Tunas Hijau Ajak Siswa SMKK Mater Amabilis Buat Lubang Resapan di Jalur Hijau Jalan Kenjeran

SURABAYA – Kepulan Asap kendaraan bermotor tidak membuat sedikitnya 25 orang kader lingkungan SMKK Mater Amabilis pantang menyerah membuat lubang resapan biopori.  Antusiasme kader lingkungan tersebut ditunjukkan kepada Tunas Hijau dalam gerakan lubang resapan biopori di jalur hijau jalan Raya Kenjeran, Kamis (25/07).

Semangat ingin mencoba hal baru yang mendasari mereka tak kenal lelah membuat lubang resapan air hujan ini. Seperti yang disampaikan Agatha, siswa kelas 11 bahwa kegiatan seperti ini adalah pertama kalinya. “Kegiatan lubang resapan ini adalah pengalaman pertama kami membuat lubang resapan di tengah jalan raya. Namun kegiatan ini sangat seru kak,” ucap Agatha.

Tanpa kenal lelah, kader lingkungan hidup membuat lubang resapan biopori di jalur hijau jalan Raya Kenjeran bersama Tunas Hijau

Tanpa kenal lelah, kader lingkungan hidup membuat lubang resapan biopori di jalur hijau jalan Raya Kenjeran bersama Tunas Hijau

Kondisi tanah yang kering dan keras tidak membuat mereka mengeluh, dengan menggunakan bantuan linggis, sekuat tenaga mereka berusaha memecah bebatuan yang ada didalam tanah. Menurut penuturan Gracellyn Estrellita, siswa kelas 11 bahwa meskipun kegiatan seperti ini melelahkan harus memecah batu dengan linggis, ngebor tanah sampai harus kotor-kotoran ambil sampah organik, tetapi kegiatannya seru.

Anggriyan, aktivis Tunas Hijau menjelaskan bahwa alasan diisi dengan sampah organik adalah sampah organik tersebut untuk makanan cacing yang ada didalam tanah.

Nur Khusnah, project officer Gerakan lubang resapan biopori mewawancarai salah seorang kader lingkungan SMKK Mater Amabilis tentang kegiatan hari itu.

Nur Khusnah, project officer Gerakan lubang resapan biopori mewawancarai salah seorang kader lingkungan SMKK Mater Amabilis tentang kegiatan hari itu.

“Prosesnya adalah sampah organik yang ada didalam tanah tersebut akan mengundang cacing datang mencari makanan didalam pipa tersebut, nah jalur yang dibuat cacing sampai menuju ke pipa yang berfungsi menyerap air hujan yang turun kedalam tanah,” terang Anggriyan kepada kader lingkungan sekolah yang berada di depan Taman Teratai ini.

Penjelaan inipun mengundang pertanyaan yang dilontarkan oleh Alexander, salah seorang kader lingkungan. “Kak, manfaatnya kita membuat lubang biopori ini apa kak?” ujar Alexander. Sambil tersenyum, Nur Khusnah, simpatisan lingkungan Brawijaya ini menjawab bahwa manfaat lubang resapan biopori adalah untuk memperluas daerah tangkapan air hujan agar tidak sia-sia saat jatuh ke tanah,” ujar Khusnah.

Lebih lanjut, Khusnah menambahkan lubang resapan ini juga berguna untuk membut kompos. Gerakan lubang resapan biopori ini akan terus digalakkan dengan mengajak partisipasi masyarakat umum, sekolah maupun instansi lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Nur Khusnah, project officer gerakan lubang resapan ini bahwa diharapkan melalui gerakan ini semakin banyak orang peduli lingkungan khususnya dalam upaya konservasi air. “Saya berharap melalui kegiatan ini masyarakat semakin sadar pentingnya air hujan sebagai cadangan mata air yang ada didalam tanah,” ucap Khusnah. (Khusnah)