk memperbaikinya.

Mereka pun sepakat untuk melakukan perbaikan dan pembenahan kepada seluruh keranjang komposter dalam beberapa hari ini. Disampaikan oleh Nadya Febrianti, koordinator tim keranjang komposter, besok pagi (Sabtu) anak-anak akan datang ke sekolah untuk membenahi keranjang pengomposan itu. “Anak-anak sudah dibagi tugasnya, saya minta mereka untuk membawa kardus, kain bekas, cetok dan sampah sayuran untuk diisikan ke dalam komposternya,” ucap siswa kelas 7B.

Mengenai kesiapan mereka pada program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur 2017 itu, kader lingkungan sekolah yang berlokasi di daerah Putro Agung ini mengandalkan olahan makanan dan minuman. Disampaikan oleh Husnul Khotimah, koordinator tim TOGA, bahwa ide bisnis yang ingin direalisasikan adalah membuat minuman herbal dari bahan-bahan yang ada di TOGA. “Selain minuman herbal, kami juga akan mengolah cincau menjadi puding cincau,” ujar siswa kelas 8.

Banyaknya pembagian kelompok berdasarkan program lingkungan yang ada membuat kemungkinan mereka menghasilkan berbagai macam ide bisnis juga. Seperti pada tim Hidroponik yang memunculkan ide pasar sayur organik, tim jamur merencanakan untuk mengolah puding jamur, dan radio sekolah yang berfungsi sebagai media promosi produk. “Kami akan mempromosikan produk secara gratis untuk siswa kader lingkungan hidup, sedangkan selain kader lingkungan harus bayar,” ucap Husnul. (ryn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *