13 Desember 2009
Finalis PangPut Malang Raya Olah
Sampah Basah Selama Karantina
Banyak sudah yang
paham
tentang cara
dan
alat pengolah sampah menjadi kompos
yang biasanya
ditemukan di sekolah-sekolah atau di
rumah-rumah.
Namun,
dari sekian banyak warga yang tahu,
tidak semuanya
yang mau mengolah sampah basah
mereka menjadi kompos.
Atau
bisa dikatakan banyak warga yang
faham secara teori tapi tidak secara
prakteknya. Namun hal ini tidak
berlaku saat pelaksanaan
karantina 29 (dua puluh sembilan)
finalis pangeran puteri lingkungan
hidup 2009 Malang
Raya, (11-12/12) di Coban Rondo,
Kota Batu.
Dipandu oleh Pangeran Lingkungan
Hidup 2008 Malang Raya M. Dakita
Zulfikar, puluhan finalis diajarkan
cara pengolahannya serta jenis
sampah apa saja yang boleh diolah di
komposter
yang ada.
”Kalau daun kering bisa dimasukkan
dalam komposter ini.
Namun
lebih tepatnya ditanam saja sudah
cukup untuk sampah daun, karena
biasanya komposter ini biasanya
untuk mengolah sampah sisa makanan
seperti tulang ikan, sisa nasi, sisa
sayuran dan kulit buah,” ujar Zulfi
sapaan akrab Zulfikar.
Zulfi juga menjelaskan alasan harus
mengolah sampah basah yakni sebagai
salah satu upaya untuk menghambat
lajunya pemanasan global. ”Kalian
tahu bahwa gas
Metana
yang keluar dari sampah basah
merupakan salah satu gas rumah kaca
yang dapat mencegah sinar matahari
untuk keluar dari
Bumi,”
ujarnya. Gas
Metana,
lanjut Zulfi, kuat menangkap panas
lebih besar dari pada CO2 yakni
sekitar 25 kali panas yang ditangkap
oleh CO2.
Setelah pembahasan singkat tentang
cara pengolahan sampah basah
dan
alasan mengolah sampah basah, para
finalis pangeran puteri lingkungan
hidup Malang
raya
setelah selesai makan tanpa
dikomandoi lagi langsung memasukkan
sisa makanan mereka
ke dalam komposter yang sudah
disiapkan. ”Alhamdulillah adik-adik
sudah bisa mengolahnya.
Semoga
ini juga diterapkan tidak hanya di
sini tetapi juga di rumah dan di
sekolah mereka masing-masing,” ujar
Direktur Pangeran Puteri Malang Raya
Nizam Wahyu Ardika.
(det)