|
22 September 2009
Ir. Gunawan, Guru Pembimbing Di Balik
Keberhasilan Siswa Menjuarai Berbagai
Penelitian Internasional:
Memulai Penelitian Lingkungan Hidup Butuh
Cara, Waktu, Pendukung Dan Orang Yang Tepat
Masih
ingat dengan sosok Fernanda Novelia (finalis
puteri lingkungan hidup 2005) dan Vincentius
yang berhasil meraih medali emas pada ajang
International Young Scientist Conference
di Polandia? Di balik keberhasilan kedua
remaja siswa SMP Kristen Petra 3 Surabaya
itu, ada seseorang yang berjasa besar
mengantarkan mereka menjadi pemenang peraih
medali emas pada ajang tersebut. Dia adalah
Ir. Gunawan Siswoyo yang akrab dipanggil Pak
Gun oleh murid-muridnya.
Sekilas tidak terlihat bahwa Gunawan
merupakan seorang guru yang memiliki
sentuhan emas untuk menciptakan bibit unggul
yang haus dengan eksperimen. Namun, hal itu
sirna ketika Tunas Hijau diperlihatkan
kliping-kliping dan piagam-piagam
penghargaan yang pernah diterima oleh
laki-laki kelahiran 16 Oktober 1959 ini.
Tercatat hampir 73 penghargaan yang pernah
diterimanya. Penghargaan ini terdiri dari 6
penghargaan internasional, 40 penghargaan
nasional dan 27 penghargaan regional.
Seluruh penghargaan tersebut berkaitan erat
dengan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi).
Menurut Alumnus Sekolah Tinggi Teknik
Surabaya (STTS) tersebut, ada 4 dasar
pemikiran yang dia terapkan sebelum memulai
membuat suatu penelitian. Pemikiran itu
adalah harus mempunyai cara yang tepat,
memilih orang-orang yang tepat, mengajak
membuat penelitian di lingkungan yang tepat
dan yang terakhir adalah mencari waktu yang
tepat. “Keempat landasan pemikiran tersebut
saling berkaitan. Apabila kurang satu, maka
sulit untuk mendapatkan hasil seperti yang
diharapkan,” ujar lelaki kelahiran
Bojonegoro tersebut.
Gunawan
mencontohkan dari awal munculnya pemikiran
tersebut harus diawali dengan tujuan yang
tepat untuk menciptakan penelitian yang
baru. Penelitian baru tersebut biasanya
dikembangkan dari kehidupan sehari-hari yang
pernah ditemui oleh siswanya. Salah satunya
adalah penciptaan alat pengingat waktu
memasak makanan. Ide tersebut muncul dari
seorang siswa yang bercerita bahwa rawon
ibunya sering hangus ketika dihangatkan.
Akhirnya dibuatlah gelang yang mampu menjadi
timer sebagai indikator bahwa makanan
ini sudah matang.
Setelah tujuan tersebut sudah tepat, barulah
pencarian siswa-siswa yang tepat dalam
mengerjakan penelitian ini. Bukan berarti
setelah mendapat orang yang tepat untuk
mengerjakan penelitian tersebut, maka
masalah sudah selesai. Masih ada satu hal
yang penting lagi yakni mencari lingkungan
yang tepat. Gunawan mencontohkan apabila
hanya sekolah yang mendukung sedangkan orang
tua siswa tidak mendukung, maka hal itu bisa
dikatakan belum menemukan lingkungan yang
tepat. “Lingkungan tersebut bukan berarti
sekolah yang nyaman atau rindang, tapi
seluruh pihak harus mendukung dalam
penyelesaian penelitian tersebut,” ujarnya.
Selain ketiga pemikiran tersebut, lanjutnya,
satu lagi yang tidak kalah penting, yakni
waktu yang tepat. “Waktu yang tepat kapan
penelitian tersebut dikembangkan. Seperti
halnya ketika membuat penelitian tentang
helm yang juga bisa dimanfaatkan sebagai
charger handphone. Pemilihan penelitian
tersebut, tidak lepas dari isu lingkungan
hidup yang saat ini sedang musimnya,
terutama yang berkaitan dengan energi yang
ramah lingkungan hidup,” ujar Gunawan.
Pada
pertengahan tahun 90’an, Gunawan pernah
mengalami kejadian unik. Waktu itu, dia
bersama beberapa siswa untuk mencari ide
penelitian baru. Kebetulan metode yang
digunakan adalah melalui potongan-potongan
kata. Setiap siswa diharuskan mengambil 2
potongan kertas tersebut. Kebetulan salah
siswanya mendapatkan potongan kertas yang
satu bertuliskan “Kilat”, sedangkan siswa
yang lainnya bertuliskan “Tempe”. Dari 2
kata tersebut, akhirnya tercipta tema
penelitian tentang cara membuat tempe dengan
cepat dalam waktu kurang 3 hari. kebetulan
pada saat itu harga tempe mahal karena waktu
produksinya sangat lama.
Penggemar makanan kepiting asam manis dan
jagung bakar ini, juga bercerita tentang
suka duka selama bergelut di dunia
penelitian sejak awal 80’an hingga saat ini.
Sukanya adalah anak-anak menjadi mengerti
bahwa setiap orang bisa membuat sesuatu yang
bermanfaatkan dan membanggakan bagi
keluarga, sekolah, lingkungan, bangsa dan
negara. Sedangkan dukanya adalah
penelitiannya tidak diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari, hanya dijadikan
sebuah momen saja dan juga banyak dari
masyarakat yang tidak begitu menghargai
hasil penemuannya. “Mereka lebih menghargai
sesuatu yang bernuansa mistik, seperti
fenomena Batu Ponari,” ujarnya.
Ketika ditanya
tentang harapannya, Gunawan menyampaikan
semakin banyak anak yang suka dengan IPTEK
dan penelitian yang berkaitan dengan
lingkungan hidup, maka secara tidak langsung
dia akan mencintai lingkungan hidupnya
dengan penelitian yang sedang dia
kembangkan. “Semoga banyak masyarakat tahu
dan sadar serta mau membantu menyelamatkan
lingkungan hidup setelah tahu bahwa
setingkat pelajar SMP bahu-membahu dalam
menyelamatkan lingkungan hidup,” ujar suami
F. Rinawati tersebut.
(adetya) |