20
Desember 2009
Belajar Bersama
Anak-Anak Stren Kali Surabaya
Gunungsari II Lebih Marak Dengan
Suasana Sanggar Yang Baru
Surabaya-
Aktivitas belajar bersama anak-anak
stren Kali Surabaya Gunungsari II di
sanggar Kelompok Belajar Anak RT 6
RW 8 Kelurahan Sawunggaling, Minggu
(20/12) pagi, lebih marak dari
pertemuan dua Minggu sebelumnya. Ini
dikarenakan sanggar tempat belajar
mereka yang nampak lebih berwarna
dan penuh gambar dengan pesan peduli
lingkungan hidup. Hampir semua anak
yang masuk ke sanggar itu langsung
menolehkan pandangan mereka pada
seluruh dinding bagian dalam yang
mulai penuh dengan gambar-gambar
kartun.
Mengawali aktivitas belajar bersama,
Kartika, ketua seksi Pendidikan pada
Kelompok Lingkungan Hidup RT 6 RW 8
Kelurahan Sawunggaling mengajak
anak-anak bersyukur bahwa sanggar
tempat belajar itu menjadi lebih
baik. “Adik-adik, coba perhatikan
kondisi sanggar belajar ini. Apa
yang berbeda dengan sebelumnya?”
tanya Kartika. Spontan lebih dari 30
anak yang memadati sangga itu
menjawab “Banyak gambar kartunnya.”
Kartika menjelaskan bahwa
gambar-gambar yang ada di dinding
sanggar itu adalah gambar-gambar
yang mengandung pesan pendidikan.
“Khususnya pesan untuk peduli
lingkungan hidup,” kata Kartika.
Pada
belajar bersama ini aktivitas yang
dilakukan anak-anak stren kali itu
juga lebih beragam. Ini setelah
Tunas Hijau mendistribusikan puluhan
edisi majalah anak-anak Permata
Junior dengan beragam aktivitas
menurut usia mereka. Ada yang
melakukan aktivitas menggambar dan
ada yang mewarna gambar lingkungan
hidup. Puluhan edisi majalah Permata
Junior terbitan PT. Nanda Permata
Millennium itu merupakan sumbangan
dari keluarga paguyuban pangeran dan
puteri lingkungan hidup 2005
Fernanda Novelia.
Media
permainan ular tangga lingkungan
hidup nampak dimainkan sekelompok
anak-anak laki-laki stren kali yang
siswa sekolah menengah pertama. Ular
tangga itu bertema peduli perubahan
iklim. Seperti biasa, setiap pemain
harus membaca keras informasi
tentang perubahan iklim pada kotak
tempat dia berada. “Nomor 10.
Mematikan listrik ketika tidak
diperlukan. Naik ke nomor 12, karena
menghemat listrik dan mengurangi
emisi yang dihasilkan,” kata Predah,
salah satu anak, yang bermain ular
tangga dengan empat anak lainnya.
Sementara
itu, pada aktivitas belajar bersama
itu, dua aktivis Tunas Hijau Satuman
dan Rendi Setyadi mengajak anak-anak
stren bermain kepekaan. Satuman
mengajak mereka bermain bahasa
Jepang dengan kamus yang ditulis
permanen pada dinding sanggar.
“Bahasa Jepangnya anak-anak apa?”
tanya Satuman sambil melirik kamus
pada salah satu sudut dinding.
Sementara Rendi Setyadi mengajak
anak-anak itu berhitung dengan
menggunakan kata sandi yang
mengharuskan berpikir ekstra.
Lebih dari 10 ibu juga nampak
memadati sanggar belajar itu. Para
ibu itu rela mendampingi buah hati
mereka belajar bersama. Sesekali
beberapa ibu nampak mengajari
anak-anaknya yang membutuhkan
bimbingan dalam beraktivitas.
Kehadiran para ibu ini sangat
mengejutkan Tunas Hijau. Maklum,
pada aktivitas belajar bersama dua
minggu sebelumnya, nyaris tidak ada
ibu yang mendampingi anak-anaknya.
Kalaupun ada, hanya saat menjemput
anak-anaknya untuk pulang ke rumah.
Setelah
aktivitas belajar bersama selesai,
siang harinya, Tunas Hijau lantas
melanjutkan penyelesaian pembuatan
lukisan pesan lingkungan hidup pada
beberapa bagian dinding sanggar.
Pada kesempatan ini, pembuatan draft
lukisan dilakukan oleh komikus Tunas
Hijau Andi Kusmianto. Uniknya,
setelah draft lukisan dibuat oleh
Andi, pewarnaannya dilakukan oleh
anak-anak stren kali Surabaya
Gungsari II itu. Lebih dari 10 anak
melakukan pewarnaan ada draft
lukisan yang dilakukan oleh Andi di
bagian depan sanggar. (ron)