14 Februari 2010
Wisata Dan Studi
Lingkungan Hidup Warga RT 6 RW 8
Kelurahan Sawunggaling Berlangsung
Meriah
Sekitar
100 orang warga kampung RT 6 RW 8
Kelurahan Sawunggaling, Kecamatan
Wonokromo bersama Tunas Hijau –
kids & young people do actions for a
better earth
melakukan
wisata dan studi banding lingkungan
hidup. Kegiatan dalam rangkaian
program pendampingan lingkungan
hidup masyarakat stren Kali Surabaya
bersama Badan Lingkungan Hidup Jawa
Timur ini dilaksanakan Minggu
(14/2). Obyek kunjungannya pun
adalah tempat-tempat yang bernuansa
lingkungan hidup. Yaitu Tempat
Pembuangan Akhir sampah (TPA)
Benowo, Kampung Jawara Surabaya
Berbunga 2009 Gundih, Taman Flora
Bratang, Rumah Kompos Bratang dan
Jembatan Suramadu.
Seratus
orang yang mengikuti kegiatan ini
terdiri dari semua golongan usia.
Ada anak-anak yang aktif dalam
kegiatan kelompok belajar anak
kampung ini, ada remaja karang
taruna, ada bapak dan ibu pengurus
kampung dan PKK, serta orang tua
anak-anak. “Pada awalnya, kegiatan
ini dikhususkan bagi anak-anak yang
aktif di kelompok belajar anak
dengan para pengajarnya. Namun
karena antusiasme warga sangat besar
untuk ikut serta, maka kami pun
mengikutsertakan juga banyak ibu-ibu
dan bapak-bapak,” kata aktivis
senior Tunas Hijau Bram Azzaino yang
mendampingi warga pada wisata
lingkungan hidup ini.
Besarnya antusiasme warga itu
ditunjukkan dengan kerelaan mereka
untuk duduk berpangkuan
mengoptimalkan 2 mini bus yang
disediakan khusus oleh pemerintah
kota Surabaya – Badan Perencanaan
Pembangunan Kota Surabaya. “Sedianya
2 mini bus yang digunakan ini hanya
berkapasitas maksimal 40 kursi.
Namun, orang tua yang berminat ikut
tetap diperkenankan dengan memangku
anaknya. Tambahan beberapa kursi
panjang pun sengaja ditempatkan di
kedua mini bus itu oleh warga,”
tambah Bram Azzaino.
Di
tempat kunjungan pertama, TPA
Benowo, warga dibuat kaget dengan
pemandangan gunungan sampah dengan
tinggi rata-rata 8 meter di lahan
seluas 37 hektar atau 370.000 meter
persegi. Memasuki gerbang TPA itu,
rombongan yang ikut pun mulai sibuk
menutup hidung mereka untuk
menghalangi bau busuk. Di TPA ini
rombongan dipandu oleh salah seorang
pengelola TPA, Karjono, yang staf
Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota
Surabaya. Bertempat di dekat
instalasi pengolahan air lindi dan
jembatan timbang, rombongan mendapat
penjelasan tentang TPA Benowo itu.
Disampaikan Karjono bahwa TPA itu
beroperasi sejak tahun 2001. “Peran
serta aktif warga Kota Surabaya
sangat diharapkan untuk
memperpanjang waktu beroperasinya
TPA Benowo ini,” kata Karjono.
Caranya, dengan sedapatnya mengolah
sampah yang dihasilkan. “Dengan
demikian jumlah sampah yang dikirim
setiap harinya ke TPA ini berkurang.
Bila setiap hari 1200 ton sampah
warga Kota Surabaya dikirim ke TPA
ini seperti saat ini, maka umur TPA
ini tidak akan lebih dari lima
tahun. Setelah itu, kita diharuskan
mencari lahan baru untuk TPA
sampah,” terang Karjono.
Mendengar
penjelasan Karjono itu, aktivis
senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni
ikut urun bicara. Disampaikan
Zamroni bahwa sejak beberapa minggu
lalu ada tambahan komposter aerob,
keranjang komposter takakura dan
gerobak sampah yang diberikan kepada
warga RT 6 RW 8 Kelurahan
Sawunggaling. “Perangkat-perangkat
pengolahan sampah itu diberikan
dengan tujuan warga kampung mau
mengolah sampah dan mengurangi
jumlah sampah yang dikirimkan ke TPA
Benowo. Makanya, mari kita
optimalkan pengolahan sampah di
kampung kita,” kata Zamroni.
Setelah
mendapat banyak penjelasan tentang
TPA Benowo, rombongan lantas diajak
meneruskan perjalanan ke zona aktif
TPA Benowo, yaitu kawasan dimana
sampah dari seluruh warga kota
ditempatkan. Di zona aktif itu
rombongan menyaksikan pemandangan
banyaknya gubuk non permanen yang
sengaja dibuat para pemulung untuk
melakukan pengumpulan sampah non
organik. Ratusan hingga ribuan
pemulung yang asyik berburu sampah
non organik khususnya plastik
menjadi pemandangan unik bagi
rombongan.
Kurang dari lima menit berada di
terminal zona aktif itu, dari
sekitar 30 menit waktu yang
disediakan, rombongan lantas
mengusulkan untuk meneruskan
perjalanan ke lokasi kunjungan
selanjutnya. “Anak-anak dan ibu-ibu
banyak yang muntah dan mau pingsan,
Mas. Mereka gak kuat dengan
sangat menyengatnya bau sampah di
lokasi ini,” kata Slamet Hariadi,
koordinator kelompok swadaya
masyarakat RT 6 RW 8 Kelurahan
Sawunggaling di yang menyertai
rombongan.
Setelah
selesai melakukan kunjungan di TPA
Benowo, rombongan lantas melanjutkan
perjalanan ke kampung Gundih yang
menjadi Jawara Surabaya Berbunga
2009. Di kampung ini rombongan juga
dibuat kagum dengan begitu bersih
dan hijaunya kampung yang sebenarnya
berada di lokasi kumuh. Lebar jalan
di kampung itu juga tidak cukup
untuk dua becak masuk bersamaan.
Tidak ada sampah yang dibuang
sembarangan di kampung itu. Pun
tidak ada satu jengkal lahan yang
tanpa tanaman, meskipun dalam
pot-potan.
Rombongan
lantas dipandu salah seorang kader
lingkungan hidup kampung Gundih,
Wiwik, yang menjadi instruktur
pelatihan daur ulang sampah plastik
kampung stren Kali Surabaya
Gunungsari II pertengahan Desember
2009. “Selamat datang di kampung
saya. Akhirnya ibu-ibu berkunjung ke
kampung saya setelah dua kali kami
mengunjungi kampung ibu-ibu untuk
pelatihan daur ulang sampah
plastik,” kata Wiwik yang mengenakan
kaos kader lingkungan saat menyambut
rombongan.
Beberapa menit setelah menginjakkan
kaki di kampung Gundih, beberapa
komentar positif pun dilontarkan
oleh ibu-ibu dari Kelurahan
Sawunggaling ini. “Bu RT, coba lihat
tanaman-tanaman dalam pot yang
sangat banyak dipelihara di kampung
ini. Sebenarnya tanaman-tanaman itu
bukan tanaman yang harganya mahal.
Namun, jumlahnya banyak dan
pengaturannya sangat bagus sehingga
kesannya sangat eksklusif,” kata
salah satu ibu kepada Siti Aminah
yang istri ketua RT 6 RW 8 Kelurahan
Sawunggaling. “Ayo, Bu RT, kita buat
kampung kita seperti ini,” lanjut
ibu itu.
Joko
Sukaryono, koordinator pemberdayaan
ekonomi Kelompok Swadaya Masyarakat
RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling
mengatakan bahwa wisata dan studi
banding lingkungan hidup yang
dilakukan ini benar-benar sangat
berkesan. “Kegiatan ini berbeda
dengan wisata umumnya. Kegiatan ini
sangat ekonomis namun dampaknya bagi
kami sangat besar. Saya pribadi dan
beberapa orang lain warga kampung
yang mengikuti kegiatan ini seperti
mendapat suntikan semangat untuk
membenahi kampung menjadi bersih,
hijau dan nyaman,” kata Joko
Sukaryono sesaat setelah mengamati
kondisi kampung Gundih Gang VI.
Kekaguman
juga diungkapkan oleh penggiat daur
ulang kampung
Sawunggaling/Gunungsari, Siti
Fatimah saat melihat aneka macam
produk daur ulang sampah plastik
yang dipajang dan dijual di salah
satu sudut kampung. “Bentuk produk
daur ulangnya sangat banyak dan
bervariasi. Penuh inovasi. Saya jadi
termotivasi untuk terus
mengembangkan daur ulang bersama
warga kampung sepulang dari
kunjungan ini. Saya banyak mendapat
tambahan ide dari kunjungan ini,”
kata Siti Fatimah sesaat setelah
mengamati produk-produk daur ulang
sampah plastik yang dipajang.

Di kampung Gundih itu rombongan
tidak hanya disuguhi dengan keadaan
kampung yang bersih dan hijau dengan
tingginya partisipasi aktif seluruh
warga kampung itu. Rombongan juga
banyak mendapat penjelasan tentang
instalasi pengolahan air limbah
rumah tangga yang dibuat oleh warga
kampung. “Instalasi pengolahan ini
sangat sederhana. Cara kerjanya
sangat alami. Namun, dampaknya
sangat besar. Kami tidak khawatir
tagihan air PDAM menjadi mahal
karena tingginya perawatan seluruh
tanaman di kampung ini. Kami
mengolah air limbah dari seluruh
rumah warga untuk bisa layak
digunakan menyiram tanaman,” kata
salah seorang pengurus pengolahan
air limbah di kampung itu.
Setelah
kunjungan di kampung Gundih – Jawara
Surabaya Berbunga 2009, rombongan
melanjutkan perjalanan ke Taman
Flora Bratang dan Rumah Kompos
Bratang. Di Taman Flora Bratang,
rombongan beristirahat sambil makan
siang dan sholat dhuhur. Di taman
ini rombongan juga mereview hasil
kunjungan di dua tempat sebelumnya,
yaitu TPA Benowo dan kampung Gundih.
Sementara rombongan orang tua
melakukan review, anak-anak
memanfaatkannya untuk bermain-main
menggunakan beberapa permainan yang
disediakan di taman itu.
Selesai
beraktivitas di Taman Flora Bratang,
rombongan lantas melanjutkan
aktivitas di Rumah Kompos Bratang,
yang letaknya di selatan Taman Flora
Bratang. Di rumah kompos ini
rombongan belajar tentang cara
pengolahan sampah organik dalam
jumlah besar. Sementara para orang
tua terlibat diskusi dengan petugas
rumah kompos itu, anak-anak diberi
kesempatan melakukan pengomposan.
Mulai perajangan, pembalikan dan
pengayakan kompos dilakukan oleh
anak-anak. Kunjungan ke Jembatan
Suramadu yang menghubungkan Pulau
Jawa dan Madura menjadi kegiatan
penutup wisata dan studi banding
lingkungan hidup yang digelar pagi
hingga sore itu. (ron)