Sampah plastik menjadi musuh bagi masyarakat dunia, termasuk sekolah-sekolah yang mempunyai visi mewujudkan prinsip bebas sampah plastik. Tidak terkecuali, bagi kader lingkungan dan OSIS SMKN 2 Surabaya yang mempunyai komitmen untuk mengolah sampah plastik di sekolah. Sampah plastik sebanyak 12 kg sehari yang dihasilkan warga sekolah, sebentar lagi akan disulap menjadi biji plastik menggunakan mesin pencacah plastikbaru, Rabu (22/02).

Rencana tersebut disampaikan oleh Nawawi Syah, siswa kader lingkungan sekaligus anggota OSIS, kepada Tunas Hijau. “Sekolah kami sekarang memiliki mesin pencacah plastik baru. Maka dari itu, kami bertekad untuk mengolah sampah botol plastik dicacah hingga menjadi biji-biji plastik,” ujar siswa kelas 11 ini. Potensi tersebut menjadi ide bisnis utama yang akan digunakan untuk mengikuti program wirausaha lingkungan Ecopreneur 2017 yang digelar Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya.

Dalam sosialisasi tentang program yang menginjak tahun kelima ini, diskusi mengenai ide bisnispun menghasilkan berbagai macam ide. Diantaranya adalah membuat program bank sampah khusus botol plastik dan menawarkan jasa lingkungan atau kemitraan kepada sekolah-sekolah di sekitarnya. Seperti yang disampaikan oleh Ainun Yakin, ketua kader lingkungan, mesin pencacah plastik tersebut akan digunakan sebagai alat bisnis mereka.

“Kami akan bekerjasama dengan sekolah-sekolah sekitar agar sampah botolnya mau dicacah di sekolah, lalu hasilnya bisa berbagi keuntungan. Pilihan kedua adalah kami membentuk bank sampah, lalu sampah botol dari sekolah kami beli,” jelas Ainun, siswa kelas 11. Rencana tersebut mendapat respon baik dari Anggriyan, aktivis Tunas Hijau, yang menyarankan mereka membagi beberapa tim atau bagian seperti promosi, pemasaran dan produksi.

Sementara itu, lemahnya regenerasi kader lingkungan sekolah dialami oleh SMKN 2 Surabaya. Alhasil, keranjang komposter yang ada terlihat kering. Melihat kondisi tersebut, Anggriyan Permana yang masih berstatus mahasiswa UNTAG, memberikan pelatihan pengelolaan kompos dengan keranjang kepada mereka.

“Yang terpenting dari merawat keranjang komposter adalah telaten mengisinya dengan sisa makanan sebagai bahan bakunya. Setiap hari, kalian harus mengisi keranjang ini dengan sisa makanan, menguburnya di dalam starter kompos,” imbuh mahasiswa komunikasi. Kedepannya, tidak hanya mengandalkan ide bisnis mencacah botol plastik saja, ide bisnis yang lain tentang sampah organik, pengomposan segera berjalan mulai minggu depan. (ryn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *