Headquarters: Semolowaru Indah T-9, Surabaya - 60119, Indonesia. Phone/Fax: +62-31- 5996816, Email: info@tunashijau.org

ProgramGaleri FotoGaleri PosterGaleri KomikGaleri LaguPenerbitanSekolah HijauProfilFakta & Info
 

22 September 2009

Ir. Gunawan, Guru Pembimbing Di Balik Keberhasilan Siswa Menjuarai Berbagai Penelitian Internasional:

Memulai Penelitian Lingkungan Hidup Butuh Cara, Waktu, Pendukung Dan Orang Yang Tepat

Masih ingat dengan sosok Fernanda Novelia (finalis puteri lingkungan hidup 2005) dan Vincentius yang berhasil meraih medali emas pada ajang International Young Scientist Conference di Polandia? Di balik keberhasilan kedua remaja siswa SMP Kristen Petra 3 Surabaya itu, ada seseorang yang berjasa besar mengantarkan mereka menjadi pemenang peraih medali emas pada ajang tersebut. Dia adalah Ir. Gunawan Siswoyo yang akrab dipanggil Pak Gun oleh murid-muridnya.

Sekilas tidak terlihat bahwa Gunawan merupakan seorang guru yang memiliki sentuhan emas untuk menciptakan bibit unggul yang haus dengan eksperimen. Namun, hal itu sirna ketika Tunas Hijau diperlihatkan kliping-kliping dan piagam-piagam penghargaan yang pernah diterima oleh laki-laki kelahiran 16 Oktober 1959 ini. Tercatat hampir 73 penghargaan yang pernah diterimanya. Penghargaan ini terdiri dari 6 penghargaan internasional, 40 penghargaan nasional dan 27 penghargaan regional. Seluruh penghargaan tersebut berkaitan erat dengan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Menurut Alumnus Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) tersebut, ada 4 dasar pemikiran yang dia terapkan sebelum memulai membuat suatu penelitian. Pemikiran itu adalah harus mempunyai cara yang tepat, memilih orang-orang yang tepat, mengajak membuat penelitian di lingkungan yang tepat dan yang terakhir adalah mencari waktu yang tepat. “Keempat landasan pemikiran tersebut saling berkaitan. Apabila kurang satu, maka sulit untuk mendapatkan hasil seperti yang diharapkan,” ujar lelaki kelahiran Bojonegoro tersebut.

Gunawan mencontohkan dari awal munculnya pemikiran tersebut harus diawali dengan tujuan yang tepat untuk menciptakan penelitian yang baru. Penelitian baru tersebut biasanya dikembangkan dari kehidupan sehari-hari yang pernah ditemui oleh siswanya. Salah satunya adalah penciptaan alat pengingat waktu memasak makanan. Ide tersebut muncul dari seorang siswa yang bercerita bahwa rawon ibunya sering hangus ketika dihangatkan. Akhirnya dibuatlah gelang yang mampu menjadi timer sebagai indikator bahwa makanan ini sudah matang. 

Setelah tujuan tersebut sudah tepat, barulah pencarian siswa-siswa yang tepat dalam mengerjakan penelitian ini. Bukan berarti setelah mendapat orang yang tepat untuk mengerjakan penelitian tersebut, maka masalah sudah selesai. Masih ada satu hal yang penting lagi yakni mencari lingkungan yang tepat. Gunawan mencontohkan apabila hanya sekolah yang mendukung sedangkan orang tua siswa tidak mendukung, maka hal itu bisa dikatakan belum menemukan lingkungan yang tepat. “Lingkungan tersebut bukan berarti sekolah yang nyaman atau rindang, tapi seluruh pihak harus mendukung dalam penyelesaian penelitian tersebut,” ujarnya.

Selain ketiga pemikiran tersebut, lanjutnya, satu lagi yang tidak kalah penting, yakni waktu yang tepat. “Waktu yang tepat kapan penelitian tersebut dikembangkan. Seperti halnya ketika membuat penelitian tentang helm yang juga bisa dimanfaatkan sebagai charger handphone. Pemilihan penelitian tersebut, tidak lepas dari isu lingkungan hidup yang saat ini sedang musimnya, terutama yang berkaitan dengan energi yang ramah lingkungan hidup,” ujar Gunawan.

Pada pertengahan tahun 90’an, Gunawan pernah mengalami kejadian unik. Waktu itu, dia bersama beberapa siswa untuk mencari ide penelitian baru. Kebetulan metode yang digunakan adalah melalui potongan-potongan kata. Setiap siswa diharuskan mengambil 2 potongan kertas tersebut. Kebetulan salah siswanya mendapatkan potongan kertas yang satu bertuliskan “Kilat”, sedangkan siswa yang lainnya bertuliskan “Tempe”. Dari 2 kata tersebut, akhirnya tercipta tema penelitian tentang cara membuat tempe dengan cepat dalam waktu kurang 3 hari. kebetulan pada saat itu harga tempe mahal karena waktu produksinya sangat lama.

Penggemar makanan kepiting asam manis dan jagung bakar ini, juga bercerita tentang suka duka selama bergelut di dunia penelitian sejak awal 80’an hingga saat ini. Sukanya adalah anak-anak menjadi mengerti bahwa setiap orang bisa membuat sesuatu yang bermanfaatkan dan membanggakan bagi keluarga, sekolah, lingkungan, bangsa dan negara. Sedangkan dukanya adalah penelitiannya tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, hanya dijadikan sebuah momen saja dan juga banyak dari masyarakat yang tidak begitu menghargai hasil penemuannya. “Mereka lebih menghargai sesuatu yang bernuansa mistik, seperti fenomena Batu Ponari,” ujarnya.

Ketika ditanya tentang harapannya, Gunawan menyampaikan semakin banyak anak yang suka dengan IPTEK dan penelitian yang berkaitan dengan lingkungan hidup, maka secara tidak langsung dia akan mencintai lingkungan hidupnya dengan penelitian yang sedang dia kembangkan. “Semoga banyak masyarakat tahu dan sadar serta mau membantu menyelamatkan lingkungan hidup setelah tahu bahwa setingkat pelajar SMP bahu-membahu dalam menyelamatkan lingkungan hidup,” ujar suami F. Rinawati tersebut. (adetya)

7 Mei 2010, Guru Koordinator LH SDN Kandangan III Surabaya Siti Fatonah: Pemilahan Sampah Harus Disertai Penyediaan Tempat Sampah Yang Memadai Dan Sosialisasi

24 Maret 2010, Kepala Sekolah SMA/SMK Berprestasi Se Jawa Timur 2008 Kumudawati: Belum Meratanya Pendidikan Lingkungan Hidup di Setiap Kota/Kabupaten

2 Desember 2009, Kepala SMA Negeri 5 Jember Husnawiyah: Sibuk Membuat Replikasi Sekolah Ramah Lingkungan Hidup Di Jember

12 November 2009,  Wali Kota Surabaya Peduli LH Drs. Bambang Dwi Hartono, M.Pd. Yang Guru Matematika: Guru Harus Ing Ngarso Sing Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Dan Tut Wuri Handayani Pada Kepedulian Lingkungan Hidup

22 September 2009, Ir. Gunawan, Guru Pembimbing Di Balik Keberhasilan Siswa Menjuarai Berbagai Penelitian Internasional: Memulai Penelitian Lingkungan Hidup Butuh Cara, Waktu, Pendukung Dan Orang Yang Tepat

15 September 2009, Kepala SDN Petemon 13 Surabaya Harsoyo: Susah, Buat Muatan Lokal Lingkungan Hidup Sendiri Untuk SD Negeri

8 September 2009, Duo Aktivis Srikandi Tunas Hijau di Konservasi Hutan Dataran Tinggi Triani Candra Kusuma Dewi dan Reby Dwi Prataopu

1 September 2009, Koordinator Green Education Al Muslim Intan Larasati: Dukungan Pemda Pada Program Sekolah Adiwiyata Harus Signifikan

25 Agustus 2009,  Guru Lingkungan Hidup SDK Santa Theresia I Surabaya Kristoforus Agus Pujianto: Program Sekolah Adiwiyata Tidak Semenarik Dulu