Surabaya- “Banyak jalan menuju Roma.” Ungkapan itu pula yang berlaku bagi para aktivis Tunas Hijau untuk memanfaatkan semaksimal mungkin halaman markas organisasi lingkungan hidup Tunas Hijau Club yang beralamat di Semolowaru Indah I Blok T-10 Surabaya sebagai lahan berkebun dan rumah kompos.

Di sela-sela rutinitas pelaksanaan berbagai program lingkungan, waktu senggang aktivis Tunas Hijau diisi dengan berbagai aktifitas yang juga masih beraroma pelestarian lingkungan hidup. Diantaranya berkebun dan mengolah sampah organik menjadi kompos. Sedikit ruang kosong di halaman depan dimanfaatkan sebagai kebun sayur mayur.

Seperti yang terlihat saat ini, tanaman jenis sawi telah terlihat bersemi tiga helai daun. Dipilihnya tanaman sawi bukanlah tanpa alasan. Tanaman ini dengan mudah dapat tumbuh di lahan yang kaya dengan air. Hal ini sesuai dengan kondisi markas Tunas Hijau, dimana air dapat dengan mudah ditemukan dengan hanya sedikit menggali tanah. Tidak hanya tanaman jenis sawi yang ditanam, pare dan tanaman buah melon pun dapat tumbuh dengan baik.

Kondisi tanah di markas Tunas Hijau sebenarnya tergolong tanah yang miskin hara. Lapisan permukaan tanah yang ada di permukaan didominasi lapisan tanah liat yang sangat pekat. Untuk menghasilkan lahan yang subur seperti saat ini digunakan pupuk daun yang diperoleh dari “rumah kompos” yang juga ada di markas Tunas Hijau.

Adalah Ferianto, aktivis Tunas Hijau yang bertanggung jawab terhadap pengomposan ini, mengungkapkan bahwa sampah dedaunan yang menjadi bahan baku diperoleh dari sekitar markas Tunas Hijau. Ferianto mengungkapkan bahwa setiap dua bulan sekali dapat dilakukan pemanenan kompos siap pakai sebanyak sekitar 15 karung ukuran 20 kilogram. Kompos inilah yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan halaman markas Tunas Hijau yang digunakan untuk bercocok tanam.

Bercocok tanam di markas Tunas Hijau tidak hanya dilakukan dengan metode penanaman langsung. Di halaman samping markas Tunas Hijau juga dikembangkan metode penanaman sayur sawi dengan metode hidroponik. Dengan metode hidroponik, lahan sempit yang ada dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Keunggulan lain dari metode tanam hidroponik adalah jumlah air yang digunakan relatif lebih sedikit bila dibanding dengan penanaman langsung atau penanaman  dalam pot.

Saifullah, aktivis Tunas Hijau, menjelaskan bahwa dengan metode tanam hidroponik tidak ada air yang terbuang percuma. Secara berkala pompa listrik memompa air dari dalam penampungan masuk ke dalam bak-bak penanaman. “Hanya dibutuhkan penambahan air seminggu sekali, karena air akan berkurang terserap oleh pertumbuhan tanaman,” ungkap Saifullah.

Untuk kebutuhan zat hara yang dibutuhkan tanaman diperoleh dengan menambahkan pupuk cair organik yang dapat dengan mudah ditemui di toko-toko yang menjual peralatan berkebun. Pupuk cair itu bisa juga didapat dengan cara pembuatan yang juga sederhana. Dengan metode hidroponik ini tanaman dapat tumbuh dengan sempurna tanpa banyak perawatan khusus. (geng)