Malam Anugerah Lingkungan Hidup Bersama Menteri Lingkungan Hidup

JAKARTA – Ratusan gubernur, walikota/bupati, kepala dinas/badan lingkungan hidup dan kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di atrium Birawa, Hotel Bisanta Bidakara Jakarta, Senin (10/6). Malam Anugerah Lingkungan Hidup menjadi puncak kegiatan penghargaan lingkungan hidup yang diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, di hotel kawasan Jakarta Selatan itu. Tidak kalah bergengsinya adalah 18 orang pejuang lingkungan peraih penghargaan Kalpataru.

Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni menerima nominasi penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup

Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni menerima nominasi penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup

Dalam gelaran malam anugerah lingkungan hidup ini, Tunas Hijau berkesempatan menerima salah satu penghargaan Kalpataru bersama 17 pejuang lingkungan lainnya. Ekspresi kegembiraan mereka pun tumpah ruah didalam atrium Birawa saat menerima penghargaan Adipura. Salah satunya adalah Mochammad Zamroni, aktivis senior Tunas Hijau, yang menyampaikan bahwa Kalpataru ini hanya sebuah alat untuk memicu semangat untuk terus peduli lingkungan. “Kalpataru ini untuk semua sekolah di Surabaya. Kalpataru ini untuk Surabaya, bukan untuk Tunas Hijau,” ucap Mochamad Zamroni setelah menerima penghargaan dari menteri lingkungan hidup.

Sama halnya saat dibacakan sekolah-sekolah peraih Adiwiyata Mandiri, kepala sekolah dari berbagai daerah ini pun dengan bangga mengangkat piala Adiwiyata Mandiri setelah sekolah mereka disebutkan. Seperti yang dilakukan oleh Titik Sudarti, kepala SMPN 26 Surabaya, “Saya atas nama sekolah begitu senang saat menerima piala Adiwiyata Mandiri ini. Saya bangga dengan kerja keras tim Adiwiyata dan seluruh warga sekolah yang mendukung kami,” ucap Titik Sudarti.

Sementara itu, hal berbeda disampaikan oleh Supiyati Ningsih, guru IPA SMPN 4 Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang menyampaikan bahwa sejak tahun 2009 sampai 2013 sekolah sudah berkomitmen dan fokus untuk peduli lingkungan. Sedangkan Adiwiyata Mandiri hanya sebagai alat saja. “Ikhlas, kebersamaan dan mau bekerjasama adalah diantara kiat-kiat untuk sukses dalam menggapai Adiwiyata Mandiri. Karena tanpa itu semua, tidak akan bisa tercipta kebersamaan dalam peduli lingkungan,” ucap Supiyanti Ningsih.

Menerangkan ciri khas sekolahnya, Supiyanti mempromosikan adanya pengolahan sampah organik dengan skala besar di sekolahnya. “Ciri khas dari program lingkungan kami adalah pupuk kompos, karena potensi terbesar di sekolah kami adalah banyak daun kering yang jatuh. Pengomposan dengan skala besar inipun juga dibantu dengan adanya mesin pencacah untuk memudahkan proses pembusukan,” jelas Supiyanti Ningsih. Gerakan Satu Menit Bersih Sampah setiap pergantian jam pelajaran menjadi salah satu pembiasaan warga sekolah yang sudah diterapkan selama 4 tahun belakangan ini.

Muhammad Arsyad, kepala SMPN 4 Martapura, juga terlihat sumringah saat menyampaikan kesannya menerima penghargaan Adiwiyata Mandiri ini. “Saya senang sekali dan sempat terkejut tidak percaya saat menerima tropi Adiwiyata Mandiri yang bahkan langsung diberikan oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pagi harinya,” tutur Muhammad Arsyad. Lebih lanjut Kepala Sekolah ini berharap agar sekolahnya bisa membantu sekolah imbas meriah penghargaan tertinggi Adiwiyata ini. (ryan/ro)