Puluhan Polibag Tanaman Kubis dan Terong Organik Tumbuh Subur di Markas Tunas Hijau

Tanaman terong nampak tumbuh segar di markas Tunas Hijau

Surabaya- Pemanfaatan halaman markas Tunas Hijau sebagai tempat bercocok tanam organik aneka jenis sayur mayur mulai menunjukkan hasilnya. Berbeda dengan metode tanam sebelumnya yaitu tanam langsung, metode tanam kali ini dilakukan dengan menggunakan polibag. Untuk media pengisi polibag digunakan campuran tanah, sekam padi dan pupuk kompos yang diproduksi sendiri di halaman samping markas Tunas Hijau. 

Komposisi media tanam ini  mampu membuat tanaman sayuran tumbuh lebih subur meskipun tanpa penggunaan pupuk kimia. Ferianto, aktivis Tunas Hijau, mengungkapkan bahwa dua kotak pengomposan yang berukuran besar mampu menghasilkan pupuk kompos daun sebesar  30 hingga 35 karung ukuran 30 kg.

Fitri, aktivis Tunas Hijau, melakukan penyiraman

“Dengan hasil panen kompos sebesar itu mampu mencukupi kebutuhan pupuk komposyang digunakan untuk bercocok tanam organik di markas kami,” ungkap Ferianto. Feri juga menambahkan bahwa bahan pengomposan berasal dari sampah-sampah daun yang terdapat di sekitar markas Tunas Hijau.

Seperti yang terlihat saat ini, puluhan tanaman kubis yang berumur dua bulan tumbuh dengan baik di halaman depan. Tanaman sayur berumur sedang ini mulai menunjukkan bakal kubis sebenarnya. Hal ini ditandai dengan mulai mengerasnya pucuk tanaman dan membentuk bulatan.

Demikian juga dengan puluhan polibag yang berisi tanaman jenis terong hijau dan ungu, tanaman yang juga berumur dua bulan ini mulai berbunga. Dalam tiga minggu ke depan bunga ini akan berubah menjadi buah terong yang siap dipanen dan dikonsumsi.

Saifullah, aktivis Tunas Hijau yang bertanggung jawab pada pertanian perkotaan lahan sempit ini menjelaskan bahwa tanaman kubis dan terong memiliki perbedaan meskipun memiliki masa tanam yang yang sama yaitu tiga bulan.

Tanaman kubis hanya bisa dipanen untuk sekali tanam, sedangkan tanaman terong akan terus berbuah hingga 6-8 bulan. “Umur tanaman terong lebih panjang, tapi jumlah dan kualitas buah akan menurun seiring semakin tua usia tanaman,” ungkap Saifullah yang akrab dipanggil Menjeng.

Selain penggunaan pupuk ‘ramah lingkungan’ kompos daun, hal lain yang menentukan pertumbuhan kedua jenis tanaman ini adalah pemeliharaan dan perawatan. Setiap dua hari sekali perlu dilakukan penyiraman secara teratur, biasanya penyiraman tanaman dilakukan pada sore hari.

Felindra Ali, aktivis Tunas Hijau, memberikan ajir pada tanaman terong

Saifullah mengungkapkan bahwa rata-rata jenis tanaman sayur dan buah sayur sangat menyukai kondisi tanah dengan kandungan air dan kelembaban tinggi. “Kekurangan kandungan air dalam media tanam dapat diketahui dari kondisi daun tanaman yaitu daun akan menjadi layu. Dalam kondisi ini diperlukan penyiraman sesegera mungkin untuk menghindari kerontokan bunga, buah dan daun,” ungkap Saifullah.

Pertanian organik perkotaan lahan sempit yang dilakukan di markas Tunas hijau tidak hanya semata-mata untuk praktek pemanfaatan lahan kosong. Pertanian organik ini juga digunakan sebagai media pembelajaran bagi anak-anak. Sejak awal penerapan, beberapa sekolah di sekitar markas Tunas Hijau tercatat pernah melakukan kegiatan pembelajaran pertanian organik perkotaan.

Tidak hanya sekolah yang berada di sekitar markas saja, sekolah yang berlokasi jauh dari markas Tunas Hijau pun pernah melakukan pembelajaran pertanian organik di markas Tunas Hijau. SD Muhammadiyah 3 ‘Ikrom’ misalnya, sekolah yang berlokasi di Wage, Sidoarjo ini secara khusus berkunjung ke markas Tunas Hijau untuk belajar pertanian perkotaan organik beberapa waktu yang lalu. (geng)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>